Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Menangani Konflik yang Wajib Diajarkan pada Remaja

ilustrasi seorang ayah dan anak (pexels.com/cottonbro)
ilustrasi seorang ayah dan anak (pexels.com/cottonbro)

Masa remaja adalah periode penuh perubahan yang sering kali memicu konflik, baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Perubahan emosi, cara berpikir, dan kebutuhan akan kemandirian membuat remaja rentan mengalami gesekan. Karena itu, keterampilan menangani konflik perlu diajarkan sejak dini agar mereka tumbuh lebih siap menghadapi tantangan sosial.

Tanpa bekal yang tepat, konflik bisa berdampak pada kesehatan mental dan hubungan jangka panjang. Sebaliknya, cara menyelesaikan konflik yang sehat dapat membantu remaja menjadi pribadi yang lebih dewasa. Berikut cara menangani konflik yang wajib diajarkan pada remaja.

1. Mengajarkan remaja mengenali emosi diri sendiri

ilustrasi seorang ayah sedang menasehati anak-anaknya (pexels.com/timamiroshnichenko)
ilustrasi seorang ayah sedang menasehati anak-anaknya (pexels.com/timamiroshnichenko)

Langkah awal menangani konflik adalah membantu remaja memahami apa yang mereka rasakan. Emosi yang tidak dikenali sering kali membuat remaja bereaksi secara impulsif. Dengan mengenali emosi, mereka bisa belajar mengontrol respons sebelum konflik membesar.

“Banyak pengalaman yang dialami remaja merupakan hal yang wajar. Perubahan yang terjadi begitu besar sehingga kerap terasa sangat kuat secara emosional,” jelas Joseph Laino, PsyD, psikolog dan Asisten Profesor Klinis Psikiatri di NYU Langone, dikutip dari Parents.

Menurut Joseph Laino, keterampilan mengenali emosi sendiri penting di masa remaja. Ia menerangkan bahwa, adanya keterampilan resolusi konflik dapat membantu remaja menavigasi masa remaja yang penuh gejolak. Ia menekankan bahwa perubahan emosional pada remaja adalah hal normal, tetapi tetap perlu diarahkan.

2. Melatih remaja mengambil jeda saat emosi memuncak

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/kindelmedia)
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/kindelmedia)

Tidak semua konflik harus diselesaikan saat itu juga. Remaja perlu diajarkan bahwa mengambil jeda adalah bentuk kontrol diri, bukan tanda kekalahan. Menenangkan diri memberi ruang untuk berpikir lebih jernih.

Dengan berhenti sejenak, remaja bisa menurunkan intensitas emosi yang sedang memuncak. Setelah lebih tenang, mereka akan lebih siap mendengarkan dan berbicara secara rasional. Cara ini membantu konflik tidak berkembang menjadi pertengkaran yang lebih besar.

3. Mengajarkan komunikasi sehat tanpa menyalahkan

ilustrasi ibu dan anak sedang makan bersama (pexels.com/cottonbro)
ilustrasi ibu dan anak sedang makan bersama (pexels.com/cottonbro)

Remaja juga perlu belajar menyampaikan perasaan dengan cara yang tidak menyudutkan orang lain. Salah satu caranya adalah menggunakan kalimat yang berfokus pada perasaan diri sendiri, bukan menyalahkan pihak lain. Pendekatan ini membuat komunikasi lebih terbuka dan aman.

Joseph Laino juga menjelaskan bahwa konflik adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang remaja. Pengalaman tersebut umum dialami dan tidak perlu dihindari. Dengan komunikasi yang sehat, konflik bisa dibahas tanpa merusak hubungan.

4. Membiasakan remaja mencari solusi bersama

ilustrasi seorang ayah dan anak (pexels.com/cottonbro)
ilustrasi seorang ayah dan anak (pexels.com/cottonbro)

Menangani konflik bukan tentang siapa yang benar atau salah. Remaja perlu dibiasakan untuk mencari jalan keluar yang menguntungkan semua pihak. Proses ini membantu mereka belajar bernegosiasi dan berkompromi.

Ketika dilibatkan dalam pencarian solusi, remaja merasa dihargai dan didengar. Hal ini juga mengajarkan mereka tanggung jawab atas keputusan yang diambil. Kemampuan ini sangat berguna dalam kehidupan sosial dan profesional di masa depan.

5. Mengajarkan fokus pada solusi, bukan serangan pribadi

ilustrasi anak sedang  marah (pexels.com/mikhailnilov)
ilustrasi anak sedang marah (pexels.com/mikhailnilov)

Remaja perlu memahami bahwa konflik seharusnya tidak berubah menjadi serangan personal. Fokus utama adalah menyelesaikan masalah, bukan meluapkan emosi. Pendekatan ini membuat konflik lebih mudah dikendalikan.

Pendekatan ini dinilai efektif oleh para ahli. Dikutip dari Parents, Christopher Lynch, PhD, psikolog dan Direktur Pediatric Behavioral Medicine di Goryeb Children’s Hospital, menyebut fokus pada solusi dapat meredakan ketegangan.

“Keterampilan ini berhasil karena menunjukkan bahwa kamu tidak sedang menyerang orang lain secara langsung,” jelas Lynch. “Cara ini membuat semua pihak merasa lebih aman dan dihargai,” tambahnya.

Mengajarkan cara menangani konflik pada remaja adalah investasi penting bagi kesehatan mental mereka. Dengan mengenali emosi, berkomunikasi sehat, dan fokus pada solusi, remaja bisa menghadapi konflik dengan lebih dewasa. Keterampilan ini menjadi bekal berharga untuk membangun hubungan yang sehat ke depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

10 Contoh Cerita Liburan Tahun Baru 2026, Mengasyikkan!

09 Jan 2026, 14:03 WIBLife