Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tips Mengatur Kegiatan Anak yang Sibuk, Pastikan Ia Enjoy
ilustrasi praktikum (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • Anak dengan jadwal padat perlu minimal satu hari libur penuh setiap minggu untuk relaks, bermain, dan lepas dari rutinitas sekolah maupun les.
  • Orangtua perlu memantau kesehatan anak lewat batas aktivitas, tidur berkualitas 8–9 jam, serta nutrisi alami; penggunaan suplemen sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter.
  • Libatkan anak dalam menentukan kegiatan, jaga suasana hatinya, dan bantu persiapan saat jadwal sangat mepet agar aktivitas tidak terasa sebagai paksaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Zaman sekarang bukan cuma orangtua yang sibuk dengan pekerjaan dan tugas-tugas di rumah. Anak pun tak kalah sibuk. Malah kepadatan aktivitasnya bisa melebihi pekerjaan orangtua. Bekerja masih memiliki jam masuk dan jam pulang.

Setelah kamu dan pasangan tiba di rumah, gak perlu lagi mengurus pekerjaan kantor. Sementara anak setiap pulang sekolah membawa PR yang harus dikerjakan. Belum lagi tugas lain dan persiapan ulangan secara berkala.

Anak juga ikut berbagai les di luar sekolah. Baik di rumah, tempat bimbel, studio musik, maupun gelanggang olahraga. Setiap hari orangtua mengantar anak ke sana ke mari buat menjalani rutinitasnya. Dirimu serta pasanganmu mesti mengatur kegiatan anak yang sibuk sebaik mungkin tanpa melupakan kebutuhan dan haknya sebagai anak-anak.

1. Harus ada satu hari tanpa kesibukan padat

ilustrasi anak-anak beraktivitas (pexels.com/Leonard Antasari)

Anak tetap butuh waktu libur setidaknya sehari dalam seminggu. Libur yang benar-benar libur. Bukan hari libur itu tetap dihabiskan untuk aktivitas yang mengharuskannya bergegas dan fokus penuh.

Bahkan bila jenis kegiatannya seperti les olahraga yang tampaknya gak semenegangkan les pelajaran, anak tetap dapat lelah secara fisik dan psikis. Biarkan anak menikmati hari libur tersebut sepenuhnya untuk merilekskan diri. Dia boleh menonton film kartun, jalan-jalan ke taman serta jajan, bermain bersama kawan, dan sebagainya.

Bebaskan anak dari belenggu padatnya rutinitas Senin sampai Sabtu pada hari libur tersebut. Jangan pula hari masih pagi, tapi orangtua sudah menanyakan seputar kegiatannya minggu depan. Anak bisa mengalami sesak napas terus-menerus, berkutat dengan aktivitas super padat buat ukuran usianya.

2. Memperhatikan kesehatan, waktu istirahat, dan asupan nutrisinya

ilustrasi anak belajar (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Anak-anak lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Apalagi saat kondisinya kelelahan karena aktivitas yang sambung-menyambung dari pagi sampai sore bahkan malam selama sepekan. Orangtua wajib memberikan perhatian ekstra terkait kesehatan anak.

Jangan tunggu anak sakit baru ia boleh beristirahat. Tetap batasi waktu berkegiatan. Anak kudu mendapatkan tidur yang berkualitas selama 8 hingga 9 jam. Apalagi ia masih dalam tahap pertumbuhan.

Selain waktu istirahat, anak juga mesti memperoleh asupan nutrisi yang sesuai dengan kesibukannya. Akan tetapi, jangan pula sembarangan membombardir tubuh kecilnya dengan suplemen. Boleh jadi itu justru pelan-pelan merusak kesehatan anak.

Cobalah untuk memenuhinya dari sumber makanan alami. Kalaupun orangtua ingin kasih suplemen ke anak, konsultasikan dulu dengan dokter. Pun ingat bahwa suplemen terbaik sekalipun tak lantas membuat anak bisa beraktivitas tanpa kenal lelah.

3. Bantu menata perlengkapannya biar rapi dan siap dibawa

ilustrasi latihan bela diri (pexels.com/RDNE Stock project)

Ini bukan buat menghambat kemandiriannya. Memang idealnya anak menyiapkan segala perlengkapan sekolah dan lesnya sendiri. Biar ia juga gak bingung mencari apa di mana. Akan tetapi, aktivitas yang sangat padat pasti menyulitkannya.

Tenaganya sudah terbatas. Pikirannya terpecah pada berbagai kegiatan yang harus segera diikuti. Wajar apabila anak membutuhkan bantuan orangtua atau PRT buat mempersiapkan alat-alat yang mesti dibawa saat berkegiatan di luar.

Daripada anak buru-buru mengemasnya lalu ada yang ketinggalan karena lupa. Namun, bantuan tetap diimbangi dengan kewajiban anak untuk mempersiapkan perlengkapannya sendiri ketika jadwalnya agak longgar. Kalau anak habis pulang sebentar sudah harus berangkat lagi untuk les, mending orangtua yang siap-siap.

4. Menjaga suasana hatinya

ilustrasi anak belajar (pexels.com/Vitaly Gariev)

Suasana hati anak yang gak kecapekan saja mudah berubah menjadi negatif. Apalagi ketika ia lelah badan dan pikiran oleh kepadatan aktivitas di sekolah maupun luar sekolah. Pasti tak jarang anak tiba-tiba bad mood.

Seperti saat anak masih ingin tidur siang, tapi harus segera bangun dan berangkat les. Perubahan suasana hatinya dapat lebih sering serta tajam jika orangtua tidak bisa bersikap penuh pengertian. Misalnya, kasih tuntutan setinggi langit.

Contoh, anak ikut les bela diri dan sedang mempersiapkan untuk lomba. Orangtua mewajibkan anak untuk menang sehingga ia harus berlatih sangat keras. Anak pasti kesal. Kamu dan pasanganmu cuma enak main perintah. Sementara anak kecapekan mengikuti latihan sekeras itu, masih dituntut setinggi langit.

5. Pastikan anak gak sesibuk itu karena paksaan, kudu enjoy

ilustrasi anak belajar (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Membiasakan anak punya aktivitas penting tentu baik. Daripada waktu luangnya terlalu banyak dan diisi dengan kebiasaan kurang positif. Seperti terus-menerus bermain smartphone atau menonton televisi. Hanya saja, tidak tepat kalau orangtua terlalu memaksanya.

Sampai anak gak punya kesempatan bernegosiasi sama sekali. Misalnya, orangtua memaksakan les musik, padahal anak lebih suka olahraga. Atau, dirimu mau ada les setiap hari, sedangkan anak cuma sanggup 3 sampai 5 hari seminggu.

Tetaplah menghargai pendapat dan pilihan anak. Beri arahan secukupnya dan jangan mengharuskan dia mengikuti kemauan orangtua tanpa kesempatan tawar-menawar. Bagaimanapun juga, anak yang akan menjalani setiap kegiatan itu. Bukan kamu dan pasangan.

Anak perlu diperkenalkan pada kesibukan yang positif supaya ketika ia dewasa menjadi pribadi yang produktif. Namun, jangan lupa bahwa ia masih anak-anak yang energinya terbatas serta punya kebutuhan lain seperti beristirahat, bahkan bermain. Ketika mengatur kegiatan anak yang sibuk, sebisa mungkin libatkan mereka dalam diskusi terkait aktivitas yang akan dijalani agar mereka gak merasa cuma disuruh-suruh tanpa bisa menolak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article