Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak Baik di Sekolah tapi Tantrum di Rumah, Ini 5 Alasannya!
ilustrasi cara menghadapi tantrum anak autis (pexels.com/Keira Burton)
  • Anak bisa tantrum di rumah setelah seharian mengendalikan emosi, mengikuti aturan, dan menghadapi tuntutan sekolah yang menguras energi mental.

  • Rumah kerap menjadi ruang aman untuk meluapkan emosi; orangtua tetap perlu menetapkan batasan sambil membantu anak mengenali perasaannya.

  • Lapar, lelah, stimulasi berlebihan, kesulitan mengungkapkan perasaan, dan kebutuhan perhatian emosional dapat memicu tantrum setelah sekolah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah mendapat laporan dari guru bahwa anak berperilaku baik di sekolah, tetapi justru sering menangis, marah, atau mengamuk ketika sudah berada di rumah? Situasi ini bisa membuat orangtua bingung.

Kondisi ini gak selalu berarti anak sengaja berperilaku buruk di rumah atau lebih menghormati gurunya daripada orangtua. Lantas, kenapa anak bisa berperilaku baik di sekolah, tetapi tantrum di rumah? Berikut 5 alasannya!

1. Anak sudah lelah mengendalikan emosi sepanjang hari

Ilustrasi mengamati parenting lintas generasi (pexels.com/Karola G)

Selama berada di sekolah, anak perlu mengikuti instruksi guru, menunggu giliran, menyelesaikan tugas, dan berinteraksi dengan teman-temannya. Ia juga perlu belajar mengendalikan rasa kesal ketika menghadapi kesulitan atau ketika keinginannya gak terpenuhi. Semua aktivitas ini membutuhkan energi mental dan emosional.

Menurut Child Mind Institute dalam artikel Why Are Kids Different at Home and at School?, sebagian anak menghabiskan banyak energi untuk mengikuti arahan dan menghadapi tuntutan di kelas. Psikolog klinis Stephanie A. Lee, PsyD, menjelaskan bahwa setelah sampai di rumah, anak mungkin kesulitan mengerahkan energi yang sama untuk mengelola perilakunya.

Akibatnya, hal kecil yang biasanya bisa dihadapi dengan tenang justru memicu ledakan emosi. Anak bisa menangis karena makanan yang disajikan gak sesuai keinginannya atau marah ketika diminta melakukan sesuatu. Dalam kondisi ini, orangtua bisa memberikan waktu bagi anak untuk beristirahat sebelum mengajaknya melakukan aktivitas lain.

2. Rumah menjadi tempat anak merasa aman untuk meluapkan emosi

ilustrasi parenting (pixabay.com/StockSnap)

Anak mungkin berusaha menahan tangis atau rasa kesalnya ketika berada di sekolah karena harus mengikuti aturan dan menjaga perilaku di depan guru maupun teman. Namun, ketika sampai di rumah, ia berada di lingkungan yang lebih akrab dan bersama orang-orang yang membuatnya merasa aman.

"Saya rasa terkadang anak-anak pulang ke rumah dan rasanya seperti melepas sepatu lalu merasakan kelegaan. Seperti, 'Oke, sekarang saya bisa menjadi diri saya sendiri,” jelas Dr. Bubrick, psikolog klinis, dalam artikel Why Are Kids Different at Home and at School? dari Child Mind Institute.

Meski begitu, bukan berarti orangtua perlu membiarkan semua perilaku anak. Orangtua tetap bisa memberikan batasan sambil membantu anak memahami emosinya. Misalnya, ketika anak marah dan berteriak, orangtua bisa mengakui bahwa ia sedang kesal, tetapi tetap menjelaskan bahwa berteriak atau menyakiti orang lain bukan cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaan.

3. Anak terlalu lelah, lapar, atau mengalami stimulasi berlebihan

ilustrasi parenting (magnific.com/freepik)

Tantrum setelah pulang sekolah juga bisa berkaitan dengan kebutuhan fisik yang belum terpenuhi. Anak mungkin belum makan cukup, merasa haus, mengantuk, atau kelelahan setelah mengikuti berbagai aktivitas. Ketika tubuhnya sudah lelah, kemampuan untuk menghadapi rasa frustrasi juga bisa menurun.

"Anak-anak yang lebih sensitif dan intens akan lebih mudah terpengaruh. Otak mereka mengalami kelebihan beban (overload). Ketika pulang, semua stimulasi yang tertahan itu runtuh karena korteks prefrontal mereka—bagian otak yang mengatur kontrol diri—sudah benar-benar kelelahan setelah seharian dipaksa fokus," tulis Robyn Koslowitz, Psikolog Klinis, dalam artikel berjudul Dealing With After-School Restraint Collapse? 5 Ways to Help, yang diterbitkan Psychology Today.

Ia juga menyarankan orangtua memperhatikan kebutuhan dasar anak, termasuk makanan dan istirahat, untuk membantu mengurangi ledakan emosi setelah sekolah. Karena itu, sebelum meminta anak mengerjakan PR atau melakukan pekerjaan rumah, berikan kesempatan untuk makan camilan, minum, dan beristirahat terlebih dahulu.

4. Anak kesulitan mengungkapkan perasaan dengan kata-kata

ilustrasi memberikan pelukan yang hangat pada anak tantrum (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Anak belum selalu memiliki kemampuan untuk memahami dan menjelaskan perasaannya secara tepat. Ia mungkin merasa kecewa karena bertengkar dengan teman, malu karena melakukan kesalahan di kelas, atau cemas menghadapi tugas yang sulit. Namun, ketika ditanya apa yang terjadi, anak belum tentu bisa menjelaskan penyebab emosinya.

"Anak-anak belum memiliki arsitektur otak yang matang untuk mengubah perasaan abstrak seperti kecemasan akademis atau penolakan sosial menjadi sebuah penjelasan verbal yang runtut. Akibatnya, alih-alih keluar dalam bentuk kata-kata, emosi tersebut keluar dalam bentuk perilaku," papar psikolog klinis Dr. Zia Lakdawalla dalam artikel How to Decode Your Child’s Emotional Messages yang diterbitkan Foundation For Emotional Wellness.

Orangtua bisa mencoba memahami penyebab di balik perilaku tersebut sebelum langsung memarahinya. Berikan waktu bagi anak untuk menenangkan diri dan mengungkapkan perasaannya tanpa paksaan. Dengan begitu, anak perlahan belajar mengenali emosinya dan menemukan cara yang lebih tepat untuk menyampaikan apa yang dirasakan.

5. Anak membutuhkan perhatian emosional dari orangtua

Ilustrasi parenting (pexels.com/Anna Shvets)

Selama di sekolah, perhatian anak terbagi antara guru, pelajaran, dan teman-temannya. Ketika pulang, ia mungkin ingin mendapatkan perhatian penuh dari orangtua, terutama setelah menjalani hari yang melelahkan. Namun, anak belum tentu bisa menyampaikan kebutuhan tersebut secara langsung.

"Anak-anak membutuhkan koneksi emosional penuh begitu pulang untuk mengisi kembali tangki kedekatan mereka yang kosong setelah seharian terbagi fokusnya di sekolah," tulis Dr. Tiffany Beks, PhD, R.Psych, psikolog klinis, dalam artikel berjudul After School Restraint Collapse: Understanding and Supporting Children Through the Post-School Meltdown di website pribadinya.

Cobalah menyediakan waktu khusus untuk berinteraksi dengan anak setelah pulang sekolah. Orangtua bisa mengajaknya bermain, membaca buku bersama, atau mendengarkan ceritanya tanpa terdistraksi oleh ponsel. Perhatian yang konsisten dapat membantu anak merasa terhubung secara emosional, sehingga ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk menyampaikan kebutuhannya dengan cara yang sehat.

Itu tadi alasan kenapa anak bisa baik di sekolah tapi tantrum di rumah. Perlu diingat, jika tantrum terjadi sangat sering, berlangsung lama, membahayakan anak atau orang lain, atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog anak atau tenaga kesehatan profesional, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article