Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kalimat Sederhana yang Bisa Bantu Anak Merasa Didengar saat Sedih
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Keira Burton)

Anak yang sedang sedih tidak selalu membutuhkan nasihat panjang atau solusi untuk menyelesaikan masalahnya. Terkadang, mereka hanya ingin ditemani, didengarkan, dan diyakinkan bahwa perasaan yang sedang dialami bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Sayangnya, orangtua yang ingin segera membuat anak kembali ceria bisa saja tanpa sadar mengatakan hal-hal seperti, "Sudah, jangan sedih," atau "Gapapa, udah gak boleh nangis."

Maksudnya mungkin untuk menenangkan, tetapi anak justru bisa merasa bahwa kesedihannya tidak dianggap penting. Padahal, cara orangtua merespons emosi anak dapat memengaruhi kenyamanan mereka saat bercerita di kemudian hari. Oleh karena itu, memilih kalimat yang tepat bukan berarti orangtua harus selalu memiliki jawaban untuk setiap persoalan.

1. "Kamu kelihatan sedih, mau cerita sama Mama atau Papa?"

potret orangtua dan anak (pexels.com/Vlada Karpovich)

Ketika melihat anak murung, menangis, atau memilih menyendiri, orangtua bisa memulai percakapan dengan menyebutkan apa yang terlihat tanpa langsung membuat kesimpulan. Kalimat seperti, "Kamu kelihatan sedih hari ini, ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" dapat membuka kesempatan bagi anak untuk bercerita.

Cara ini lebih nyaman dibandingkan langsung bertanya dengan nada mendesak seperti, "Kamu kenapa lagi?" atau "Memangnya ada masalah apa?" Dr. Hina Talib, dokter anak dan spesialis kedokteran remaja, membagikan saran mengenai percakapan tentang kesehatan mental anak melalui UNICEF Parenting.

"Cobalah untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Mendengarkan adalah keterampilan yang tidak mudah dan memerlukan latihan, namun sangat penting agar anak merasa didengarkan. Sebuah kiat yang baik adalah dengan menyampaikan kira-kira separuh saja dari apa yang sebenarnya ingin Anda katakan," saran Dr. Hina Talib.

UNICEF menekankan pentingnya menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk mengungkapkan isi pikirannya. Jika anak belum ingin bercerita, jangan langsung menganggapnya tidak mau terbuka kepada orangtua. Kamu bisa mengatakan, "Tidak apa-apa kalau kamu belum mau cerita sekarang. Mama atau Papa ada di sini kalau kamu sudah siap."

2. "Wajar kok kalau kamu merasa sedih"

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/cottonbro studio)

Ada kalanya anak merasa sedih karena hal yang tampak sederhana bagi orang dewasa. Orangtua mungkin tergoda membandingkan masalah tersebut dengan persoalan yang dianggapnya lebih besar. Namun, bagi anak, pengalaman itu bisa terasa sangat mengecewakan.

Mengakui perasaannya tidak berarti orangtua harus menganggap setiap keinginannya benar atau selalu menuruti permintaannya. Psikolog klinis Dr. Laura Phillips dari Child Mind Institute menjelaskan pentingnya membantu anak mengenali dan menerima emosinya.

“Anak-anak perlu tahu bahwa Anda menanggapi perasaan mereka dengan serius. Oleh karena itu, sangat membantu jika kita menyebutkan dan memvalidasi apa yang sedang dirasakan anak,” jelas Phillips.

Menurutnya, menunjukkan kepada anak bahwa orangtua menanggapi perasaan mereka dengan serius, serta membantu mereka mengungkapkan emosi tersebut ke dalam kata-kata, bisa membantu meredam potensi tantrum. Hal ini juga akan memudahkan anak untuk menyampaikan perasaan mereka dengan lebih efektif di lain waktu.

3. "Mama atau Papa mau mendengarkan. Ceritakan pelan-pelan aja ya"

potret orangtua dan anak (pexels.com/Tamilles Esposito)

Saat anak mulai bercerita, tahan keinginan untuk segera memberikan nasihat, menyalahkan pihak tertentu, atau menceritakan pengalaman pribadi yang serupa. Biarkan anak menyampaikan ceritanya sesuai kemampuan dan kecepatannya. Jika ia berhenti sejenak, tidak perlu buru-buru mengisi keheningan dengan banyak pertanyaan.

Terkadang, anak membutuhkan waktu untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya. Dalam panduan UNICEF Indonesia tentang 11 Tips for Communicating with Your Teen, menekankan pentingnya active listening atau mendengarkan secara aktif.

"Mendengarkan secara aktif merupakan hal yang penting saat berinteraksi dengan anak Anda. Pendengar yang aktif akan terlibat penuh, menunjukkan kepedulian, tidak menghakimi, serta memiliki empati-bahkan (dan terutama) saat ia tidak sependapat dengan pandangan orang lain. Meskipun beberapa keyakinan atau pendapat remaja Anda mungkin berbeda dengan pandangan Anda sendiri, Anda tetap perlu menghormati dan menghargai sudut pandang mereka. Hal ini juga akan mendorong mereka untuk turut menghormati pandangan dan pendapat Anda," jelasnya.

Untuk menunjukkan bahwa kamu benar-benar mendengarkan, kamu bisa mengatakan, "Mama dengar, tadi kamu sudah berusaha, tetapi hasilnya belum sesuai harapanmu," atau, "Jadi, kamu merasa sedih karena temanmu mengatakan hal itu?" Setelah itu, berikan kesempatan kepada anak untuk mengoreksi jika kamu salah memahami ceritanya. Hindari juga memegang ponsel atau terus menyela pembicaraannya. Perhatian penuh, ekspresi yang hangat, dan respons yang tidak menghakimi sering kali lebih berarti daripada nasihat panjang.

4. "Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian"

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Photo by Vlada Karpovich)

Anak yang sedang sedih terkadang merasa masalahnya terlalu besar untuk dihadapi sendiri. Misalnya, ia mengalami perundungan di sekolah, bertengkar dengan sahabat, merasa tidak mampu mengikuti pelajaran, atau takut mengecewakan orangtua.

Dalam situasi seperti ini, anak membutuhkan kepastian bahwa ia tetap dicintai dan didukung, bahkan ketika sedang mengalami kesulitan. Kalimat yang menenangkan dapat membantu membangun rasa aman agar anak tidak merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian.

Dalam panduan Helping Children and Adolescents Cope with Negative Feelings tentang membantu anak dan remaja menghadapi perasaan negatif, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan orang dewasa untuk memvalidasi pengalaman anak dengan menunjukkan bahwa mereka mendengarkan, memahami, dan tidak menghakimi. Salah satu contoh kalimat yang disarankan adalah, “I am very glad you told me.” Artinya, "Mama atau Papa senang kamu mau menceritakannya."

Orangtua dapat mengembangkan pesan tersebut menjadi kalimat yang sesuai dengan situasi anak, misalnya, "Terima kasih sudah percaya kepada Mama untuk cerita," "Apa pun yang terjadi, kita akan mencari jalan keluarnya bersama," atau, "Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini." Namun, dukungan juga perlu disertai tindakan nyata apabila anak menghadapi persoalan serius.

5. "Kamu ingin Mama atau Papa mendengarkan saja, atau membantu mencari solusi?"

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Monstera Production)

Tidak setiap anak yang bercerita sedang sedih ingin langsung mendapatkan saran. Ada yang hanya ingin meluapkan perasaan, ada yang membutuhkan pelukan, dan ada pula yang ingin dibantu memikirkan langkah berikutnya.

Oleh karena itu, orangtua sebaiknya tidak langsung menganggap bahwa setiap cerita merupakan permintaan untuk menyelesaikan masalah. Memberikan pilihan dapat membantu anak merasa dihargai sekaligus belajar mengenali apa yang sebenarnya ia butuhkan.

"Ingatlah untuk membangun kemitraan dengan anak Anda. Mintalah izin mereka mengenai bagaimana mereka ingin Anda menanggapi, sebelum Anda terburu-buru memberikan saran. Bisa jadi mereka hanya ingin mencurahkan isi hati, atau mungkin mereka ingin menentukan langkah selanjutnya sendiri dengan Anda sebagai pendukung di belakang mereka," jelas Dr. Hina Talib.

"Hal yang paling penting adalah meyakinkan mereka bahwa Anda selalu berada di pihak mereka, apa pun yang terjadi," tambahnya.

Kamu bisa bertanya, "Kamu mau cerita dulu sampai lega, atau kita pikirkan bersama apa yang bisa dilakukan?" Jika anak memilih bercerita, dengarkan tanpa menyela. Jika ia meminta bantuan, ajak mencari pilihan yang realistis tanpa mengambil alih seluruh persoalan.

Misalnya, ketika anak bertengkar dengan teman, orangtua bisa membantu memikirkan cara menyampaikan perasaan atau meminta maaf jika diperlukan. Anak tetap belajar menyelesaikan masalah, sementara orangtua hadir sebagai pendamping yang dapat dipercaya.

Membantu anak merasa didengar saat sedang sedih tidak selalu membutuhkan kalimat yang sempurna. Orangtua bisa memulainya dengan mengakui perasaan anak, mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan rasa aman, dan menanyakan bantuan seperti apa yang dibutuhkan. Hindari meremehkan kesedihan atau memaksanya segera kembali ceria hanya karena orangtua merasa masalahnya tidak terlalu besar. Ingat, tujuan mendampingi anak bukan membuatnya berhenti bersedih secepat mungkin, melainkan membantunya memahami emosi dan melewati masa sulit dengan dukungan yang tepat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article