Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemampuan Alami Bayi yang Bikin Kaget, Sudah Pintar Sejak Lahir!
ilustrasi orangtua dan bayi (pexels.com/nappy)
  • Sejak beberapa bulan pertama, bayi mampu mengenali emosi, wajah, serta suara familier, yang mendukung interaksi sosial dan adaptasi mereka.
  • Bayi menunjukkan pemahaman awal terhadap pola, jumlah sederhana, dan bahasa; bahkan dapat membedakan bunyi bahasa familier sejak usia sangat dini.
  • Refleks mencari, mengisap, menggenggam, serta kepekaan pada ritme musik menjadi bekal alami bayi untuk bertahan hidup dan belajar dari lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayi baru lahir memang belum bisa berbicara atau melakukan banyak hal sendiri. Namun, sejak dini mereka sudah memiliki berbagai kemampuan alami yang mengejutkan, mulai dari mengenali emosi dan suara familier hingga memahami pola serta merespons musik.

Kemampuan tersebut bukan berarti bayi sudah memahami dunia seperti orang dewasa. Sebaliknya, kemampuan alami ini menjadi bekal awal yang membantu mereka belajar dan beradaptasi dengan lingkungan sejak lahir. Lantas, apa saja kemampuan bayi yang mungkin belum banyak diketahui orangtua? Yuk, ketahui lewat artikel berikut!

1. Bayi sudah bisa mengenali dan merespons emosi

ilustrasi menggendong bayi (pexels.com/helenalopes)

Jangan mengira bayi belum bisa memahami suasana hati orang di sekitarnya karena mereka belum dapat berbicara. Penelitian yang dirangkum Parents menunjukkan bahwa ketika berusia beberapa bulan, bayi sudah dapat membedakan ekspresi bahagia dan sedih, bahkan sekitar usia satu tahun mereka mulai mampu merasakan bagaimana perasaan orang lain.

Kemampuan ini juga terlihat ketika bayi diperlihatkan situasi yang menunjukkan seseorang mengalami perlakuan buruk. Dalam sebuah penelitian, bayi berusia lima bulan lebih banyak memilih figur yang sebelumnya terlihat mengalami penderitaan sehingga peneliti melihat adanya preferensi empatik sejak usia dini.

“Ketika bayi baru lahir berusia beberapa bulan, mereka sudah bisa mengenali perbedaan antara ekspresi bahagia dan ekspresi sedih,” ujar Alison Gopnik, PhD, profesor psikologi dan penulis The Philosophical Baby, dikutip dari Parents.

2. Bayi ternyata sudah punya kemampuan matematika dasar

ilustrasi bayi bermain (pexels.com/Nikita Nikitin)

Meski belum mengenal angka, bayi ternyata sudah memiliki pemahaman dasar tentang matematika. Dalam penelitian, bayi usia 6–9 bulan menatap lebih lama ketika melihat hasil pengurangan yang keliru, menunjukkan bahwa mereka dapat mengenali ketidaksesuaian sederhana.

Bayi juga mampu memahami pola dan kemungkinan sederhana. Pada usia 8 bulan, mereka lebih lama memperhatikan hasil yang tidak sesuai dengan komposisi bola dalam sebuah kotak, menunjukkan kemampuan penalaran statistik sejak dini.

“Itu merupakan kemampuan penalaran yang sangat canggih untuk ukuran seorang bayi,” ujar Alison Gopnik, PhD.

3. Mereka bisa belajar bahasa bahkan sebelum lancar bicara

ilustrasi bayi menangis (pexels.com/sarahchai)

Kemampuan berbahasa ternyata mulai berkembang jauh sebelum bayi mampu mengucapkan kata pertamanya. Bayi memiliki kemampuan alami untuk mempelajari lebih dari satu bahasa dan penelitian yang dikutip Parents menemukan bahwa bayi bilingual berusia 20 bulan sudah dapat memproses dua bahasa secara akurat dan efisien.

Menariknya, proses pengenalan bahasa bahkan dapat dimulai sejak masih berada di dalam kandungan. Penelitian terhadap bayi yang baru berusia sekitar 30 jam menunjukkan bahwa mereka dapat membedakan bunyi vokal dari bahasa ibu dan bahasa asing berdasarkan perubahan pola isapan empeng, yang mengindikasikan bahwa bayi sudah mengenali karakteristik bahasa yang familier.

4. Bayi sudah mengenali suara yang familier

ilustrasi menimang anak bayi (pexels.com/mateusz-dach)

Suara orangtua, terutama ibu, bukan sekadar suara biasa bagi bayi. Bayi yang baru lahir mampu membedakan berbagai suara, sementara bahasa yang mereka dengarkan pada usia dini terdengar seperti rangkaian nada dan ritme sehingga suara yang familier dapat menjadi lebih mudah dikenali.

Karena itu, sering mengajak bayi berbicara sebenarnya bisa menjadi bagian dari proses interaksi sejak awal kehidupannya. Lisa Diard, MD, dokter anak di Cleveland Clinic, dikutip dari Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa bayi dapat mengenali suara yang familier dan mungkin akan segera mulai menoleh ketika mendengar suara orang yang mereka kenal.

“Mereka mengenali suara yang familier, jadi kamu sebaiknya sering berbicara kepada bayi. Tidak lama kemudian, kamu mungkin akan melihat mereka menoleh ke arah suara kamu,” ujar Lisa Diard.

5. Bayi sudah punya refleks alami untuk bertahan hidup

ilusrasi memotret bayi (pexels.com/jonathanborba)

Salah satu hal yang membuat bayi terlihat menakjubkan adalah berbagai refleks yang sudah mereka miliki sejak lahir. Misalnya, ketika pipi atau mulut bayi disentuh, mereka akan memutar kepala ke arah sentuhan dan membuka mulut, sebuah respons yang membantu mereka menemukan sumber makanan.

Selain refleks mencari puting atau rooting reflex, bayi juga memiliki refleks mengisap, menggenggam, melangkah, Moro, dan tonik leher. Refleks tersebut merupakan respons alami yang membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan sekaligus menjadi bagian dari perkembangan sistem saraf mereka.

6. Bayi sudah bisa mengenali wajah

ilustrasi balita dan bayi (unsplash.com/nate_dumlao)

Beberapa bulan pertama kehidupan ternyata sudah cukup bagi bayi untuk mulai mengenali wajah orang yang familier. Ketika berusia sekitar 5–8 bulan, bayi bahkan dapat membedakan orang yang mereka kenal dengan orang asing, sehingga kemampuan melihat wajah berperan penting dalam interaksi sosial sejak dini.

Kemampuan visual bayi memang masih berkembang secara bertahap. Bayi baru lahir sudah dapat melihat gerakan dan membedakan kontras hitam-putih, lalu sekitar usia 2–3 bulan mereka mulai memiliki kontrol otot mata yang lebih baik sehingga mampu memfokuskan pandangan pada objek dan mengikutinya dengan mata.

7. Mereka sudah peka terhadap ritme musik

ilustrasi anak balita perhatian dengan adik bayi (pexels.com/kampus)

Bayi ternyata lahir dengan kecenderungan alami terhadap musik. Penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America menunjukkan bahwa kemampuan mendeteksi ketukan dalam rangkaian suara berirama sudah berfungsi sejak lahir.

Itulah sebabnya bayi dapat memberikan respons ketika mendengar lagu dengan pola ritme berulang, bahkan dengan menggerakkan tangan atau tubuhnya. Meski terlihat seperti gerakan lucu biasa, respons tersebut sebenarnya dapat menjadi bagian dari proses bayi mengenali ritme dan belajar melalui pengalaman musik.

“Seorang anak paling banyak merespons musik ketika mereka menikmati pengalaman tersebut bersama orang lain,” ujar  Miriam Flaherty-Willis, senior director of education di Wolf Trap Foundation for the Performing Arts, dikutip dari Parents.

Sejumlah kemampuan alami tersebut menunjukkan bahwa bayi ternyata sudah aktif belajar sejak awal kehidupannya. Jadi, jangan remehkan respons kecil mereka karena bisa jadi itu bagian dari proses tumbuh dan memahami dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article