Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Hal yang Harus Dipahami sebelum Beri Uang Jajan pada Anak
ilustrasi memberi uang (pexels.com/karolina grabowska)
  • Uang jajan dapat mulai diberikan saat anak kelas 1 atau 2 SD dalam jumlah kecil dan pengawasan orangtua, untuk mengenalkan nilai uang serta kebutuhan dan keinginan.
  • Nominal perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan sekolah, harga jajanan, dan kemampuan keluarga; sistem harian, mingguan, atau bulanan dapat melatih penyusunan anggaran.
  • Orangtua perlu mengajarkan pembagian uang untuk kebutuhan dan tabungan, lalu rutin mendiskusikan penggunaannya secara terbuka agar pengeluaran anak tetap terarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memberikan uang jajan pada anak merupakan salah satu cara untuk mengajarkan tanggung jawab dan juga keterampilan dalam mengelola keuangan dengan baik sejak dini. Namun, keputusan untuk memberikan uang jajan pada anak mungkin sering kali menimbulkan pertanyaan bagi orangtua, seperti kapan waktu yang tepat untuk mulai memberikannya dan berapa nominal ideal yang mungkin diperlukan.

Pemberian uang jajan sebetulnya bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan proses edukatif yang semestinya dapat disesuaikan dengan usia anak, kebutuhan, dan juga pemahaman anak terkait nilai uang tersebut. Oleh sebab itu, beberapa hal yang harus dipahami sebelum beri uang jajan pada anak berikut ini bisa dijadikan pertimbangan.

1. Mulai memberikan uang jajan saat anak memasuki sekolah dasar

ilustrasi memberi uang (pexels.com/karolina grabowska)

Waktu yang tepat dan umum untuk mulai memberikan uang jajan pada anak adalah ketika mereka sudah mulai duduk di sekolah dasar, terutama kelas 1 atau 2. Pada usia ini memang anak-anak biasanya sudah mulai belajar mandiri, termasuk mengenal transaksi sederhana dan juga memiliki kebutuhan kecil di sekolah, seperti untuk membeli jajanan ataupun alat tulis yang mungkin diperlukan.

Pemberian uang jajan pada fase ini memang semestinya dilakukan dalam jumlah yang kecil dan terbatas, termasuk harus berada di bawah pengawasan ketat oleh orangtua agar bisa melatih anak untuk mengenal nilai uang dan juga membedakan kebutuhan serta keinginan. Orangtua juga harus menjadikan momen tersebut sebagai sarana komunikasi agar dapat selalu aktif berdiskusi terkait perilaku konsumtif yang sehat.

2. Nominal ideal disesuaikan dengan usia dan kebutuhan sehari-hari

ilustrasi anak menghitung uang (pexels.com/cottonbro studio)

Tidak ada jumlah pasti yang harus diberikan, namun nominal uang jajan sebetulnya harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan, harga jajanan yang ada di sekolah anak, dan juga kemampuan finansial dari keluarga. Contohnya, anak SD mungkin bisa saja diberi uang harian sebesar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, tergantung pada kebutuhan masing-masing.

Seiring bertambahnya usia dan meningkatnya tanggung jawab, nominal uang jajan bisa saja mengalami penambahan secara bertahap, misalnya melalui sistem mingguan untuk anak SMP dan sistem bulanan untuk anak SMA. Hal ini juga dapat memberikan kesempatan lebih pada anak untuk belajar bagaimana caranya menyusun anggaran yang ada dan juga mengatur pengeluaran dengan cara yang lebih bijak agar tidak boros.

3. Ajarkan anak membuat anggaran dan membedakan prioritas

ilustrasi uang (pexels.com/Karolina Grabowska)

Pemberian uang jajan memang semestinya dapat diiringi dengan edukasi yang memadai terkait cara pengelolaan uang, termasuk membagi uang berdasarkan kebutuhan, tabungan harian, dan juga pengeluaran yang mungkin tidak terduga. Orangtua bisa membantu anak untuk menyusun anggaran sederhana yang memang disesuaikan dengan jumlah uang yang diterima anak.

Setidaknya, dengan membiasakan anak untuk berpikir sebelum membelanjakan uang, mereka akan merasa lebih peka terkait nilai dari setiap barang yang nantinya akan dibeli. Selain itu, anak juga belajar tentang pentingnya menabung dan juga menghindari potensi kebiasaan boros atau menghabiskan uang secara impulsif tanpa pertimbangan yang matang.

4. Evaluasi rutin dan terbuka terhadap penggunaan uang jajan

ilustrasi ngobrol dengan anak (freepik.com/tirachardz)

Orangtua perlu melakukan evaluasi secara berkala terkait penggunaan uang jajan anak dengan cara berdiskusi secara terbuka dan juga tidak langsung menghakimi. Coba tanyakan pada anak-anak bagaimana cara mereka membelanjakan uang mereka, termasuk apa yang mereka pelajari dan apakah mereka justru mengalami kesulitan dalam mengatur pengeluaran mereka.

Evaluasi tentu merupakan langkah penting untuk menyesuaikan jumlah uang jajan dan juga memberikan arahan apabila anak mungkin mulai menunjukkan potensi boros atau membeli hal-hal yang sebetulnya tidak dibutuhkan. Pendekatan ini juga dapat membantu anak untuk tetap merasa didukung dan memperkuat hubungan emosional dengan orangtuanya sendiri.

Mengetahui hal yang harus dipahami sebelum beri uang jajan pada anak bukan hanya perkara nominal, melainkan juga terkait waktu dan edukasi keuangan yang dimiliki. Melalui pendekatan yang bijak dan konsisten, uang jajan bisa digunakan oleh anak sebagai alat untuk menanamkan nilai tanggung jawab dan kemandirian. Orangtua harus terlibat secara aktif dalam memberikan arahan dan teladan dalam pengelolaan uang sehari-hari untuk anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article