Belakangan ini, konsep calm parenting makin banyak dibicarakan di media sosial dan dunia parenting modern. Orangtua diajak lebih tenang menghadapi anak, gak mudah membentak, dan mencoba memahami emosi anak sebelum bereaksi. Sekilas terdengar ideal dan menenangkan, tapi dalam kehidupan nyata, menjalankannya gak selalu mudah.
Ada hari ketika orangtua kurang tidur, pekerjaan menumpuk, rumah berantakan, sementara anak terus tantrum atau rewel tanpa henti. Dalam kondisi seperti itu, banyak orangtua mulai bertanya-tanya, apakah calm parenting masih realistis dilakukan saat tubuh dan pikiran sudah kelelahan? Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi dan dialami banyak orangtua.
Masalahnya, media sosial kadang menampilkan calm parenting seolah harus selalu sempurna setiap saat. Orangtua terlihat sabar terus, suaranya lembut, dan selalu tahu respons terbaik untuk anak. Padahal di balik layar, semua orangtua juga punya batas energi dan emosi masing-masing.
Calm parenting bukan berarti orangtua harus jadi manusia tanpa marah atau gak pernah lelah. Konsep ini sebenarnya lebih tentang bagaimana orangtua berusaha mengelola respons secara lebih sadar, meski tetap mungkin melakukan kesalahan. Jadi, calm parenting tetap relevan, tapi juga perlu dipahami secara realistis dan manusiawi.
