Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Kebiasaan Anak Perempuan Sulung yang Diam-diam Melelahkan, Ada di Kamu?

6 Kebiasaan Anak Perempuan Sulung yang Diam-diam Melelahkan, Ada di Kamu?
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/ellyfairytale)
Share Article

Anak perempuan sulung sering dikenal sebagai sosok yang bisa diandalkan dalam berbagai situasi. Sejak kecil, mereka kerap terbiasa membantu orangtua, menjaga adik, hingga menjadi penengah ketika terjadi masalah di rumah. Tak heran jika banyak anak perempuan sulung tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Tuntutan untuk selalu kuat, sigap, dan mengutamakan orang lain sering kali terbawa hingga dewasa. Kondisi yang kerap dikaitkan dengan eldest daughter syndrome ini membuat banyak anak perempuan sulung merasa harus memikul lebih banyak beban dibanding orang lain. Berikut beberapa kebiasaan khas anak perempuan sulung yang diam-diam bisa membuat lelah secara fisik maupun emosional.

1. Selalu berusaha mencegah masalah sebelum terjadi

ilustrasi ibu dan anak berbincang
ilustrasi ibu dan anak berbincang (pexels.com/shkrabaanthony)

Anak perempuan sulung sering kali punya kemampuan membaca situasi lebih cepat dibanding orang lain. Mereka terbiasa memperhatikan perubahan suasana, mengenali potensi konflik, lalu mencari cara untuk mencegah masalah sebelum benar-benar muncul. Kebiasaan ini membuat mereka tampak sigap dan penuh inisiatif.

Namun, kemampuan ini sering membuat mereka memikul beban yang tak terlihat oleh orang lain. Mereka menghabiskan banyak energi untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk, mengatur situasi, dan memastikan semuanya berjalan lancar. Akibatnya, mereka mudah merasa lelah dan usaha mereka jarang ada yang menyadari.

"Perempuan pada umumnya diajarkan untuk mengamati, mempersiapkan diri, berpikir jauh ke depan, dan menyadari sesuatu sebelum hal itu terjadi. Namun anak perempuan sulung melakukannya dengan tingkat kesadaran yang jauh lebih tinggi," ujar  Dr. Allison Alford, peneliti dan penulis buku Good Daughtering, dikutip dari Parade.

2. Merasa harus mengurus semuanya sendiri

ilustrasi wanita dalam perjalanan
ilustrasi perempuan sedang dalam perjalanan (pexels.com/ketutsubiyanto)

Banyak anak perempuan sulung terbiasa mengambil alih tanggung jawab ketika melihat ada pekerjaan yang belum dilakukan. Mereka sering menjadi orang yang mengatur acara keluarga, menjadi pengingat anggota keluarga lain, hingga memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Tanpa sadar, mereka otomatis bergerak jika sesuatu perlu dilakukan.

Kebiasaan ini dapat membuat mereka kewalahan karena terus membawa beban yang sebenarnya bisa dibagi dengan orang lain. Di sisi lain, orang-orang di sekitar juga bisa terbiasa bergantung kepada mereka. Akibatnya, anak perempuan sulung sering merasa tidak mendapat bantuan yang cukup meski sudah mengorbankan banyak waktu dan tenaga.

"Karena merasa bisa melihat segala sesuatu, anak perempuan sulung sering merasa bahwa jika ia bisa melihat suatu masalah, maka masalah itu otomatis menjadi tanggung jawabnya," jelas  Dr. Allison Alford.

3. Sulit mengatakan "tidak"

ilustrasi dua perempuan berbincang di ruangan berisi pakaian
ilustrasi dua perempuan berbincang di ruangan berisi pakaian (pexels.com/kampus)

Menjaga keharmonisan keluarga sering menjadi prioritas bagi anak perempuan sulung. Mereka terbiasa mengalah, menghindari konflik, dan berusaha memenuhi harapan orang lain agar suasana tetap kondusif. Gak heran jika banyak dari mereka kesulitan menolak permintaan, meski sebenarnya mereka belum tentu sanggup melakukannya.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat kebutuhan pribadi terabaikan. Mereka terus memberi ruang bagi orang lain, tetapi jarang memberi ruang bagi diri sendiri. Ketika kelelahan mulai menumpuk, rasa kesal dan frustrasi pun dapat muncul secara perlahan.

"Banyak anak perempuan sulung belajar sejak kecil bahwa menjaga kedamaian, bersikap mudah mengalah, dan tidak memiliki terlalu banyak kebutuhan pribadi membantu keluarga tetap berjalan dengan baik," jelas Chloë Bean, LMFT, terapis trauma somatik, dikutip dari Real Simple.

4. Selalu ingin terlihat sempurna

ilustrasi wanita sedang memeriksa keadaan kulit (pexels.com/ivan-samkov)
ilustrasi wanita sedang memeriksa keadaan kulit (pexels.com/ivan-samkov)

Sebagian anak perempuan sulung tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus menjadi sosok yang dapat diandalkan. Mereka berusaha menghindari kesalahan, bekerja keras, dan selalu memberikan hasil terbaik dalam berbagai situasi. Dari luar, mereka mungkin terlihat sukses dan mampu mengendalikan semuanya.

Sayangnya, keinginan untuk selalu sempurna dapat menciptakan tekanan yang besar. Mereka sering merasa gagal ketika melakukan kesalahan kecil atau tidak mampu memenuhi ekspektasi yang tinggi. Jika terus berlangsung, kondisi ini dapat meningkatkan risiko stres berkepanjangan hingga burnout.

"Sebagian anak perempuan sulung menginternalisasi keyakinan bahwa mereka tidak boleh melakukan kesalahan, atau bahwa nilai diri mereka berasal dari kemampuan untuk terlihat mengesankan, dapat diandalkan, dan selalu mampu mengatasi segala hal," jelas Chloë Bean.

5. Terlalu fokus pada perasaan orang lain

ilustrasi dua wanita berdisukusi (pexels.com/tirachardkumtanom)
ilustrasi dua wanita berdisukusi (pexels.com/tirachardkumtanom)

Anak perempuan sulung sering memiliki kepekaan emosional yang tinggi. Mereka mudah menangkap perubahan ekspresi, nada bicara, maupun suasana hati orang-orang di sekitarnya. Kemampuan ini membuat mereka sering menjadi tempat bercerita atau mencari dukungan bagi keluarga dan teman.

Namun, terlalu fokus pada perasaan orang lain bisa membuat mereka lupa memerhatikan kondisi diri sendiri. Mereka terbiasa membaca suasana, menangkap perubahan emosi orang lain, dan berusaha menjaga semuanya tetap baik-baik saja. Akibatnya, energi emosional mereka terkuras meski masalah yang dihadapi bukan miliknya sendiri.

6. Sulit menerima bantuan dari orang lain

ilustrasi wanita berpegangan tangan(pexels.com/shvetsproduction)
ilustrasi wanita berpegangan tangan(pexels.com/shvetsproduction)

Karena terbiasa menjadi orang yang membantu, banyak anak perempuan sulung merasa tidak nyaman saat harus menerima bantuan dari orang lain. Mereka sering memilih mengatasi semuanya sendiri, bahkan ketika sedang kelelahan atau kewalahan.

Padahal, hubungan yang sehat tidak hanya soal memberi, tetapi juga menerima. Belajar meminta dan menerima bantuan dapat meringankan beban sekaligus memberi kesempatan bagi orang-orang terdekat untuk menunjukkan perhatian dan dukungan mereka.

Menjadi anak perempuan sulung memang membentuk banyak kemampuan berharga, tetapi bukan berarti semua beban harus ditanggung sendirian. Sesekali memprioritaskan diri sendiri dan menetapkan batasan juga penting agar tetap sehat secara fisik maupun emosional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

Jenis Tanaman yang Bantu Kurangi Bau Apek dan Lembap di Dalam Ruangan

27 Jun 2026, 06:15 WIBLife