Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Calm Parenting Tetap Relevan saat Orangtua Capek?
ilustrasi parenting yang baik (pexels.com/Tatiana Syrikova)
  • Calm parenting menekankan kesadaran dalam merespons anak tanpa harus selalu tenang sempurna, karena orangtua tetap manusia yang bisa marah, lelah, dan melakukan kesalahan.
  • Kelelahan fisik dan mental sangat memengaruhi kemampuan orangtua menjaga ketenangan, sehingga penting memberi ruang istirahat dan dukungan agar pengasuhan tetap sehat.
  • Hubungan sehat dibangun dari kejujuran emosional dan usaha memperbaiki diri setelah konflik, bukan dari tuntutan menjadi orangtua yang selalu sabar atau tanpa cela.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini, konsep calm parenting makin banyak dibicarakan di media sosial dan dunia parenting modern. Orangtua diajak lebih tenang menghadapi anak, gak mudah membentak, dan mencoba memahami emosi anak sebelum bereaksi. Sekilas terdengar ideal dan menenangkan, tapi dalam kehidupan nyata, menjalankannya gak selalu mudah.

Ada hari ketika orangtua kurang tidur, pekerjaan menumpuk, rumah berantakan, sementara anak terus tantrum atau rewel tanpa henti. Dalam kondisi seperti itu, banyak orangtua mulai bertanya-tanya, apakah calm parenting masih realistis dilakukan saat tubuh dan pikiran sudah kelelahan? Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi dan dialami banyak orangtua.

Masalahnya, media sosial kadang menampilkan calm parenting seolah harus selalu sempurna setiap saat. Orangtua terlihat sabar terus, suaranya lembut, dan selalu tahu respons terbaik untuk anak. Padahal di balik layar, semua orangtua juga punya batas energi dan emosi masing-masing.

Calm parenting bukan berarti orangtua harus jadi manusia tanpa marah atau gak pernah lelah. Konsep ini sebenarnya lebih tentang bagaimana orangtua berusaha mengelola respons secara lebih sadar, meski tetap mungkin melakukan kesalahan. Jadi, calm parenting tetap relevan, tapi juga perlu dipahami secara realistis dan manusiawi.

1. Calm parenting bukan berarti orangtua harus selalu tenang sempurna

ilustrasi parenting orangtua (freepik.com/freepik)

Banyak orang salah paham mengira calm parenting berarti orangtua gak boleh marah sama sekali. Akibatnya, ketika mulai kesal atau kehilangan kesabaran, mereka langsung merasa gagal menjadi orangtua yang baik. Padahal, emosi seperti marah, lelah, atau frustrasi itu sangat normal dirasakan manusia, termasuk orangtua.

Calm parenting bukan soal menjadi sosok yang selalu lembut tanpa emosi negatif. Konsep ini lebih tentang bagaimana orangtua mencoba merespons situasi tanpa langsung melukai anak lewat bentakan, ancaman, atau reaksi impulsif. Jadi, calm parenting tetap memberi ruang bagi orangtua untuk menjadi manusia biasa.

Ada hari ketika orangtua bisa sangat sabar, tapi ada juga momen ketika energi emosional benar-benar habis. Itu gak otomatis membuat semua usaha parenting jadi gagal. Yang lebih penting adalah kesadaran untuk memperbaiki situasi setelah emosi mereda.

Misalnya, meminta maaf kalau sempat membentak atau mencoba menjelaskan perasaan secara jujur pada anak. Anak justru bisa belajar bahwa orang dewasa juga punya emosi dan tetap bertanggung jawab atas sikapnya. Dari situ, hubungan emosional yang sehat perlahan terbentuk.

2. Kelelahan sangat memengaruhi cara orangtua merespons anak

ilustrasi parenting ibu dan anak (freepik.com/freepik)

Tubuh dan pikiran yang terlalu lelah membuat seseorang lebih mudah emosional dan sulit berpikir jernih. Orangtua yang kurang tidur atau terus menghadapi tekanan sehari-hari biasanya punya kapasitas sabar yang lebih kecil. Hal kecil yang biasanya bisa dihadapi santai tiba-tiba terasa sangat memicu emosi.

Itu sebabnya banyak orangtua merasa lebih mudah membentak saat sedang capek berat. Situasi seperti ini bukan berarti mereka gak sayang pada anak, kondisi fisik dan mental memang punya pengaruh besar terhadap cara seseorang bereaksi.

Sayangnya, banyak orangtua merasa harus tetap kuat terus tanpa memberi ruang untuk dirinya sendiri beristirahat. Padahal, menjaga kondisi emosional orangtua juga bagian penting dari pengasuhan.

Calm parenting akan jauh lebih sulit dilakukan kalau orangtua terus kehabisan energi tanpa dukungan. Itu sebabnya self-care sederhana seperti tidur cukup, punya waktu jeda, atau berbagi tugas pengasuhan sebenarnya sangat penting. Orangtua juga manusia yang butuh dipahami dan dijaga. Semakin stabil kondisi emosional orangtua, semakin mudah mereka hadir secara tenang untuk anak.

3. Calm parenting bukan memendam emosi

ilustrasi parenting yang baik (pexels.com/William Fortunato)

Ada orangtua yang mencoba calm parenting, tapi akhirnya malah memendam semua emosi sendirian. Mereka takut terlihat galak atau merasa bersalah setiap kali marah. Padahal, memendam emosi terus-menerus juga gak sehat dan bisa meledak sewaktu-waktu.

Calm parenting bukan berarti pura-pura tenang saat sebenarnya sudah sangat stres. Anak juga bisa merasakan ketegangan emosional dari orangtua meski gak diucapkan langsung. Oleh karenanya, yang lebih penting adalah belajar mengekspresikan emosi secara sehat dan aman.

Orangtua tetap boleh mengatakan sedang lelah atau butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri. Misalnya, lewat kalimat sederhana seperti, 'Ibu capek dulu, sebentar ya mau tenangin diri'. Cara seperti ini justru membantu anak memahami bahwa semua orang punya emosi dan perlu belajar mengelolanya.

Anak gak selalu membutuhkan orangtua yang terlihat sempurna. Mereka lebih membutuhkan orangtua yang jujur, hadir, dan mau memperbaiki hubungan setelah konflik terjadi. Dari situ anak juga belajar regulasi emosi secara nyata.

4. Hubungan yang sehat gak ditentukan dari satu momen buruk

ilustrasi parenting yang baik (pexels.com/PNW Production)

Banyak orangtua terlalu keras pada dirinya sendiri setelah kehilangan kesabaran sekali atau dua kali. Mereka merasa satu bentakan langsung merusak semuanya. Padahal, hubungan orangtua dan anak dibangun dari pola jangka panjang, bukan satu momen tunggal.

Kalau secara umum anak merasa aman, dicintai, dan didengar, hubungan tetap bisa sehat meski sesekali ada konflik atau emosi meledak. Yang penting adalah bagaimana orangtua memperbaiki koneksi setelahnya. Proses reconnect seperti ini justru sangat berarti bagi anak.

Meminta maaf pada anak juga bukan tanda kelemahan. Justru itu mengajarkan bahwa setiap orang bisa salah dan bertanggung jawab atas perilakunya. Anak belajar bila hubungan sehat bukan hubungan tanpa konflik, tapi hubungan yang mau memperbaiki diri setelah ada masalah.

Calm parenting bukan soal gak pernah salah, melainkan tentang usaha membangun hubungan yang lebih sadar dan penuh empati. Orangtua gak harus sempurna untuk tetap jadi tempat aman bagi anak. Kehangatan kecil yang konsisten jauh lebih penting dibanding tuntutan selalu tenang setiap saat.

5. Orangtua juga butuh dukungan, bukan cuma tuntutan

ilustrasi parenting yang baik (pexels.com/PNW Production)

Banyak pembahasan parenting fokus pada bagaimana orangtua harus bersikap terhadap anak, tapi lupa bahwa orangtua juga manusia yang butuh dukungan emosional. Mengurus anak sambil bekerja, mengurus rumah, menghadapi tekanan ekonomi, dan menjalani rutinitas harian tentu sangat melelahkan. Dalam kondisi seperti itu, wajar kalau calm parenting terasa sulit dijalani terus-menerus. Orangtua gak bisa menuang dari gelas yang kosong. Mereka juga perlu ruang untuk didengar dan dipahami.

Dukungan pasangan, keluarga, atau lingkungan sekitar bisa sangat membantu kesehatan emosional orangtua. Bahkan waktu istirahat kecil atau kesempatan bicara tanpa dihakimi bisa membuat perbedaan besar. Calm parenting akan terasa lebih realistis ketika orangtua gak dibebani ekspektasi harus sempurna sendirian.

Pengasuhan sebenarnya bukan tugas individu semata, tapi sesuatu yang idealnya didukung bersama. Saat orangtua merasa lebih tenang dan ditopang, mereka juga lebih mudah hadir dengan sabar untuk anak. Semua itu saling berkaitan.

Calm parenting tetap relevan meski orangtua sedang capek, tapi konsepnya perlu dipahami secara realistis dan manusiawi. Orangtua bukan robot yang bisa selalu tenang tanpa batas emosi. Ada hari ketika kesabaran terasa penuh, ada juga momen ketika tubuh dan pikiran benar-benar kelelahan.

Semua itu normal dan gak otomatis membuat seseorang jadi orangtua yang buruk. Yang paling penting bukan menjadi sempurna, tapi tetap mau belajar mengelola emosi dan memperbaiki hubungan setelah konflik terjadi. Dari situlah koneksi yang sehat perlahan terbentuk.

Anak sebenarnya gak membutuhkan orangtua yang selalu tenang setiap detik. Mereka lebih membutuhkan orangtua yang hadir, mau mendengarkan, dan tetap berusaha membangun rasa aman meski kadang melakukan kesalahan.

Calm parenting bukan soal menekan emosi atau berpura-pura kuat terus. Ini lebih tentang kesadaran untuk merespons anak secara lebih sehat sambil tetap menerima bahwa orangtua juga manusia biasa. Jadi, gak apa-apa kalau ada hari yang terasa berat. Selama masih ada usaha untuk memahami diri sendiri dan anak, proses pengasuhan itu tetap punya makna besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article