Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa yang Harus Disiapkan Keluarga untuk Hadapi Bencana?
ilustrasi bencana alam di Indonesia (Pexels.com/ Read Once)
  • Cara membuat rencana evakuasi keluarga bisa dilakukan dengan menetapkan titik kumpul aman hingga pahami jalur evakuasi yang sesuai risiko lingkungan.

  • Selain itu, siapkan juga kontak utama keluarga, nomor layanan darurat, dan catatan nomor di tempat mudah dijangkau.

  • Tas siaga berisi kebutuhan penting perlu disesuaikan, diperiksa berkala, dan rencana evakuasi harus dilatih bersama agar anggota keluarga memahami tindakan darurat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak ada yang tahu kapan bencana akan terjadi. Gempa bumi, banjir, kebakaran, tsunami, hingga erupsi gunung api bisa datang sewaktu-waktu dan membuat keluarga harus bertindak cepat dalam situasi yang penuh kepanikan. Karena itu, penting menyiapkan rencana bersama keluarga sebelum keadaan darurat benar-benar terjadi.

Persiapan menghadapi bencana sebenarnya tidak harus rumit. Lantas, apa yang harus disiapkan keluarga untuk hadapi bencana? Yuk, simak langkah-langkahnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana keluarga melalui cara membuat rencana evakuasi keluarga berikut!

1. Tentukan titik kumpul keluarga

ilustrasi titik kumpul (unsplash.com/Jan Huber)

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan satu titik kumpul yang bisa menjadi tempat bertemu setelah semua anggota keluarga keluar dari rumah. Pilih lokasi yang mudah ditemukan dan cukup aman dari sumber bahaya. Misalnya, jangan memilih tempat yang terlalu dekat dengan bangunan, tiang listrik, pohon besar, atau benda lain yang bisa roboh. Kalau tinggal di daerah rawan tsunami, pilih titik kumpul yang berada di tempat lebih tinggi dan jauh dari pantai.

Setelah menentukan lokasinya, jangan lupa beri tahu semua anggota keluarga. Anak-anak juga perlu tahu tempat tersebut supaya mereka tidak bingung ketika harus menyelamatkan diri. Sebaiknya, siapkan juga jalur alternatif menuju titik kumpul karena jalan yang biasa dilewati bisa saja terhalang saat bencana terjadi.

2. Sepakati siapa yang harus dihubungi

ilustrasi nomor telepon (pexels.com/alexey)

Ketika bencana terjadi, komunikasi bisa menjadi sulit. Karena itu, keluarga perlu menyepakati siapa yang akan dihubungi terlebih dahulu. Pilih satu atau dua anggota keluarga sebagai kontak utama, lalu simpan nomor tersebut di ponsel setiap anggota keluarga.

Selain nomor keluarga, simpan juga nomor layanan darurat pemerintah yang bisa digunakan sesuai kondisi. Beberapa nomor penting yang perlu diketahui antara lain:

  • 112: layanan darurat terpadu di daerah yang sudah menerapkannya

  • 115: Basarnas untuk pencarian dan pertolongan

  • 117: Pusdalops BNPB untuk informasi dan koordinasi kebencanaan

  • 110: Kepolisian

  • 113: Pemadam Kebakaran

  • 119: layanan kegawatdaruratan kesehatan

Sebaiknya nomor-nomor tersebut tidak hanya disimpan di kontak HP. Tulis juga di kertas dan letakkan di tempat yang mudah ditemukan, misalnya dekat pintu atau meja keluarga. Dengan begitu, nomor tetap bisa diakses ketika ponsel kehabisan baterai atau mengalami kerusakan.

3. Tentukan lokasi bertemu jika komunikasi terputus

ilustrasi titik kumpul (freepik.com/rawpixel.com)

Jangan berasumsi semua anggota keluarga bisa langsung saling menghubungi setelah bencana. Jaringan telepon atau internet bisa saja terganggu, listrik padam, atau jaringan menjadi sangat sibuk karena banyak orang mencoba menghubungi keluarganya. Supaya tidak saling mencari tanpa arah, tentukan satu tempat untuk bertemu jika komunikasi benar-benar tidak bisa dilakukan.

Lokasinya bisa berupa lapangan, sekolah, fasilitas umum, rumah saudara, atau tempat aman lain yang sudah disepakati. Kalau memungkinkan, tentukan dua lokasi, yaitu yang dekat dari rumah dan lokasi alternatif jika area sekitar rumah ikut terdampak. Pastikan semua anggota keluarga tahu lokasi tersebut dan paham kapan harus langsung menuju ke sana tanpa menunggu kabar lewat telepon.

4. Kenali jalur evakuasi

ilustrasi jalur evakuasi (pexels.com/Shuxuan Cao)

Mengetahui jalur evakuasi sebelum bencana terjadi bisa membuat proses menyelamatkan diri jauh lebih mudah. Coba perhatikan lingkungan sekitar rumah dan cari tahu pintu keluar mana yang paling aman, jalan mana yang bisa digunakan, serta lokasi pengungsian atau tempat aman yang tersedia di sekitar. Jangan hanya mengandalkan satu jalan karena bisa saja akses tersebut tertutup ketika bencana terjadi.

Jalur yang dipilih juga harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Kalau tinggal di daerah rawan tsunami, misalnya, keluarga perlu tahu jalur menuju tempat yang lebih tinggi.

Sementara itu, di daerah rawan banjir, cari tahu akses menuju lokasi yang tidak tergenang. Sesekali, ajak keluarga mencoba rute tersebut supaya semua orang tidak hanya tahu jalannya di atas kertas, tetapi juga benar-benar hafal arah yang harus dituju.

5. Siapkan tas siaga bencana sebelumnya

ilustrasi tas siaga bencana (vecteezy.com/Alexsey Matrenin)

Barang-barang penting sebaiknya sudah dikumpulkan sebelum bencana terjadi. Siapkan tas darurat bencana dan letakkan di tempat yang mudah diambil, misalnya dekat pintu keluar. Isinya bisa berupa air minum, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, kotak P3K, senter, baterai cadangan, power bank, masker, pakaian ganti, dan selimut atau kain. Selain itu, siapkan pula peluit, uang tunai, perlengkapan kebersihan, dan salinan dokumen penting yang disimpan dalam wadah tahan air.

Isi tas tidak harus sama untuk setiap keluarga. Sesuaikan dengan kebutuhan anggota keluarga di rumah. Kalau ada bayi, lansia, atau anggota keluarga yang membutuhkan obat atau perlengkapan tertentu, masukkan kebutuhannya juga. Jangan lupa mengecek isi tas secara berkala supaya makanan dan obat tidak kedaluwarsa, baterai masih berfungsi, dan power bank tetap siap digunakan.

6. Latih rencana evakuasi bersama keluarga

ilustrasi keluarga (pexels.com/sofatutor)

Punya rencana saja belum cukup kalau belum pernah dipraktikkan. Sesekali, ajak seluruh anggota keluarga melakukan simulasi sederhana. Misalnya, buat skenario seolah-olah terjadi gempa, lalu praktikkan apa yang harus dilakukan, bagaimana keluar dari rumah, ke mana harus pergi, dan siapa yang perlu dibantu terlebih dahulu. Anak-anak juga sebaiknya dilibatkan supaya mereka lebih terbiasa dan tidak langsung panik ketika menghadapi situasi sebenarnya.

Setelah latihan selesai, coba ngobrol bersama untuk melihat apa yang masih kurang. Mungkin ada yang belum hafal jalur keluar, belum tahu lokasi titik kumpul, atau kesulitan membawa perlengkapan darurat. Dari situ, rencana bisa diperbaiki lagi. Dengan latihan seperti ini, cara mempersiapkan keluarga menghadapi bencana bukan cuma menjadi teori, tetapi bisa benar-benar diterapkan ketika keadaan darurat datang.

Dengan rencana yang jelas dan latihan sederhana, setiap anggota keluarga bisa lebih siap dan tidak mudah panik. Yuk, mulai lakukan apa yang harus disiapkan keluarga untuk hadapi bencana agar keselamatan keluarga lebih terjaga!

Curated For You

Editorial Team

Related Article