Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hal yang Sebaiknya Tidak Dipaksakan di Tahun Ajaran Baru
ilustrasi tahun ajaran baru (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Orangtua disarankan memberi waktu bagi anak untuk beradaptasi di awal tahun ajaran tanpa menuntut cerita atau hasil instan.

  • Perubahan kebiasaan belajar dan pemilihan kegiatan sekolah sebaiknya dilakukan bertahap agar anak tidak merasa terbebani.

  • Mendengarkan keluhan anak dengan sabar tanpa tergesa memberi solusi membantu mereka merasa aman dan lebih siap menghadapi sekolah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tahun ajaran baru sering membuat orang tua ikut bersemangat. Tas baru sudah disiapkan, perlengkapan sekolah sudah lengkap, bahkan banyak yang mulai menyusun target agar anak menjalani tahun ajaran dengan lebih baik dari sebelumnya. Harapan seperti ini tentu wajar karena setiap orang tua ingin melihat anak berkembang.

Namun, tidak semua harapan perlu diwujudkan secepat mungkin. Ada beberapa hal yang justru lebih baik dibiarkan berjalan secara bertahap agar anak memiliki waktu untuk menyesuaikan diri. Ketika prosesnya tidak terburu-buru, anak biasanya lebih mudah menikmati sekolah tanpa merasa dibebani oleh ekspektasi yang sebenarnya tidak mereka sadari. Supaya proses adaptasi anak terasa lebih gampang, simak beberapa hal yang sebaiknya tidak dipaksakan di awal tahun ajaran berikut ini.

1. Cerita panjang tentang sekolah belum tentu langsung diceritakan pada minggu pertama

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Vitaly Gariev)

Sepulang sekolah, banyak orang tua sudah menyiapkan berbagai pertanyaan karena penasaran dengan pengalaman anak di kelas baru. Sayangnya, jawaban yang muncul sering hanya, "Seru," "Biasa aja," atau sekadar mengangguk. Situasi ini kadang membuat orang tua merasa anak tidak menikmati sekolahnya.

Padahal, banyak anak memang membutuhkan waktu untuk mencerna pengalaman baru sebelum mampu menceritakannya. Setelah mulai mengenal lingkungan dan merasa lebih nyaman, cerita tentang guru, teman, atau kejadian lucu di kelas biasanya akan mengalir dengan sendirinya. Memberi ruang seperti ini sering kali lebih efektif daripada terus mengejar jawaban setiap hari.

2. Cara belajar baru tidak harus langsung diterapkan sekaligus

ilustrasi belajar (pexels.com/ www.kaboompics.com)

Tahun ajaran baru sering menjadi momen untuk memperbaiki kebiasaan belajar anak. Ada yang mulai membuat jadwal belajar lebih ketat, membeli berbagai buku latihan soal, atau menetapkan target belajar setiap malam. Niatnya memang baik, tetapi perubahan yang datang tiba-tiba bisa terasa melelahkan bagi anak yang masih beradaptasi dengan sekolah.

Lebih baik lihat dulu bagaimana ritme belajar anak selama beberapa minggu pertama. Setelah mulai memahami jadwal pelajaran dan tugas-tugasnya, barulah kebiasaan baru ditambahkan secara bertahap. Perubahan kecil yang konsisten biasanya lebih mudah dijalankan daripada langsung memaksa mereka mengikuti aturan yang kita tetapkan sebagai orangtua.

3. Pilihan ekstrakurikuler tidak perlu diputuskan secepat mungkin

ilustrasi ekstrakurikuler (pexels.com/RDNE Stock project)

Awal semester biasanya diikuti dengan pendaftaran berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Pilihannya beragam sehingga tidak sedikit orang tua yang ingin anak segera menentukan kegiatan yang dianggap paling bermanfaat. Padahal, anak belum tentu sudah mengenal semua aktivitas yang ditawarkan sekolah.

Tidak ada salahnya memberi kesempatan kepada anak untuk mencari tahu lebih dulu. Mereka bisa mendengar cerita dari kakak kelas, melihat demonstrasi kegiatan ekstrakurikuler, atau melakukan percobaan jika sekolah menyediakannya. Dengan begitu, keputusan yang diambil lebih sesuai dengan minat anak, bukan sekadar mengikuti tren atau pilihan teman.

4. Penilaian terhadap guru tidak cukup dibuat dari cerita satu hari

ilustrasi guru (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Hari-hari pertama sekolah sering dipenuhi cerita yang masih sepotong-sepotong. Anak bisa mengatakan gurunya galak karena sempat ditegur atau merasa pelajarannya sulit karena belum terbiasa. Cerita tersebut memang layak didengarkan, tetapi belum tentu menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

Orang tua sebaiknya memberi waktu agar anak mengenal gurunya lebih dulu. Setelah beberapa minggu, biasanya anak mulai memahami cara guru mengajar, aturan di kelas, dan alasan di balik setiap kebiasaan yang diterapkan. Sudut pandang anak pun sering berubah seiring bertambahnya pengalaman di sekolah.

5. Semua keluhan anak tidak selalu membutuhkan solusi saat itu juga

ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Pada minggu-minggu awal sekolah, anak mungkin mengeluh capek, bingung, malu, atau merasa pelajarannya sulit. Mendengar hal tersebut, orang tua biasanya langsung ingin memberi saran atau mencari jalan keluar agar masalahnya cepat selesai. Padahal, belum tentu itu yang sedang dibutuhkan anak.

Sering kali anak hanya ingin didengarkan tanpa merasa dihakimi atau terburu-buru diberi nasihat. Setelah emosinya lebih tenang, mereka biasanya lebih siap berdiskusi dan menerima masukan. Cara sederhana ini membantu anak merasa bahwa rumah tetap menjadi tempat yang aman untuk bercerita selama menjalani masa adaptasi.

Tahun ajaran baru bukan hanya masa penyesuaian bagi anak, tetapi juga bagi orang tua. Memberi waktu untuk setiap proses sering kali jauh lebih bermanfaat daripada ingin melihat semuanya berjalan sempurna sejak awal. Ketika ekspektasi dikelola dengan lebih tenang, anak pun memiliki ruang untuk tumbuh sesuai dengan kebutuhan dan kecepatannya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article