Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trik Menghadapi Anak yang Kehilangan Minat untuk Sekolah

5 min read
Trik Menghadapi Anak yang Kehilangan Minat untuk Sekolah
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/www.kaboompics.com)
  • Orangtua dianjurkan mendengar alasan anak kehilangan minat sekolah, termasuk kesulitan pelajaran atau lingkungan, lalu mencari bantuan belajar maupun berdiskusi dengan guru.
  • Minat dan cita-cita anak dapat dipakai untuk mengenalkan beragam profesi serta menghubungkan pelajaran sekolah dengan kegiatan yang mereka sukai secara nyata.
  • Anak perlu diajak memeriksa cerita sukses di media sosial, memahami risiko dan prosesnya, lalu menyusun kesepakatan agar sekolah serta cita-cita berjalan seimbang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Anak usia 9–17 tahun biasanya mulai mengenal berbagai gambaran kesuksesan dari media sosial. Ada yang melihat seorang streamer bisa menghasilkan uang dari bermain gim, mengikuti kreator yang membagikan keuntungan investasi, atau menonton pengusaha muda yang mengaku berhasil membangun bisnis tanpa ijazah. Cerita seperti itu bisa membuat sekolah terlihat membosankan, apalagi jika anak sedang merasa pelajaran di kelas tidak menarik dan kegiatan sehari-hari terasa jauh dari hal yang ingin mereka capai.

Ketika anak mulai berkata, "Buat apa sekolah? Banyak orang sukses juga gak sekolah," respons orangtua sebaiknya tidak berhenti pada larangan atau ceramah tentang pentingnya pendidikan. Anak perlu diajak memahami bahwa cerita sukses yang ditonton di internet belum tentu memperlihatkan seluruh proses di baliknya. Orangtua juga bisa memanfaatkan cita-cita yang sedang disukai anak sebagai jalan untuk menunjukkan bahwa sekolah bukan penghalang, melainkan salah satu bekal untuk mengejar lebih banyak kemungkinan. Yuk, simak sejumlah trik menghadapi anak yang kehilangan minat untuk sekolah berdasarkan catatan di bawah ini!

  1. 1. Dengarkan dulu alasan anak ingin meninggalkan sekolah

    ilustrasi orangtua dan anak
    ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Vitaly Gariev)

    Ketika anak mulai mengatakan bahwa sekolah tidak penting, jangan buru-buru membalas dengan nasihat panjang kali lebar. Cari tahu apakah pemikiran tersebut muncul karena ia kesulitan mengikuti pelajaran, tidak nyaman dengan lingkungan sekolah, merasa salah memilih teman, atau justru sedang tertarik pada kehidupan seseorang yang dia lihat di internet. Kamu bisa bertanya, "Memangnya sejak kapan kamu merasa sekolah gak penting? Ada sesuatu yang bikin kamu gak betah, atau kamu lagi pengin apa?" Jawaban yang keluar dapat membantu orangtua memahami persoalan yang sebenarnya, sehingga pendekatan yang dipilih tidak meleset dari penyebabnya.

    Misalnya, anak mengaku malas berangkat sekolah karena selalu merasa tertinggal saat pelajaran fisika. Daripada langsung menyuruhnya lebih rajin belajar, tanyakan bagian mana yang paling sulit dipahami dan apakah ia pernah merasa malu untuk bertanya kepada guru. Jika ternyata masalahnya memang berkaitan dengan pelajaran, orangtua bisa membantu mencari cara belajar yang lebih cocok atau menghubungi guru untuk membicarakan kesulitannya. Penolakan terhadap sekolah tidak selalu berarti anak tidak peduli dengan masa depannya; bisa jadi ada pengalaman yang membuat kegiatan belajar terasa semakin berat.

  2. 2. Manfaatkan cita-cita anak untuk mengenalkan pilihan lain

    ilustrasi bermain gim
    ilustrasi bermain gim (pexels.com/RDNE Stock project)

    Anak akan lebih mudah diajak bicara ketika minatnya tidak langsung dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Jika ia ingin menjadi streamer, misalnya, orangtua bisa menanggapi, "Jadi streamer emang keren, tapi kamu pernah kepikiran gak buat jadi orang yang menciptakan gimnya? Kamu bisa bikin gim yang nantinya dimainkan banyak orang." Obrolan tersebut dapat diperluas dengan mengenalkan pekerjaan pengembang gim, perancang karakter, atau profesi lain yang berkaitan. Anak pun bisa melihat bahwa ketertarikannya tidak harus berhenti pada satu profesi yang sedang dikagumi saat ini.

    Arah pembicaraan seperti ini bukan dimaksudkan untuk memaksa anak mengganti cita-citanya. Orangtua justru sedang memperlihatkan bahwa sebuah hal yang tengah ia minati bisa membuka lebih banyak kemungkinan yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh anak. Ajak ia mencari tahu pekerjaan yang berkaitan dengan bidang tersebut, termasuk tugas sehari-hari dan keterampilan yang dibutuhkan. Semakin banyak pilihan yang dikenali, semakin besar kesempatan anak menemukan tujuan yang membuatnya bersemangat untuk belajar.

  3. 3. Ajak anak memeriksa cerita sukses yang ditontonnya

    ilustrasi orangtua dan anak
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Julia M Cameron)

    Ketika anak terpengaruh oleh konten yang mengatakan bahwa sekolah hanya membuang waktu, jangan sekadar menyebut pembuat konten tersebut sebagai orang yang menyesatkan. Ajak anak memeriksa informasi yang disampaikan melalui pertanyaan sederhana. Misalnya, jika ia mengagumi seorang investor muda yang sering memamerkan keuntungan dari saham, tanyakan apakah ia juga mengetahui pengalaman orang tersebut ketika mengalami kerugian. Ajak anak mencari informasi dari sumber lain untuk melihat apakah perjalanan yang ditampilkan di media sosial benar-benar sesuai dengan kenyataan.

    Anak juga perlu memahami bahwa keberhasilan satu orang tidak otomatis bisa dijadikan patokan bagi semua orang. Konten yang memperlihatkan hasil investasi biasanya tidak selalu menjelaskan seluruh proses pengambilan keputusan, risiko yang dihadapi, atau kerugian yang mungkin terjadi. Orangtua bisa mengajak anak membedakan pengalaman pribadi seseorang dengan informasi yang memang bisa dibuktikan. Dengan begitu, anak tidak langsung percaya bahwa jalan menuju kesuksesan bisa ditempuh dengan cara yang sama.

  4. 4. Hubungkan pelajaran sekolah dengan kegiatan yang ingin dicoba anak

    ilustrasi belajar biologi
    ilustrasi belajar biologi (pexels.com/Katerina Holmes)

    Penjelasan bahwa sekolah berguna untuk masa depan mereka sering terdengar terlalu abstrak bagi anak yang sedang tidak tertarik belajar. Manfaat pelajaran akan lebih mudah dipahami ketika diperlihatkan melalui kegiatan yang mereka sukai. Jika anak tertarik pada musik, misalnya, ajak ia mencoba membuat rekaman sederhana dan membandingkan hasil suara dari beberapa posisi mikrofon. Dari percobaan tersebut, orangtua bisa mengenalkan bahwa konsep gelombang bunyi yang dipelajari dalam fisika juga berkaitan dengan cara suara direkam dan terdengar.

    Pengalaman semacam itu dapat menjadi pengingat bahwa pelajaran di sekolah tidak selalu terpisah dari kehidupan sehari-hari. Setiap bidang punya kegunaan yang berbeda, termasuk biologi untuk memahami tubuh dan kesehatan, geografi untuk mengenali kondisi wilayah, atau sejarah untuk mempelajari perubahan masyarakat. Orangtua tidak perlu menghubungkan semua mata pelajaran dengan cita-cita anak sekaligus. Cukup tunjukkan satu hubungan yang benar-benar bisa mereka lihat atau coba sendiri agar kegiatan belajar terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.

  5. 5. Buat kesepakatan agar cita-cita dan sekolah tetap berjalan

    ilustrasi siswa sekolah
    ilustrasi siswa sekolah (unsplash.com/Syahrul Alamsyah Wahid)

    Setelah anak mulai terbuka terhadap pembicaraan mengenai masa depannya, ajak ia membuat kesepakatan yang masuk akal. Anak yang ingin menjadi atlet, misalnya, bisa dibantu menyusun jadwal latihan bersama waktu untuk mengerjakan tugas, beristirahat, dan mengikuti kegiatan sekolah. Kesepakatan tersebut perlu dibuat bersama agar anak merasa dilibatkan dalam menentukan rutinitasnya, bukan sekadar menerima aturan yang ditetapkan sepihak. Orangtua juga bisa membicarakan target yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu supaya perkembangan kegiatannya dapat dievaluasi.

    Evaluasi perlu dilakukan secara berkala, terutama jika anak masih sering menolak berangkat sekolah atau mengabaikan tanggung jawabnya. Jika kesepakatan sulit dijalankan, cari tahu bagian mana yang terasa memberatkan dan apakah ada masalah lain yang belum terselesaikan. Guru BK atau wali kelas dapat dilibatkan apabila persoalannya berkaitan dengan lingkungan sekolah maupun kesulitan belajar yang belum tertangani. Dukungan terhadap cita-cita anak tetap bisa diberikan tanpa mengharuskannya meninggalkan pendidikan.

    Menghadapi anak yang kehilangan minat untuk sekolah membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan apa yang mereka sukai dan percayai. Orangtua tidak harus memenangkan perdebatan tentang siapa yang benar, tetapi perlu membantu anak melihat bahwa cerita sukses di internet bukan patokan sukses untuk semua orang. Yuk, berusaha jadi orangtua yang asyik untuk anak-anak kita!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More