Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Cara Menghadapi Serangan Ad Hominem saat Berdebat

4 min read
4 Cara Menghadapi Serangan Ad Hominem saat Berdebat
ilustrasi ad hominem, si toksik tongkrongan (pexels.com/Liza Summer)
  • Ad hominem adalah sesat pikir yang menyerang karakter, fisik, atau latar belakang pribadi lawan bicara untuk mengalihkan fokus dari argumen utama.
  • Serangan personal dapat dipicu ego terancam, kurangnya wawasan, budaya hinaan, serta media sosial; dampaknya meliputi insecure, hilang kepercayaan diri, dan hubungan sosial toksik.
  • Hadapi dengan tetap tenang, arahkan kembali ke topik, tetapkan batasan, dan tinggalkan percakapan bila serangan personal terus berlanjut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lagi asyik berdiskusi atau debat soal suatu topik, tapi tiba-tiba lawan bicaramu malah menyerang fisik, latar belakang, atau hal personal yang sama sekali gak ada hubungannya. Nah, situasi menyebalkan seperti ini sering ditemui, baik di dunia nyata maupun saat lagi scroll kolom komentar media sosial. Nah, jurus ngeles yang suka dipakai orang buat menyerang karakter pribadi ini disebut dengan ad hominem.

Kalau kebiasaan ini dibiarkan, kamu bisa terus-terusan jadi korban manipulasi orang yang sebenarnya cuma kehabisan argumen logis. Kondisi ini jelas bikin kamu gampang overthinking dan merasa insecure, padahal bukan kamu yang salah dalam perdebatan tersebut. Biar kamu gak gampang kena mental saat menghadapi orang model begini, yuk bedah satu-satu dan mulai terapkan trik jitunya sekarang juga!


  1. 1. Apa itu ad hominem?

    ilustrasi ad hominem memiliki logical fallacy untuk menyerang karakter lawan bicara
    ilustrasi ad hominem memiliki logical fallacy untuk menyerang karakter lawan bicara (pexels.com/Polina Zimmerman)

    Secara sederhana, ad hominem adalah sesat pikir atau logical fallacy di mana seseorang menyerang karakter, fisik, atau kepribadian lawan bicaranya, bukan membalas argumen yang sedang dibahas. Misalnya, kamu lagi memberikan kritik membangun soal program kerja di kampus, tapi temanmu malah meremehkan pendapatmu. Alhasil, pendapatmu jadi gak dianggap sama orang lain.  

    Bahaya dari taktik ini adalah kemampuannya buat membelokkan fokus dari topik asli menuju drama personal yang sama sekali gak penting. Orang yang sering pakai trik ini biasanya merasa terpojok dan gak punya data valid buat mempertahankan pendapat mereka sendiri. Akhirnya, perdebatan yang tadinya bisa jadi diskusi sehat malah berubah jadi ajang roasting, kan?


  2. 2. Kenapa hal ini bisa terjadi?

    ilustrasi ad hominem bisa terbentuk dari lingkungan yang melakukan body shamming dari kecil
    ilustrasi ad hominem bisa terbentuk dari lingkungan yang melakukan body shamming dari kecil (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Ada banyak faktor yang bikin seseorang memilih jalan pintas buat menyerang pribadi orang lain saat lagi beda pendapat. Dari sisi internal, ini sering kali muncul sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) karena ego mereka terluka atau merasa terancam dengan fakta yang kamu sampaikan. Selain itu, kurangnya wawasan dan ketidakmampuan buat berpikir kritis juga bikin otak mereka lebih gampang merespons dengan emosi ketimbang logika.

    Faktor eksternal dari lingkungan dan budaya juga memberikan pengaruh dalam membentuk kebiasaan buruk yang satu ini. Kalau dari kecil seseorang tumbuh di lingkungan yang memaklumi body shaming atau hinaan sebagai bahan candaan, mereka bakal berpikir kalau menyerang personal itu sah-sah aja. Apalagi di era media sosial sekarang, algoritma sering memberikan panggung buat orang-orang yang suka nyinyir, sehingga kebiasaan toksik ini makin diwajarkan.


  3. 3. Dampak bagi kesehatan mental dan hubungan

    ilustrasi tidak percaya diri (unsplash.com/Priscilla Du Preez)
    ilustrasi tidak percaya diri (unsplash.com/Priscilla Du Preez)

    Efek jangka pendek dari sering menerima serangan personal ini pastinya bikin kamu merasa kesal, marah, dan mood langsung hancur seketika. Buat kamu yang mungkin memiliki hati sensitif, kalimat jahat yang keluar dari lawan bicara bisa terus terngiang-ngiang dan bikin kamu mendadak insecure. Kalau hal ini terus terjadi secara berulang, kamu bisa kehilangan kepercayaan diri dan mulai meragukan value yang ada di dalam dirimu, lho.

    Sementara itu buat efek jangka panjangnya, hubungan sosial dan pertemanan bisa rusak parah karena gak ada lagi rasa saling menghargai. Kamu bakal pelan-pelan menarik diri dari lingkungan tongkrongan karena capek secara mental kalau harus terus-terusan menghadapi drama. Hubungan yang tadinya sehat bisa berubah jadi toksik, dan pada akhirnya kamu bakal kehilangan momen buat sekadar bertukar pikiran dengan nyaman dan aman.


  4. 4. Cara menyikapi atau mengatasinya

    ilustrasi tetap tenang saat lawan bicaramu memancing emosimu
    ilustrasi tetap tenang saat lawan bicaramu memancing emosimu (pexels.com/Timur Weber)

    Kenapa buang energi untuk meladeni orang yang dari awal memang gak niat buat diskusi secara sehat dan logis, sih? Daripada kamu ikut-ikutan jadi toksik atau malah kena mental sendiri, mending kamu mulai belajar cara merespons yang elegan. Coba langsung praktikkan beberapa life hacks simpel ini biar kamu tetap kelihatan berkelas dan gak gampang terpancing emosi!

    • Tetap kalem dan jangan kepancing
      Tujuan utama mereka menyerang karaktermu adalah untuk memancing emosi supaya kamu kehilangan fokus. Tarik napas panjang, tetap pasang wajah tenang, dan jangan pernah balas menyerang hal pribadinya.
    • Balikkan fokus ke topik utama
      Kalau dia mulai bahas fisik atau latar belakang, kamu bisa langsung potong dengan tegas dan kembali ke inti obrolan. Coba pakai kalimat santai seperti, "Kayaknya itu gak ada hubungannya, kita balik bahas solusi masalah tadi saja, ya."
    • Buat batasan yang jelas
      Kamu mempunyai hak penuh buat melindungi kesehatan mentalmu dari omongan yang menyudutkan. Beri tahu mereka kalau kamu gak nyaman dan gak bakal meneruskan obrolan kalau mereka masih pakai cara kotor.
    • Tinggalkan kalau udah makin parah
      Terkadang kemenangan terbaik dari sebuah perdebatan adalah dengan cara memilih buat pergi begitu saja. Kalau lawan bicaramu sudah mulai ngawur dan cuma mau menang sendiri, langsung saja tinggalkan karena berdebat sama muka tembok itu gak ada gunanya.

    Menghadapi orang yang suka pakai jurus ad hominem memang butuh kesabaran ekstra dan mental yang kuat. Ingatlah kalau serangan mereka itu sebenarnya mencerminkan isi kepala mereka sendiri, bukan tentang siapa kamu sebenarnya. Tetaplah jadi dirimu yang kritis dan logis, karena kamu terlalu berharga buat meladeni drama yang gak penting ini, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More