Ilustrasi parenting (pexels.com/Anna Shvets)
Selama di sekolah, perhatian anak terbagi antara guru, pelajaran, dan teman-temannya. Ketika pulang, ia mungkin ingin mendapatkan perhatian penuh dari orangtua, terutama setelah menjalani hari yang melelahkan. Namun, anak belum tentu bisa menyampaikan kebutuhan tersebut secara langsung.
"Anak-anak membutuhkan koneksi emosional penuh begitu pulang untuk mengisi kembali tangki kedekatan mereka yang kosong setelah seharian terbagi fokusnya di sekolah," tulis Dr. Tiffany Beks, PhD, R.Psych, psikolog klinis, dalam artikel berjudul After School Restraint Collapse: Understanding and Supporting Children Through the Post-School Meltdown di website pribadinya.
Cobalah menyediakan waktu khusus untuk berinteraksi dengan anak setelah pulang sekolah. Orangtua bisa mengajaknya bermain, membaca buku bersama, atau mendengarkan ceritanya tanpa terdistraksi oleh ponsel. Perhatian yang konsisten dapat membantu anak merasa terhubung secara emosional, sehingga ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk menyampaikan kebutuhannya dengan cara yang sehat.
Itu tadi alasan kenapa anak bisa baik di sekolah tapi tantrum di rumah. Perlu diingat, jika tantrum terjadi sangat sering, berlangsung lama, membahayakan anak atau orang lain, atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog anak atau tenaga kesehatan profesional, ya!