"Mengikuti perkembangan terkini di platform media sosial bisa menjadi hal yang sulit bagi orang tua dan pengasuh. Upaya menyaring begitu banyaknya konten yang diakses anak-anak secara daring bisa terasa mustahil," jelasnya.
Parenting Gen Alpha: Kenapa Orangtua Perlu Belajar 'Bahasa Internet'

Bagi orangtua, memahami dunia digital anak kadang terasa seperti belajar bahasa asing. Hari ini anak bicara tentang FYP, POV, NPC, DM, streak, meme, red flag, atau istilah dari game yang sama sekali tidak familiar. Belum selesai memahami satu istilah, sudah muncul istilah baru yang membuat orangtua kembali bertanya, "Itu maksudnya apa?"
Namun, belajar ‘bahasa internet’ anak bukan berarti orangtua harus ikut memahami semua tren atau menjadi pengguna media sosial yang paling aktif. Yang lebih penting adalah memahami konteks di balik bahasa tersebut agar komunikasi dengan anak tidak terputus.
1. Bahasa internet bisa jadi 'pintu masuk' ke dunia anak

ilustrasi anak bermain gadget (pexels.com/Nicola Barts) Bahasa internet bukan sekadar kumpulan slang yang muncul dan menghilang dalam hitungan minggu. Bagi anak, istilah-istilah tersebut merupakan bagian dari cara mereka berkomunikasi, bercanda, membangun identitas, dan berinteraksi dengan teman sebaya.
Oleh karena itu, ketika orangtua memahami istilah yang digunakan anak, mereka sebenarnya sedang berusaha memahami lingkungan sosial anak. Mitch Prinstein, PhD, Chief Science Officer American Psychological Association (APA), juga mengakui bahwa mengikuti perkembangan media sosial anak memang tidak mudah bagi orangtua.
APA pun menyarankan agar remaja mengembangkan keterampilan literasi media sosial sebelum mereka mulai menggunakannya, serta menerima pengingat secara berkala untuk memperkuat keterampilan tersebut. Orangtua juga perlu memberikan pendampingan mengenai hal ini.
2. Orangtua perlu paham konteks, gak harus hafal semua slang

ilustrasi jam bermain gadget anak (pexels.com/Jessica Lewis 🦋 thepaintedsquare) Tidak realistis jika orangtua harus menghafalkan setiap istilah yang sedang viral. Bahasa internet berubah sangat cepat dan istilah yang populer hari ini bisa terdengar ketinggalan zaman beberapa bulan kemudian. Karena itu, tujuan belajar bahasa internet bukan untuk membuat orangtua terlihat keren di depan anak.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Communication oleh Sonia Livingstone dan koleganya menunjukkan bahwa kemampuan digital orangtua dan anak berkaitan dengan bagaimana orangtua melakukan mediasi penggunaan internet. Peneliti menemukan bahwa pendekatan yang memungkinkan anak memperoleh manfaat internet sekaligus memahami risikonya lebih mungkin digunakan ketika orangtua atau anak memiliki keterampilan digital yang lebih baik.
"Mediasi yang bersifat memampukan (enabling mediation) berkaitan dengan peningkatan peluang daring namun juga risiko daring. Strategi ini mencakup upaya keselamatan, mengakomodasi agensi anak, serta diterapkan ketika orangtua atau anak memiliki keterampilan digital yang memadai, sehingga cenderung tidak memicu dampak negatif," demikian laporan studi Maximizing Opportunities and Minimizing Risks for Children Online: The Role of Digital Skills in Emerging Strategies of Parental Mediation dalam Wiley Online Library.
"Sementara itu, mediasi yang bersifat membatasi (restrictive mediation) berkaitan dengan risiko daring yang lebih rendah namun mengorbankan peluang daring; pendekatan ini mencerminkan saran kebijakan yang memandang penggunaan media terutama sebagai hal yang bermasalah," tambahnya.
Jadi, ketika mendengar istilah yang tidak dipahami, orangtua tidak perlu langsung panik. Cobalah bertanya, "Kalau kamu bilang begitu, maksudnya apa?" atau "Biasanya teman-temanmu menggunakan kata itu dalam situasi seperti apa?" Pertanyaan tersebut jauh lebih efektif daripada langsung menyimpulkan bahwa istilah tersebut pasti buruk.
3. Belajar bahasa internet bisa membuat anak lebih mau bercerita

ilustrasi anak bermain gadget (pexels.com/Julia M Cameron) Salah satu alasan orangtua perlu memahami dunia digital anak adalah karena internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial mereka. Teman, sekolah, hiburan, komunitas, bahkan konflik pertemanan bisa berlangsung secara online.
Kalau orangtua sama sekali tidak memahami dunia tersebut, anak mungkin merasa percakapan tentang internet akan selalu berakhir dengan larangan. Padahal, komunikasi terbuka justru penting ketika anak menghadapi masalah digital.
Anak mungkin mendapatkan komentar buruk, menerima DM dari orang asing, melihat konten yang membuatnya tidak nyaman, atau mengalami tekanan dari teman. Jika pengalaman pertama mereka ketika bercerita justru dimarahi dan gawainya disita, mereka bisa menjadi enggan mencari bantuan di kemudian hari.
4. Orangtua juga harus belajar etika digital

ilustrasi bermain gadget di kamar gelap (pexels.com/SHVETS production) Belajar bahasa internet bukan hanya tentang mengetahui arti FYP, meme, streak, atau istilah game. Orangtua juga perlu belajar 'bahasa' yang lebih penting, yaitu bahasa tentang privasi, persetujuan, jejak digital, keamanan akun, scam, dan batasan dalam membagikan informasi pribadi.
Laporan UNICEF Indonesia mengingatkan bahwa setiap klik, komentar, share, dan unggahan dapat menciptakan jejak digital. Orangtua disarankan mengenalkan konsep privasi kepada anak sejak mereka mulai menggunakan perangkat digital dan menjelaskan informasi apa saja yang perlu dilindungi.
Tapi menariknya, aturan ini juga berlaku untuk orangtua. Orangtua mungkin melarang anak mengunggah foto sembarangan, tetapi pada saat yang sama sering mengunggah foto anak tanpa meminta izin. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa beberapa ahli menyarankan agar orangtua lebih mencermati kebiasaan daring mereka sendiri-terutama yang berkaitan dengan privasi anak-anak mereka.
"Literasi media sangatlah penting, baik bagi anak-anak maupun orangtua," jelas Mary Alvord, PhD, psikolog dikutip dari APA.
"Hal ini bisa berujung pada rasa kesal atau sakit hati anak terhadap apa yang telah diunggah orang tua mereka," tambah Alvord yang mengkhawatirkan kebiasaan orangtua yang terlalu banyak berbagi informasi pribadi (oversharing) dapat memengaruhi rasa privasi dan kepercayaan anak.
5. Anak boleh jadi guru, orangtua tetap jadi pendamping

ilustrasi anak bermain gadget (pexels.com/Ketut Subiyanto) Ada anggapan bahwa dalam keluarga, orangtua harus selalu menjadi pihak yang paling tahu. Di era digital, pola tersebut tidak selalu berlaku. Anak bisa jadi lebih cepat memahami aplikasi, fitur baru, tren, bahkan cara kerja komunitas online tertentu. Tidak ada salahnya jika sesekali orangtua meminta anak mengajari mereka.
Namun, posisi anak sebagai "guru" teknologi tidak berarti tanggung jawab berpindah sepenuhnya kepada anak. Orangtua tetap perlu menentukan batasan yang sesuai usia, membantu anak memahami konsekuensi, dan memastikan mereka tahu harus mencari bantuan ketika menghadapi sesuatu yang berbahaya.
"Dampingi anak saat mencoba aplikasi, game, dan platform daring. Bantu mereka membuat pilihan yang aman. Saat mengakses platform baru, pastikan pengaturan platform sejak awal sudah meminimalkan pengumpulan data oleh pihak ketiga," demikian dikutip dari UNICEF Indonesia.
"Libatkan anak saat mengambil keputusan terkait privasinya di dunia maya. Sampaikan hal-hal yang menjadi kekhawatiran orangtua, dan simak penjelasan anak tanpa menghakimi mereka. Seiring bertambah pengalaman anak di dunia maya, orangtua perlu mencari cara untuk membuat mereka lebih berdaya dengan memberikan mereka tanggung jawab yang sesuai usia sambil tetap memantau aktivitas mereka di internet," tambahnya.
Pada akhirnya, parenting di era Gen Alpha bukan tentang siapa yang paling mengerti teknologi. Orangtua tidak harus mengetahui semua slang yang sedang viral, dan anak juga tidak harus menjadi sumber informasi teknologi bagi keluarganya. Yang lebih penting adalah menciptakan hubungan di mana anak merasa aman untuk menjelaskan dunianya, sementara orangtua bersedia mendengarkan, belajar, dan tetap memberikan arahan.





















