"Third place, yakni ruang publik yang menawarkan interaksi sosial dan ikatan komunitas-dapat mendorong respons yang adaptif melalui mekanisme yang saling membentuk (yaitu, saling memperkuat dan saling terkait) antara rasa kebersamaan secara psikologis dan modal sosial," kata Danielle M. Littman, peneliti bidang psikologi komunitas dikutip dari Community Psychology.
Kalau Gen Z Tinggal di Kampung Durian Runtuh, Kira-kira Bakal Ngapain?

Bayangkan kalau anak-anak Gen Z tiba-tiba pindah ke Kampung Durian Runtuh. Tidak ada kafe estetik di setiap sudut, belum tentu ada coworking space, dan mungkin sinyal internet pun tidak selalu bisa diandalkan. Tetapi, di sisi lain, ada halaman untuk nongkrong, tetangga yang saling kenal, teman yang bisa ditemui tanpa harus membuat janji berminggu-minggu, serta banyak aktivitas sederhana yang tidak membutuhkan biaya besar.
Awalnya mungkin terasa seperti culture shock. Setelah terbiasa, justru bukan tidak mungkin Gen Z menemukan sesuatu yang selama ini sulit dicari di kehidupan modern: komunitas yang terasa dekat. Lalu apa jadinya kalau mereka tinggal di Kampung Durian Runtuh?
1. Bikin konten: “Sehari Jadi Anak Kampung”

Upin dan Ipin (dok. Les' Copaque Production) Kalau Gen Z tinggal di Kampung Durian Runtuh, kemungkinan besar kamera smartphone tetap ikut ke mana-mana. Bedanya, kontennya mungkin bukan lagi tentang kafe terbaru atau weekend getaway, melainkan “sehari jadi anak kampung”, tutorial bikin makanan sederhana, vlog ikut kegiatan warga, sampai video lucu ketika nongkrong bareng teman-teman.
Ini bukan berarti Gen Z harus meninggalkan dunia digital. Justru kemampuan membuat konten bisa menjadi cara untuk mendokumentasikan kehidupan komunitas. Kampung yang awalnya dianggap biasa saja bisa menjadi menarik ketika dilihat melalui perspektif kreatif. Aktivitas seperti memasak bersama, bermain di halaman, berkebun, atau ikut kerja bakti dapat dikemas menjadi konten yang menghibur sekaligus memperkenalkan kehidupan bertetangga.
2. Bikin nongkrong hemat ala third place

Upin dan Ipin (dok. Les' Copaque Production/Upin Ipin) Kalau tidak ada coffee shop, Gen Z kemungkinan akan menciptakan versi third place-nya sendiri. Bisa berupa teras rumah, balai warga, halaman, warung, atau tempat sederhana lain yang menjadi titik berkumpul setelah sekolah dan bekerja. Tidak perlu interior mahal; yang penting ada tempat duduk, obrolan, dan orang-orang yang datang secara rutin.
Kalau konsep ini diterapkan di Kampung Durian Runtuh, teras rumah atau warung bisa berubah menjadi tempat yang punya fungsi lebih besar daripada sekadar tempat nongkrong. Di sana Gen Z bisa mengerjakan tugas, ngobrol soal pekerjaan, bertukar rekomendasi, bermain game, membuat proyek kecil, atau sekadar mengeluh tentang hidup.
3. Bikin side hustle dari potensi kampung

cuplikan episode Pokok Seribu Guna di serial Upin dan Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production) Gen Z mungkin tidak akan tinggal diam melihat potensi ekonomi di sekitar mereka. Ada yang bisa membuka jasa desain, membuat akun media sosial kampung, menjual makanan, membuat hampers, membantu UMKM, menjual produk kerajinan, atau bahkan membuat konten wisata tentang Kampung Durian Runtuh.
Teknologi tetap digunakan, tetapi bukan sekadar untuk scrolling. Ada anak muda yang mengurus pemasaran digital, ada yang mengelola keuangan, ada yang membuat foto produk, dan ada yang mengurus produksi. Kalau dilakukan bersama, pekerjaan bukan hanya menghasilkan uang, tetapi juga memperkuat hubungan antarpenghuni.
4. Bikin acara kampung yang lebih Gen Z

Upin dan Ipin mengikuti lomba karaoke (youtube.com/Les' Copaque Production) Bayangkan ada pengumuman, “Malam Minggu, semua warga kumpul.” Gen Z mungkin awalnya bertanya, “Agendanya apa?” Tetapi setelah itu, kemungkinan mereka justru punya banyak ide: movie night, turnamen Mobile Legends, lomba memasak, open mic, pasar kecil, kelas fotografi, karaoke, sampai kompetisi membuat konten.
Hal tersebut sebenarnya berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk mempunyai ruang bertemu secara rutin. Penelitian mengenai third places menunjukkan bahwa ruang publik yang memungkinkan interaksi sosial dapat membantu membangun modal sosial, rasa senang, dan rasa memiliki terhadap komunitas.
"Third places berkontribusi terhadap kesejahteraan mental melalui jalur emosional, terutama dengan menumbuhkan rasa 'senang' melalui interaksi sosial dan desain lingkungan, sementara ruang alami memupuk rasa 'syukur' melalui koneksi biofilik," demikian laporan studi Neurological benefits of third places for young adults in healthy urban environments ScienceDirect.
Jadi, kalau Gen Z diberi kesempatan ikut mengatur kegiatan kampung, jangan kaget kalau format acaranya berubah. Tradisi lama tidak harus dibuang; bisa dikombinasikan dengan ide baru. Kerja bakti bisa diikuti sarapan bersama, lomba tujuh belasan bisa punya kategori konten kreatif, dan acara warga bisa memiliki sesi musik atau permainan.
5. Tetap main bareng, bukan cuma main online

Upin dan Ipin sedang bermain bersama teman sebayanya (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin) Ini mungkin bagian paling menarik. Gen Z memang tumbuh bersama internet, game online, media sosial, dan berbagai bentuk komunikasi digital. Tetapi kalau tinggal di lingkungan seperti Kampung Durian Runtuh, mereka punya kesempatan untuk mengalami kembali bentuk pertemanan yang lebih spontan: keluar rumah, melihat siapa yang sedang nongkrong, lalu ikut bergabung tanpa harus mengirim pesan “lagi di mana?” terlebih dahulu.
Kalau Gen Z tinggal di Kampung Durian Runtuh, mungkin mereka tetap bermain game, membuat TikTok, menggunakan AI, bekerja secara remote, dan aktif di media sosial. Bedanya, setelah laptop ditutup atau baterai smartphone habis, masih ada orang di sekitar yang bisa diajak ngobrol. Dan mungkin justru di situlah menariknya kehidupan kampung: teknologi tetap ada, tetapi hubungan antarmanusia tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi.
Kalau dipikir-pikir, Gen Z yang tinggal di Kampung Durian Runtuh mungkin tidak akan benar-benar menjadi ‘anak kampung’ seperti gambaran generasi sebelumnya. Mereka tetap membawa smartphone, membuat konten, mencari peluang kerja, menggunakan teknologi, dan mengikuti tren. Namun, mereka mungkin juga menemukan bahwa hidup tidak selalu harus diisi dengan mengejar tren terbaru.





















