ilustrasi parenting (pexels.com/PNW Production)
Menghormati privasi anak bukan berarti orangtua tidak boleh membagikan momen kebersamaan keluarga di media sosial. Namun, orangtua perlu memahami bahwa anak juga memiliki hak atas informasi pribadi dan kehidupannya sendiri. Semakin besar usia anak, semakin penting pula melibatkan mereka dalam keputusan mengenai foto, video, dan cerita yang akan dibagikan.
Dalam artikel yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA), praktik sharenting dibahas dari sudut pandang privasi, otonomi, dan keselamatan anak. Artikel tersebut menguraikan bahwa perkembangan teknologi, termasuk AI, turut meningkatkan risiko penyalahgunaan informasi dan gambar anak.
"Pesatnya kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah meningkatkan risiko bagi anak-anak dan remaja dalam hal perundungan siber (cyberbullying), pencurian identitas, dan eksploitasi data," demikian laporan APA.
Sebelum mengunggah sesuatu tentang anak, orangtua dapat membiasakan diri untuk meminta persetujuan sesuai usia dan kemampuan anak dalam memahami situasi. Jika anak menolak fotonya diunggah atau tidak ingin masalah pribadinya diketahui orang lain, orangtua sebaiknya menghormati keputusan tersebut. Untuk anak yang masih terlalu kecil untuk memberikan persetujuan secara sadar, orangtua perlu mengambil keputusan dengan mengutamakan kepentingan dan keselamatan anak.
Selain itu, orangtua juga perlu memberikan contoh penggunaan media sosial yang bertanggung jawab. Anak dapat belajar mengenai privasi, persetujuan, dan batasan dalam berbagi informasi melalui kebiasaan orangtua sehari-hari. Dengan begitu, menjaga privasi bukan hanya menjadi aturan yang harus dipatuhi anak, melainkan juga nilai yang diterapkan bersama dalam keluarga.
“Anak-anak kita adalah generasi pertama yang tumbuh besar dalam kondisi kehidupan mereka dibagikan secara terbuka. Kita adalah generasi orangtua pertama yang membesarkan anak di tengah kehadiran media sosial, dan hal itu sulit,” ujar Stacey.
Ketika masalah anak berubah menjadi konsumsi publik di media sosial, orangtua perlu kembali mengingat bahwa anak bukan sekadar bagian dari cerita keluarga yang bebas dibagikan. Mereka memiliki perasaan, kebutuhan akan privasi, serta hak untuk menentukan bagaimana kehidupan pribadinya diketahui orang lain.