Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apa yang Harus Dilakukan jika Anak Jadi Korban Kekerasan?

Apa yang Harus Dilakukan jika Anak Jadi Korban Kekerasan?
Ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Ketika anak mengalami kekerasan, ini menjadi situasi paling berat bagi orangtua. Bukan hanya soal luka fisik, tetapi juga dampak emosional yang bisa bertahan lama. Anak yang jadi korban sering kali merasa takut, bingung, bahkan menyalahkan diri sendiri. Di momen seperti ini, respons orangtua sangat menentukan proses pemulihan mereka.

Sayangnya, tidak semua orangtua tahu harus bersikap seperti apa. Ada yang panik, ada yang marah, bahkan ada yang tanpa sadar justru memperburuk kondisi anak. Lalu apa yang harus dilakukan jika anak jadi korban kekerasan?

1. Tetap tenang dan pastikan anak aman

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Helena Lopes)
Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Helena Lopes)

Langkah pertama yang paling penting adalah memastikan keselamatan anak, baik secara fisik maupun emosional. Orangtua perlu menenangkan diri sebelum bereaksi, agar tidak membuat situasi semakin menegangkan.

Reaksi yang terlalu emosional seperti marah atau panik justru bisa membuat anak semakin takut untuk bercerita. Anak justru membutuhkan sosok yang stabil dan bisa memberi rasa aman. Rasa aman adalah fondasi pertama sebelum langkah lain dilakukan.

"Dengan menjaga kesehatan dan kesejahteraan emosional Anda sendiri, Anda akan lebih mampu memberikan pengaruh yang menenangkan dan lebih mampu membantu anak Anda," jelas Jeanne Segal, Ph.D., terapis dan psikologi dikutip dari Help Guide.

2. Dengarkan anak tanpa menghakimi atau menyalahkan

Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)

Saat anak mulai bercerita, dengarkan dengan penuh perhatian tanpa menyela atau mempertanyakan secara berlebihan. Ini adalah momen penting untuk membangun kepercayaan. Anak sering kali takut tidak dipercaya atau disalahkan. Kalimat seperti “kenapa kamu tidak melawan?” justru bisa membuat mereka menutup diri.

Sebaliknya, beri respon yang menenangkan seperti “terima kasih sudah cerita” atau “ini bukan salah kamu.” Hal sederhana ini bisa sangat membantu proses penyembuhan.

"Izinkan mereka untuk berduka atas kehilangan apa pun. Beri anak waktu untuk sembuh dan berduka atas kehilangan yang mungkin mereka alami," kata Jeanne.

3. Validasi perasaan anak dan beri dukungan emosional

Ilustrasi mengasuh anak (pexels.com/www.kaboompics.com)
Ilustrasi mengasuh anak (pexels.com/www.kaboompics.com)

Setelah anak bercerita, penting untuk mengakui perasaan mereka. Jangan langsung mencoba memperbaiki keadaan, tetapi fokus pada emosi yang sedang mereka rasakan. Anak mungkin merasa takut, marah, sedih, atau bahkan bingung.

"Dorong anak untuk berbagi perasaan mereka secara terbuka. Beri tahu mereka bahwa perasaan apa pun yang mereka alami adalah normal," kata Jeanne.

Semua emosi itu wajar. Dengan validasi, anak belajar bahwa perasaan mereka diterima. Penelitian dalam jurnal Journal of Interpersonal Violence juga menunjukkan bahwa dukungan emosional dari orangtua berperan besar dalam mengurangi dampak trauma jangka panjang.

4. Bangun kembali rasa aman dan kepercayaan anak

Ilustrasi ibu dan anak (unsplash.com/Photo by Xavier Mouton Photographie)
Ilustrasi ibu dan anak (unsplash.com/Photo by Xavier Mouton Photographie)

Setelah kejadian, anak mungkin kehilangan rasa aman terhadap lingkungan atau bahkan orang lain. Di sinilah peran orangtua untuk membangun kembali kepercayaan itu.

"Menetapkan struktur dan jadwal yang bisat diprediksi dalam kehidupan anak bisa membantu membuat dunia tampak lebih stabil kembali. Cobalah untuk mempertahankan waktu makan, mengerjakan PR, dan kegiatan keluarga secara teratur," kata Jeanne.

Proses ini membutuhkan waktu. Tidak ada penyembuhan instan, tetapi dengan konsistensi, anak bisa perlahan pulih dan kembali merasa aman.

5. Segera laporkan dan cari bantuan profesional

Ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/Tatiana Syrikova)
Ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Kekerasan terhadap anak bukan masalah yang bisa diselesaikan sendiri. Penting untuk melibatkan pihak berwenang dan tenaga profesional. Selain pelaporan, bantuan dari psikolog atau terapis anak sangat penting.

Mereka memiliki metode khusus untuk membantu anak memproses trauma. Melibatkan pihak profesional berarti orangtua menciptakan bentuk perlindungan terbaik.

"Jika reaksi stres traumatis begitu intens hingga mengganggu kemampuan anak di sekolah atau di rumah, atau jika gejalanya tidak memudar atau bahkan memburuk seiring waktu, mereka mungkin membutuhkan bantuan dari profesional kesehatan mental," saran Jeanne.

Dengan tetap tenang, mendengarkan tanpa menghakimi, memberi dukungan emosional, serta melibatkan bantuan profesional, orangtua bisa menjadi sumber kekuatan utama bagi anak. Dari situ, anak belajar bahwa meskipun mereka pernah mengalami hal buruk, mereka tidak sendirian dan masih punya tempat yang aman untuk kembali.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

5 Tugas Product Manager yang Sering Disalahpahami Rekan Kantor

01 Mei 2026, 09:32 WIBLife