Ilustrasi pacaran di sekolah (pexels.com/Tubagus Alief Leo)
Jatuh cinta saat remaja memang manis, apalagi ketika kita bicara tentang cinta pertama. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa terkadang kenyataan yang terjadi tak selalu sesuai rencana. Perjalanan cinta yang penuh kasih sayang, bisa saja berubah menjadi bencana.
Carl menegaskan, terkadang remaja yang sedang jatuh cinta suka memproyeksikan sifat-sifat ideal pada orang lain yang belum tentu dikenal dengan baik. Saat naksir seseorang, mereka akan berharap kisah cintanya berjalan sebagaimana angan-angannya. Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya, emosi dan kekecewaan itu bisa meledak.
"Sekarang idealisasi itu mengintensifkan emosi dengan campuran kuat antara kegembiraan karena ketertarikan dan kecemasan akan hasilnya," lanjut Carl.
Patah hati memang menyisakan rasa sakit dan trauma, tapi tetap ada sisi positif di sana. Masa remaja adalah bagian pembelajaran terbesar dalam rentang usia seseorang. Wajar saja, jika pada usia ini mereka masih kesulitan mengendalikan emosi. Akan tetapi, pengalaman percintaan dari mulai romantis hingga tragis, bisa menjadi pembelajaran hidup yang akan berguna di kemudian hari.
Gelora asmara di usia remaja memang penuh warna. Memiliki crush di sekolah bisa membawa dampak positif, tak hanya dari segi akademi, tapi juga melatih ketahanan mental remaja. Jadi, tak perlu takut mengakui jika kamu sedang naksir seseorang di sekolah. Jadikan perasaanmu itu sebagai bahan bakar semangat untuk menjadi lebih rajin belajar dan menjadi versi dirimu yang lebih baik. Niscaya, kamu akan mendapatkan pasangan yang setara.