Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Orangtua dan anak perempuannya (pexels.com/Julia M Cameron)

Tidak semua anak tumbuh menjadi pribadi dengan pilihan hidup yang sama seperti harapan orangtuanya. Ada yang memilih karier berbeda dari keinginan keluarga, menunda pernikahan, menjalani hubungan dengan orang yang tidak disetujui, atau memutuskan tinggal mandiri meski dianggap lebih baik jika tetap dekat dengan keluarga. Bagi anak, keputusan tersebut mungkin sudah dipikirkan matang-matang.

Namun, bagi orangtua, pilihan yang berbeda terkadang terasa sulit diterima karena bertentangan dengan nilai, pengalaman, atau gambaran masa depan yang selama ini mereka bayangkan. Berikut beberapa hal yang mungkin bisa membantu orangtua memahami situasi tersebut.

1. Pahami bahwa kekhawatiran orangtua tidak selalu berarti penolakan

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/RDNE Stock project)

Ketika orangtua menentang pilihan hidup anak, reaksi pertama yang muncul mungkin berupa rasa kecewa atau kesal. Anak bisa merasa bahwa segala usaha untuk menjadi mandiri tidak dihargai. Namun, sebelum menyimpulkan bahwa orangtua hanya ingin mengendalikan kehidupan anak, cobalah memahami alasan di balik keberatan mereka.

Bisa jadi mereka takut anak mengalami kesulitan finansial, salah memilih pasangan, kehilangan kesempatan karier, atau menghadapi risiko yang belum pernah mereka alami sendiri. Psikolog Daniel E. Jimenez, Ph.D., dari University of Miami Health System menjelaskan bahwa hubungan orangtua dan anak mengalami perubahan ketika anak bertambah dewasa.

“Dinamika hubungan antara orangtua dengan anak yang masih kecil sangatlah berbeda dengan hubungan antara orangtua dengan anak yang sudah dewasa. Saat masih kecil, anak bergantung pada orangtua untuk mendapatkan makanan, tempat tinggal, dan dukungan emosional. Orangtualah yang memegang kendali. Seiring bertambahnya usia, anak menjadi lebih mandiri dan tidak lagi terlalu membutuhkan arahan. Hubungan pun mengalami perubahan,” jelasnya dikutip dari dari UHealth Collective.

Orangtua perlu menyesuaikan perannya, sementara anak juga perlu belajar membangun hubungan yang lebih setara. Memahami kekhawatiran orangtua bukan berarti kamu harus mengubah keputusan agar mereka senang. Kamu bisa mendengarkan alasan mereka terlebih dahulu, kemudian menjelaskan pertimbanganmu dengan tenang.

Misalnya, jika orangtua menolak keputusanmu untuk pindah kota demi pekerjaan, sampaikan bagaimana kamu sudah mempertimbangkan biaya hidup, peluang karier, dan rencana keuangan. Ketika kekhawatiran mereka dijawab dengan penjelasan yang konkret, percakapan berpeluang menjadi lebih produktif daripada sekadar perdebatan tentang siapa yang paling benar.

2. Jelaskan alasan pilihanmu, bukan hanya meminta restu

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kaboompics.com)

Bagi sebagian orangtua, keputusan anak yang berbeda dari harapan keluarga bisa terasa mendadak atau sulit dimengerti. Hal ini terutama terjadi ketika anak hanya menyampaikan hasil akhirnya tanpa menjelaskan proses berpikir di balik keputusan tersebut.

Misalnya, anak tiba-tiba mengumumkan ingin berhenti dari pekerjaan yang dianggap mapan atau memilih menunda pernikahan. Tanpa memahami alasannya, orangtua mungkin menganggap keputusan tersebut sebagai tindakan gegabah.

Laurence Steinberg, Ph.D., profesor psikologi dan neurosains di Temple University, membahas pentingnya komunikasi mengenai harapan dan aturan dalam hubungan orangtua dengan anak dewasa melalui podcast Speaking of Psychology dari American Psychological Association. Ia menjelaskan bahwa ketika situasi keluarga berubah, kedua belah pihak perlu membicarakan ekspektasi agar tidak terus terjebak dalam pola hubungan ketika anak masih remaja.

"Menurut saya, kunci utamanya adalah mendiskusikan ekspektasi masing-masing pihak, karena ini merupakan situasi yang baru. Mendiskusikan ekspektasi kamu maupun ekspektasi mereka, agar semua pihak memiliki pemahaman yang selaras," kata Steinberg.

Cobalah menjelaskan keputusanmu menggunakan alasan yang jelas dan realistis. Jika memilih jalur karier yang berbeda dari keinginan keluarga, ceritakan minat, kemampuan, peluang, serta rencana untuk menghadapi tantangan di bidang tersebut. Jika belum ingin menikah, jelaskan prioritas yang sedang kamu bangun tanpa harus membandingkan pilihanmu dengan kehidupan orang lain.

Hindari nada yang merendahkan pengalaman orangtua, tetapi jangan pula mengecilkan kebutuhan dan tujuanmu hanya agar percakapan cepat selesai. Kamu berhak menjelaskan pilihanmu tanpa harus menjadikan setiap percakapan sebagai permohonan izin.

3. Belajar mendengarkan tanpa harus langsung menyetujui

Ilustrasi orangtua dan anak ngobrol di tempat tidur (freepik.com/prostooleh)

Komunikasi keluarga sering kali terhambat karena setiap pihak terlalu sibuk menyiapkan bantahan. Ketika orangtua mulai menjelaskan kekhawatiran mereka, anak langsung memotong pembicaraan karena merasa sudah mengetahui isi nasihat yang akan diberikan. Sebaliknya, orangtua mungkin menolak penjelasan anak sebelum benar-benar mendengarkan.

Akibatnya, percakapan berubah menjadi pertarungan pendapat, bukan kesempatan untuk memahami alasan masing-masing. Daniel E. Jimenez menekankan pentingnya penerimaan terhadap kemandirian anak yang telah dewasa. Ia menjelaskan bahwa hubungan pada tahap ini lebih mengarah pada interdependence, yaitu hubungan saling mendukung tanpa menghilangkan kemandirian masing-masing.

"Ini lebih kepada saling ketergantungan (interdependence). Anak yang sudah dewasa mungkin mencari kebijaksanaan atau dukungan, sebuah hubungan yang berada pada posisi yang lebih setara,” ujarnya.

Jadi, anak dewasa bisa membutuhkan kebijaksanaan dan dukungan orangtua, tetapi hubungan mereka tidak lagi harus didasarkan pada pola satu pihak selalu menentukan keputusan. Saat berdiskusi, berikan juga kesempatan kepada orangtua untuk menyampaikan pendapat sampai selesai.

Kamu bisa bertanya, “Bagian mana yang paling membuat Ayah dan Ibu khawatir?” Pertanyaan seperti ini membantu memperjelas inti masalah daripada terus memperdebatkan pilihan hidup secara keseluruhan. Setelah itu, jelaskan bagian yang kamu pahami dan bagian yang memiliki pandangan berbeda.

4. Tetapkan batasan yang sehat tanpa memutus hubungan

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kindel Media)

Ketika orangtua terus menolak keputusan anak, ada kalanya penjelasan berulang justru membuat hubungan semakin tegang. Anak mungkin merasa harus membuktikan pilihannya setiap kali bertemu keluarga, sementara orangtua terus berusaha mengubah keputusan tersebut.

Dalam situasi seperti ini, menetapkan batasan menjadi penting agar perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan pertengkaran. Batasan membantu menentukan bagaimana kedua pihak dapat berinteraksi tanpa saling merendahkan atau mengendalikan.

Psikolog Joshua Coleman, Ph.D., menjelaskan bahwa rekonsiliasi lebih mungkin terjadi ketika orangtua bersedia menerima perbedaan anak dewasa tanpa mempermalukan atau terus mengkritiknya. Ia juga menyoroti pentingnya empati, kesediaan mengakui kesalahan, dan komitmen memperbaiki hubungan.

"Rekonsiliasi lebih mungkin terjadi jika orangtua mampu berempati terhadap keluhan sang anak dan bertanggung jawab atas kesalahan apa pun yang pernah dilakukan. Menghindari sikap defensif. Menunjukkan komitmen untuk memperbaiki hubungan. Menerima ketentuan sang anak mengenai frekuensi dan durasi kontak. Menerima perbedaan antara diri sang anak dan diri mereka sendiri tanpa mempermalukan atau mengkritik sang anak," kata Coleman dikutip dari The Society Pages.

"Dari sisi sang anak, rekonsiliasi lebih mungkin terjadi jika mereka mampu menunjukkan welas asih terhadap keterbatasan orangtua mereka, menyadari bahwa ekspektasi terhadap orangtua dan pola asuh telah meningkat, memahami bahwa bentuk komunikasi yang lebih peka dan berorientasi psikologis merupakan hal yang relatif baru dalam hubungan antara orangtua dan anak yang sudah dewasa, sehingga mempelajarinya mungkin memerlukan waktu dan latihan bagi pihak orangtua," tambahnya.

5. Berikan waktu untuk beradaptasi dan tunjukkan tanggung jawab

Orangtua dan anak perempuannya (pexels.com/Julia M Cameron)

Tidak semua orangtua bisa menerima pilihan hidup anak dalam satu percakapan. Ada yang membutuhkan waktu untuk memahami perubahan, terutama jika keputusan tersebut bertentangan dengan nilai keluarga yang dipegang selama bertahun-tahun.

Karena itu, jangan selalu mengukur keberhasilan komunikasi dari apakah orangtua langsung menyetujui keputusanmu. Terkadang, kemajuan justru terlihat ketika mereka mulai bersedia mendengarkan, mengurangi kritik, atau berhenti memaksa meskipun belum sepenuhnya sepakat.

Dalam wawancara dengan American Psychological Association, Laurence Steinberg menjelaskan bahwa hubungan orangtua dan anak dewasa membutuhkan penyesuaian karena kebutuhan akan otonomi atau kemandirian menjadi semakin penting. Ia menyoroti perlunya kedua pihak membicarakan harapan dan memahami perubahan peran dalam keluarga.

"Ketika orangtua terus-menerus memberikan nasihat kepada anak mereka yang sudah dewasa, sang anak mungkin merasa terusik—bukan karena isi nasihatnya, dan bukan pula karena mereka tidak menyukai orangtuanya, melainkan karena mereka sedang berupaya memantapkan diri sebagai individu yang kompeten dan mampu, yang tidak lagi perlu bergantung pada ayah dan ibunya," jelasnya.

"Banyak orangtua merasa terluka ketika anak mereka yang sudah dewasa meminta agar mereka tidak memberikan pendapat, atau ketika anak tersebut tidak mengikuti nasihat yang diberikan. Pesan yang saya sampaikan kepada para orangtua: jangan memasukkannya ke dalam hati. Ini bukan tentang Anda. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan anak Anda yang beranjak dewasa untuk membangun rasa otonomi-guna menunjukkan kepada Anda maupun diri mereka sendiri bahwa mereka mampu menjalani kehidupan dewasa tanpa harus bergantung pada orangtua," lanjut Steinberg.

Sambil memberi waktu kepada orangtua, tunjukkan bahwa pilihanmu disertai tanggung jawab. Jika memilih hidup mandiri, usahakan mengelola kebutuhan finansial dengan realistis. Jika menekuni karier yang tidak biasa, buat rencana pengembangan diri dan evaluasi kemajuan secara berkala.

Kamu tidak harus membuktikan bahwa semua keputusanmu pasti benar, sebab setiap orang bisa menghadapi kesalahan. Namun, kesediaan untuk bertanggung jawab dapat membantu orangtua melihat bahwa pilihanmu bukan sekadar bentuk perlawanan, melainkan bagian dari proses menjadi dewasa.

Membantu orangtua memahami pilihan hidup yang berbeda bukan tentang memenangkan perdebatan atau memaksa mereka mengubah pandangan seketika. Tujuannya adalah membangun ruang bagi dua generasi untuk saling mendengarkan, memahami kekhawatiran, dan menghormati kemandirian masing-masing.

Curated For You

Editorial Team

Related Article