Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Tanda Anak Mulai Membutuhkan Privasi, Orangtua Harus Paham!

ilustrasi ibu dan anak
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Intinya sih...
  • Anak mulai menutup pintu kamar pada saat beraktivitas, menandakan keinginan akan ruang pribadi dan pengelolaan perasaan tanpa intervensi orang lain.
  • Anak tidak ingin selalu didampingi, menunjukkan keinginan untuk mengambil keputusan mandiri dan dipercaya oleh orangtua.
  • Anak lebih selektif dalam berbagi cerita, menandakan proses pembentukan identitas dan pengelolaan emosi yang wajar.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sering bertambahnya usia, anak mulai membentuk identitas diri dan memerlukan ruang pribadi untuk mengelola pikirannya. Proses ini merupakan bagian alami dari perkembangan emosional dan sosial yang akan membantu mereka untuk mandiri, serta memahami batasan dalam hubungan.

Banyak orangtua mungkin tidak menyadari bahwa kebutuhan privasi tidak selalu menunjukkan sikap menjauh, namun menandakan kematangan anak dalam mencoba mengenal dirinya sendiri. Ketahuilah beberapa tanda berikut ini yang menunjukkan bahwa anak mulai membutuhkan privasi, sehingga perlu dipahami oleh orangtua.

1. Anak mulai menutup pintu kamar pada saat beraktivitas

ilustrasi anak sedang belajar
ilustrasi anak sedang belajar (pexels.com/August de Richelieu)

Pada saat anak mulai rutin menutup pintu kamar pada saat belajar, bermain, atau beristirahat, maka itu menandakan bahwa ia ingin ruang yang lebih bebas tanpa pengawasan langsung. Perilaku ini pada umumnya muncul pada usia tertentu ketika anak sudah mulai memahami terkait batasan antara ruang pribadi dan ruang keluarga.

Kebiasaan yang ditunjukkan anak juga menjadi tanda bahwa ia sedang belajar mengelola perasaannya sendiri tanpa intervensi dari orang lain. Orangtua bisa menghormati kebiasaan ini sambil tetap memastikan bahwa komunikasi dengan anak terjalin dengan terbuka.

2. Anak tidak ingin selalu didampingi

ilustrasi anak marah
ilustrasi anak marah (pexels.com/RDNE Stock project)

Beberapa anak mungkin mulai merasa kurang nyaman jika orangtua selalu mendampingi mereka dalam berbagai hal yang sifatnya personal. Hal ini menunjukkan bahwa anak mulai belajar dalam mengambil keputusan kecil secara mandiri dan ingin dipercaya.

Anak mungkin sudah mulai memberi isyarat halus dengan meminta orangtua menunggu di luar atau tidak ingin komentarnya terlalu dicampuri. Respon yang tepat dari orangtua adalah memberikan ruang secukupnya bagi anak sambil tetap membantu mereka apabila diperlukan.

3. Anak lebih selektif dalam berbagi cerita

ilustrasi anak dan ibunya
ilustrasi anak dan ibunya (pexels.com/Antoni Shkraba)

Pada saat anak mulai memilah informasi yang ingin dibagikan pada orangtua, maka ini menandakan proses perkembangan yang wajar. Anak sedang mempelajari terkait batasan mengenai apa yang ingin disampaikan dan apa yang ingin disimpan sendiri.

Sikap selektif ini bukan berarti anak menyembunyikan sesuatu yang buruk, namun merupakan bagian dari proses pembentukan identitas, serta pengelolaan emosinya. Orangtua bisa memberikan respon yang sportif dengan tetap berusaha membuka ruang percakapan tanpa memaksa anak untuk bercerita.

4. Anak mulai terganggu pada saat privasinya diabaikan

ilustrasi anak marah
ilustrasi anak marah (pexels.com/RDNE Stock project)

Jika anak menunjukkan ketidaksenangan pada saat barangnya digerakkan tanpa izin atau ketika orangtua memasuki ruang pribadinya secara tiba-tiba, maka merupakan tanda jelas bahwa ia sedang menetapkan batasannya. Perasaan tidak nyaman ini seolah menunjukkan bahwa anak ingin dihargai sebagai individu yang memiliki hak atas ruang pribadinya.

Pada saat orangtua merespon dengan menghormati batasan tersebut, maka anak akan merasa lebih dipercaya. Kebiasaan ini akan mendukung perkembangan rasa tanggung jawab anak terhadap ruang dan barang-barang miliknya.

Memahami bahwa anak memerlukan privasi merupakan langkah penting dalam mendukung perkembangan emosional dan juga kemandiriannya. Setidaknya jika orangtua bisa menghormati batasan yang ada, maka dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak. Memberikan ruang bukan berarti menjauh, namun berusaha memberikan kesempatan bagi anak untuk bisa tumbuh dengan lebih mandiri dan penuh tanggung jawab.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

3 Tanda Hubungan Masih Bertahan tapi Sudah Tidak Lagi Menguatkan

08 Jan 2026, 21:15 WIBLife