Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Membantu Anak Remaja untuk Memulai Kebiasaan Bersyukur

ilustrasi seorang ayah sedang menasehati anak-anaknya (pexels.com/timamiroshnichenko)
ilustrasi seorang ayah sedang menasehati anak-anaknya (pexels.com/timamiroshnichenko)

Masa remaja adalah fase penuh perubahan, baik secara emosional maupun sosial. Di tengah tekanan akademik, pergaulan, dan media sosial, anak remaja kerap sulit melihat sisi positif dalam kesehariannya. Di sinilah kebiasaan bersyukur berperan penting sebagai fondasi kesehatan mental yang kuat.

Kabar baiknya, rasa syukur bukanlah sifat bawaan, melainkan kebiasaan yang bisa dilatih. Orangtua memiliki peran besar dalam membantu remaja memulai praktik ini secara sederhana dan konsisten. Berikut beberapa cara efektif yang bisa diterapkan di rumah. Yuk, langsung scroll!

1. Menjadi teladan dengan menunjukkan rasa syukur

ilustrasi ibu dan anak
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/ellyfairytale)

Anak remaja belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan dari apa yang mereka dengar. Ketika orangtua terbiasa mengungkapkan rasa syukur dalam keseharian, anak akan menangkap pola tersebut secara alami. Sikap ini bisa dimulai dari hal kecil, seperti bersyukur atas waktu bersama atau pencapaian sederhana.

Menurut psikolog klinis, Lauren Kerwin, Ph.D., dikutip dari Motherly, mengekspresikan rasa syukur kepada anak memiliki dampak emosional yang besar. Ia menyebutkan bahwa berbagi hal-hal yang kita syukuri tentang anak membantu mereka merasa dihargai dan dilihat secara emosional. Dari sini, remaja akan belajar bahwa bersyukur bukan sekadar konsep, melainkan sikap hidup.

2. Mengajak remaja hadir di momen saat ini

ilustrasi remaja bersenang-senang (unsplash.com/priscilladupreez)
ilustrasi remaja bersenang-senang (unsplash.com/priscilladupreez)

Remaja sering kali terjebak dalam kekhawatiran akan masa depan atau penyesalan terhadap masa lalu. Mengajak mereka untuk hadir sepenuhnya di momen sekarang dapat membantu menenangkan pikiran dan membuka ruang untuk rasa syukur. Salah satu caranya adalah dengan berjalan santai bersama tanpa distraksi gawai.

Dr. Kerwin menyarankan aktivitas sederhana seperti berjalan kaki sambil menyadari lingkungan sekitar. Ia mengatakan, fokus pada hal-hal fisik seperti bagaimana tanah terasa di telapak kaki dapat membantu remaja kembali terhubung dengan dirinya sendiri. Kesadaran inilah yang menjadi pintu masuk munculnya rasa syukur.

3. Membiasakan refleksi singkat sebelum tidur

ilustrasi remaja tertidur di sofa (pexels.com/rdne)
ilustrasi remaja tertidur di sofa (pexels.com/rdne)

Waktu sebelum tidur merupakan momen yang tepat untuk refleksi karena pikiran mulai melambat. Mengajak remaja membicarakan hal-hal kecil yang patut disyukuri dari hari yang telah dijalani dapat membantu mereka menutup hari dengan perasaan lebih tenang. Kebiasaan ini juga dapat memperbaiki kualitas tidur.

Menurut Dr. Kerwin, refleksi harian membantu remaja melihat sisi positif dari hari yang mungkin terasa berat. Ia menjelaskan bahwa rasa syukur membuat emosi negatif lebih sulit muncul ketika pikiran sedang fokus pada hal-hal baik. Perlahan, pola pikir ini akan terbentuk secara alami.

“Dengan merefleksikan hal-hal yang mereka syukuri, anak-anak membangun kesadaran diri, mengembangkan mekanisme koping terhadap stres, serta menumbuhkan rasa optimisme,” ujar Sapna Radhakrishnan, conscious parenting coach, praktisi NLP, dan penulis buku Yelling to Zenning, dikutip dari Parents.

4. Mendorong remaja menuliskan rasa syukur

ilustrasi perempuan sedang menulis(pexels.com/ekaterinabolovtsova)
ilustrasi perempuan sedang menulis(pexels.com/ekaterinabolovtsova)

Menulis membantu pikiran menjadi lebih terstruktur dan reflektif. Dengan menuliskan hal-hal yang disyukuri, remaja dapat mengenali emosi positif yang sering luput dari perhatian. Jurnal rasa syukur juga menjadi ruang aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi.

“Menjadikan jurnal rasa syukur sebagai praktik keluarga membuka ruang untuk percakapan bermakna, koneksi, apresiasi, dan saling memahami. Anak-anak belajar menghargai hal-hal kecil yang membuat keluarga mereka istimewa,” ujar Sapna Radhakrishnan.

Kegiatan ini tidak perlu dilakukan secara panjang atau rumit. Cukup menuliskan satu hingga tiga hal setiap hari sudah cukup untuk membangun konsistensi. Yang terpenting, remaja merasa bebas dan nyaman dalam prosesnya.

5. Menciptakan ritual bersyukur dalam keluarga

ilustrasi seorang ayah sedang menasehati anak-anaknya (pexels.com/timamiroshnichenko)
ilustrasi seorang ayah sedang menasehati anak-anaknya (pexels.com/timamiroshnichenko)

Ritual keluarga dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai bersyukur. Kegiatan sederhana seperti mengucapkan terima kasih sebelum makan atau berbagi hal positif di akhir pekan bisa menjadi kebiasaan bermakna. Kebersamaan ini memperkuat ikatan emosional antaranggota keluarga.

Dengan rutinitas yang konsisten, remaja akan melihat rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan kewajiban. Lingkungan keluarga yang hangat dan suportif membuat mereka lebih mudah mengembangkan pola pikir positif. Dari sinilah kebiasaan bersyukur tumbuh secara berkelanjutan.

Membantu remaja memulai kebiasaan bersyukur tidak membutuhkan metode rumit atau biaya besar. Yang dibutuhkan hanyalah kehadiran, keteladanan, dan konsistensi dari orangtua. Jika dilakukan secara perlahan, rasa syukur dapat menjadi bekal penting bagi remaja dalam menghadapi tantangan hidup ke depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

Daftar Buku tentang Jeffrey Epstein, Pelaku Kejahatan Seksual AS

03 Feb 2026, 14:14 WIBLife