ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)
Morin juga menjelaskan, bahwa orangtua yang berwibawa tidak menghukum anak-anak dengan cara yang menyakiti mereka secara fisik atau emosional sebagai respons atas kesalahan yang dibuat. Mereka tidak mencoba membuat anak-anak merasa malu, bersalah, atau merasa bahwa mereka adalah orang yang buruk karena kesalahan tersebut.
Dalam menentukan konsekuensi untuk perilaku yang tidak diinginkan, penting untuk memilih konsekuensi yang tidak hanya menghukum anak, tetapi juga membantu mereka belajar dari kesalahan. Penting juga untuk menerapkan konsekuensi yang masuk akal sesuai dengan usia dan pengetahuan anak, serta sebanding dengan kesalahan yang telah mereka lakukan.
Sebagai contoh, jika seorang anak memukul saudaranya, sebaiknya tidak membalasnya dengan tindakan fisik yang sama, seperti memukul balik. Alih-alih itu, orangtua dapat mengambil hak istimewa atau keuntungan tertentu dari anak sebagai konsekuensi. Misalnya, mungkin mengambil waktu bermain video game mereka.
"Sebuah konsekuensi paling mungkin akan memberikan pelajaran yang bermanfaat ketika itu terkait, penuh hormat, dan masuk akal," seperti yang dijelaskan oleh Jane Nelsen, Ed.D., penulis seri Positive Discipline, dilansir Parents.