Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Saat Masalah Anak Jadi Konsumsi Publik, Ortu Perlu Pahami Privasi
ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Orangtua perlu menghindari mengumbar masalah pribadi anak di media sosial dan melibatkan anak dalam keputusan berbagi informasi sebagai bentuk penghormatan terhadap privasi serta persetujuan.
  • Unggahan tentang kesalahan, konflik, atau kegagalan anak berpotensi memicu rasa malu, tekanan emosional, dan hilangnya kepercayaan anak kepada orangtua.
  • Jejak digital dapat bertahan lama dan berisiko disalahgunakan; orangtua dianjurkan mencari dukungan secara privat atau menyamarkan identitas anak saat berdiskusi daring.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Media sosial kini menjadi tempat bagi banyak orangtua untuk berbagi cerita tentang kehidupan keluarga, termasuk tumbuh kembang anak. Mulai dari momen menggemaskan hingga prestasi di sekolah, semuanya bisa menjadi konten yang menarik perhatian warganet. Namun, bagaimana jika yang dibagikan bukan lagi momen menyenangkan, melainkan masalah pribadi anak yang seharusnya diselesaikan dalam lingkup keluarga?

Fenomena orangtua membagikan persoalan anak di media sosial perlu mendapat perhatian. Tidak sedikit masalah keluarga yang akhirnya menjadi perbincangan publik setelah foto, video, atau cerita tentang anak diunggah ke internet. Lantas, bagaimana seharusnya orangtua menyikapi persoalan ini?

1. Ketika masalah pribadi anak berubah menjadi konsumsi publik

ilustrasi parenting (pexels.com/Kaboompics.com)

Tidak semua persoalan anak perlu diketahui orang lain, apalagi oleh pengguna media sosial yang tidak memiliki hubungan langsung dengan keluarga. Sayangnya, keinginan untuk berbagi pengalaman terkadang membuat orangtua tanpa sadar mengungkapkan masalah pribadi anak, seperti kesulitan belajar, konflik dengan teman, perilaku yang dianggap buruk, hingga persoalan emosional.

Fenomena ini berkaitan dengan istilah sharenting, yaitu kebiasaan orangtua membagikan informasi mengenai anak di internet. Stacey Steinberg, profesor hukum dan Direktur Center on Children and Families di University of Florida, menjelaskan pentingnya melibatkan anak dalam keputusan mengenai informasi pribadi mereka yang dibagikan secara daring.

"Saat kita membagikan hal-hal mengenai anak-anak kita secara daring tanpa melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan tersebut, kita melewatkan kesempatan berharga untuk mengajarkan serta memberikan contoh kepada mereka tentang konsep persetujuan," jelasnya dikutip dari UNICEF.

2. Dampak psikologis ketika anak menjadi bahan pembicaraan di internet

ilustrasi parenting ibu dan anak (freepik.com/freepik)

Masalah anak yang diumbar di media sosial bukan sekadar persoalan privasi. Anak juga berpotensi mengalami tekanan emosional ketika mengetahui bahwa persoalan pribadinya diketahui banyak orang. Terlebih, jika konten tersebut berisi kesalahan, kegagalan, atau perilaku yang dianggap memalukan, anak mungkin merasa dipermalukan.

Situasi tersebut dapat memengaruhi hubungan anak dengan orangtua. Anak yang merasa cerita pribadinya tidak lagi aman untuk dibagikan, mungkin menjadi lebih tertutup dan enggan menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Mereka juga bisa merasa kehilangan kepercayaan karena orangtua dianggap tidak mampu menjaga batas antara persoalan keluarga dan konsumsi publik.

"Berapa pun usia kita, kita semua menginginkan otonomi atau kendali atas diri sendiri. Kita semua menghargai citra diri kita-baik saat kita berusia empat atau lima tahun dan ingin mengenakan gaun merah muda alih-alih gaun ungu, maupun saat kita berusia 12 atau 13 tahun dan ingin terlihat sedang menggenggam tangan nenek, atau justru tidak ingin terlihat sedang menggenggam tangan nenek. Hal-hal ini mungkin tampak sepele bagi orang dewasa, namun bagi anak-anak kita, semua itu sangatlah berarti," kata Stacey.

"Saat anak-anak merasakan sesuatu, emosi yang mereka rasakan itu sangat kuat, dan kita perlu memberi mereka ruang untuk mengungkapkannya. Anak-anak kecil belum bisa memberikan persetujuan yang didasari pemahaman penuh (informed consent) terkait aktivitas berbagi konten ini," tambahnya.

Tapi tentu, dampak psikologis setiap anak bisa berbeda-beda. Tidak semua anak akan mengalami tekanan yang sama ketika kisah pribadinya dibagikan. Namun, orangtua tetap perlu mempertimbangkan kemungkinan munculnya rasa malu, marah, kecewa, atau kehilangan kepercayaan. Terlebih, anak belum tentu memiliki kemampuan untuk menyampaikan keberatan atau memahami konsekuensi jangka panjang dari konten yang diunggah.

3. Jejak digital anak bisa bertahan hingga dewasa

ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/dlxmedia.hu)

Salah satu persoalan yang sering luput dari perhatian orangtua adalah jejak digital. Foto, video, dan cerita mengenai anak yang diunggah hari ini, berpotensi tetap tersedia di internet dalam waktu yang lama.

Meskipun unggahan telah dihapus, salinan konten mungkin masih tersimpan atau telah disebarkan oleh pengguna lain. Masalahnya, anak yang menjadi objek unggahan belum tentu memahami bahwa informasi tersebut dapat memengaruhi kehidupannya pada masa mendatang.

Cerita mengenai perilaku buruk, kegagalan akademis, atau konflik keluarga yang dianggap lucu oleh orangtua saat ini bisa saja menjadi sesuatu yang memalukan bagi anak ketika beranjak remaja atau dewasa. Oleh karena itu, orangtua perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum mengunggah persoalan anak.

4. Mencari dukungan tidak harus dengan membuka masalah anak

ilustrasi parenting (pexels.com/Kampus Production)

Menghadapi masalah pengasuhan memang tidak selalu mudah. Orangtua mungkin merasa kewalahan ketika anak mengalami kesulitan belajar, menunjukkan perilaku yang menantang, atau menghadapi konflik dengan teman sebaya. Dalam situasi tersebut, mencari dukungan dari orang lain merupakan hal yang wajar.

Namun, membagikan persoalan anak secara terbuka di media sosial bukan satu-satunya cara untuk mendapatkan bantuan. Orangtua dapat memilih cara yang lebih privat, misalnya berdiskusi dengan pasangan, anggota keluarga, rekan tepercaya, guru, dokter, atau psikolog anak.

Jika ingin meminta pendapat melalui komunitas pengasuhan daring, orangtua sebaiknya menghindari penyebutan nama, lokasi sekolah, foto, dan informasi lain yang memungkinkan identitas anak diketahui. Dengan demikian, orangtua tetap bisa mendapatkan masukan tanpa harus membuka seluruh persoalan pribadi anak kepada publik.

"Hal yang bisa dilakukan orangtua adalah menghindari penyebaran informasi yang terlalu pribadi mengenai anak-anak mereka, seperti cerita atau foto yang memalukan, meskipun orangtua mungkin menganggapnya lucu. Penting untuk mencoba melihat segala sesuatu dari sudut pandang anak," kata Stacey.

5. Menghormati privasi anak merupakan bagian dari pola asuh

ilustrasi parenting (pexels.com/PNW Production)

Menghormati privasi anak bukan berarti orangtua tidak boleh membagikan momen kebersamaan keluarga di media sosial. Namun, orangtua perlu memahami bahwa anak juga memiliki hak atas informasi pribadi dan kehidupannya sendiri. Semakin besar usia anak, semakin penting pula melibatkan mereka dalam keputusan mengenai foto, video, dan cerita yang akan dibagikan.

Dalam artikel yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA), praktik sharenting dibahas dari sudut pandang privasi, otonomi, dan keselamatan anak. Artikel tersebut menguraikan bahwa perkembangan teknologi, termasuk AI, turut meningkatkan risiko penyalahgunaan informasi dan gambar anak.

"Pesatnya kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah meningkatkan risiko bagi anak-anak dan remaja dalam hal perundungan siber (cyberbullying), pencurian identitas, dan eksploitasi data," demikian laporan APA.

Sebelum mengunggah sesuatu tentang anak, orangtua dapat membiasakan diri untuk meminta persetujuan sesuai usia dan kemampuan anak dalam memahami situasi. Jika anak menolak fotonya diunggah atau tidak ingin masalah pribadinya diketahui orang lain, orangtua sebaiknya menghormati keputusan tersebut. Untuk anak yang masih terlalu kecil untuk memberikan persetujuan secara sadar, orangtua perlu mengambil keputusan dengan mengutamakan kepentingan dan keselamatan anak.

Selain itu, orangtua juga perlu memberikan contoh penggunaan media sosial yang bertanggung jawab. Anak dapat belajar mengenai privasi, persetujuan, dan batasan dalam berbagi informasi melalui kebiasaan orangtua sehari-hari. Dengan begitu, menjaga privasi bukan hanya menjadi aturan yang harus dipatuhi anak, melainkan juga nilai yang diterapkan bersama dalam keluarga.

“Anak-anak kita adalah generasi pertama yang tumbuh besar dalam kondisi kehidupan mereka dibagikan secara terbuka. Kita adalah generasi orangtua pertama yang membesarkan anak di tengah kehadiran media sosial, dan hal itu sulit,” ujar Stacey.

 

Ketika masalah anak berubah menjadi konsumsi publik di media sosial, orangtua perlu kembali mengingat bahwa anak bukan sekadar bagian dari cerita keluarga yang bebas dibagikan. Mereka memiliki perasaan, kebutuhan akan privasi, serta hak untuk menentukan bagaimana kehidupan pribadinya diketahui orang lain.

Curated For You

Editorial Team

Related Article