Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Etika Pertemanan Beda Status Ekonomi, Jangan Merendahkan!

5 min read
Etika Pertemanan Beda Status Ekonomi, Jangan Merendahkan!
ilustrasi makan siang dengan teman (pexels.com/fauxels)
  • Perbedaan status ekonomi dapat terlihat saat nongkrong, memilih hiburan, membeli barang, atau liburan, sehingga teman perlu saling memahami agar tidak menyinggung perasaan.
  • Kondisi finansial jangan dijadikan bahan candaan, alasan merendahkan, atau dasar memaksakan gaya hidup; kemampuan ekonomi tidak menentukan nilai seseorang.
  • Rencana bersama perlu mempertimbangkan anggaran semua pihak, menghargai penolakan, serta tidak mengukur kepedulian dan kualitas pertemanan dari traktiran atau pemberian materi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mencoba berteman dengan siapa saja terkadang membuat kita bertemu orang-orang dari latar belakang yang berbeda, termasuk dalam hal status ekonomi. Ada teman yang kondisi finansialnya jauh lebih mapan, tetapi ada pula yang memiliki kemampuan ekonomi di bawah kita. Perbedaan ini mungkin tidak terlalu terasa pada awal pertemanan, tetapi bisa mulai terlihat ketika kita melakukan berbagai aktivitas bersama.

Misalnya, ada teman yang terbiasa mengajak nongkrong di kafe mahal, sementara kita harus berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang untuk makan di luar. Ada pula perbedaan dalam memilih hiburan, membeli barang, hingga menentukan tempat liburan. Situasi seperti ini terkadang membuat kita bingung harus bersikap bagaimana agar tidak menyinggung perasaan satu sama lain. Padahal, perbedaan status ekonomi seharusnya bukan penghalang untuk menjalin pertemanan yang sehat. Supaya tidak saling membuat tersinggung dan berujung pada keretakan persahabatan, terdapat etika pertemanan beda status ekonomi yang harus kalian pahami.

  1. 1. Jangan menjadikan kondisi ekonomi sebagai bahan bercandaan

    ilustrasi beberapa orang sedang tertawa
    ilustrasi beberapa orang sedang tertawa (pexels.com/PICHA Stock)

    Setiap orang memiliki latar belakang dan perjalanan hidup yang berbeda. Sayangnya, perbedaan ekonomi terkadang masih dijadikan bahan candaan dalam pertemanan. Contohnya, meledek teman yang tidak mampu membeli barang tertentu, tidak punya kendaraan pribadi, menolak patungan untuk membeli kado, atau jarang ikut nongkrong karena ingin berhemat.

    Mungkin bagi sebagian orang, candaan seperti ini terdengar sepele. Namun, kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana perasaan orang yang menerimanya. Bukan tidak mungkin, perkataan tersebut justru membuatnya merasa rendah diri atau tidak dihargai. Bercanda memang bisa membuat pertemanan lebih akrab, tetapi bukan berarti semua hal pantas dijadikan bahan lelucon. Hindari komentar yang menyudutkan kondisi ekonomi seseorang, apalagi jika dilakukan berulang kali.

  2. 2. Jangan memaksakan gaya hidup kepada teman

    ilustrasi hangout
    ilustrasi hangout (unsplash.com/Rendy Novantino)

    Memiliki kemampuan finansial lebih bukan berarti kita bisa mengajak semua teman mengikuti gaya hidup yang sama. Misalnya, seseorang terbiasa nongkrong di kafe mahal, sedangkan temannya lebih nyaman menghabiskan waktu di tempat yang harganya terjangkau. Dalam situasi seperti ini, sebaiknya kedua pihak saling memahami. Jangan membuat teman merasa bersalah hanya karena tidak bisa mengikuti ajakan atau memilih tempat yang lebih murah. Sebaliknya, teman yang memiliki keterbatasan finansial juga tidak perlu memaksakan diri demi terlihat mampu mengikuti lingkungan pergaulannya.

  3. 3. Peka terhadap kemampuan finansial masing-masing

    ilustrasi berbelanja bersama
    ilustrasi berbelanja bersama (pexels.com/Arina Krasnikova)

    Ketika pergi bersama, persoalan uang bisa menjadi hal sensitif jika tidak dibicarakan dengan baik. Contohnya, saat makan bersama, tidak semua orang memiliki anggaran yang sama. Ada yang bisa memesan beberapa menu sekaligus, sementara yang lain hanya ingin membeli makanan sesuai kebutuhan dan kemampuannya.

    Karena itu, penting untuk membiasakan diri bertanya atau menyepakati anggaran sebelum membuat rencana bersama. Jika memungkinkan, pilih tempat yang harganya bisa dijangkau oleh semua orang. Hal sederhana seperti ini menunjukkan bahwa kita menghargai kondisi teman. Tidak harus selalu mengorbankan keinginan sendiri, tetapi setidaknya jangan sampai kesenangan satu orang justru menjadi beban bagi orang lain.

  4. 4. Jangan merasa lebih tinggi hanya karena lebih kaya

    ilustrasi perempuan sedang hangout
    ilustrasi perempuan sedang hangout (unsplash.com/Elevate)

    Salah satu hal yang bisa merusak pertemanan beda status ekonomi adalah sikap merasa lebih unggul. Seseorang mungkin memiliki penghasilan lebih besar, pekerjaan yang lebih mapan, atau berasal dari keluarga berada. Namun, hal tersebut tidak otomatis membuatnya lebih baik daripada teman-temannya.

    Menggunakan uang untuk mendominasi percakapan, meremehkan pilihan hidup orang lain, atau merasa paling berjasa karena sering membayari teman bukanlah sikap yang bijak. Begitu pula ketika seseorang menerima bantuan finansial dari temannya. Bantuan tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menuntut kepatuhan atau perlakuan istimewa. Hubungan pertemanan tetap membutuhkan rasa saling menghargai, bukan hubungan yang didasarkan pada siapa yang punya lebih banyak uang.

  5. 5. Hargai batasan ketika teman menolak ajakan

    ilustrasi berbicara dengan teman
    ilustrasi berbicara dengan teman (unsplash.com/NONRESIDENT)

    Tidak semua penolakan berarti seseorang tidak ingin menghabiskan waktu bersama. Bisa jadi, teman sedang memiliki kebutuhan lain yang lebih penting atau memang perlu mengatur pengeluarannya. Sayangnya, masih ada orang yang menganggap penolakan ajakan nongkrong sebagai sikap pelit, tidak asyik, atau terlalu perhitungan. Padahal, setiap orang berhak menentukan bagaimana uangnya digunakan.

    Jika teman mengatakan sedang tidak memiliki anggaran untuk pergi, terima jawabannya tanpa perlu mendesak atau menyindir. Kita juga tidak harus selalu bertemu di tempat yang membutuhkan biaya besar. Mengobrol di rumah, berjalan-jalan di taman, atau melakukan kegiatan sederhana lainnya bisa menjadi alternatif.

  6. 6. Jangan mengukur kualitas pertemanan dari pemberian materi

    ilustrasi memberikan kado pada teman
    ilustrasi memberikan kado pada teman (pexels.com/Kampus Production)

    Ada kalanya teman yang lebih mampu secara ekonomi ingin mentraktir atau memberikan hadiah. Hal tersebut tentu boleh dilakukan selama diberikan dengan tulus dan tidak disertai tuntutan tertentu. Namun, jangan sampai pemberian materi menjadi ukuran seberapa baik seseorang dalam berteman. Teman yang tidak pernah mentraktir bukan berarti tidak peduli. Begitu pula, teman yang sesekali membutuhkan bantuan bukan berarti hanya datang ketika membutuhkan sesuatu.

    Perhatian, kehadiran, dan kesediaan mendengarkan juga merupakan bentuk kepedulian dalam pertemanan. Dukungan ketika teman menghadapi masalah bahkan bisa lebih berarti daripada pemberian materi. Sebab, hubungan pertemanan yang tulus tidak selalu harus melibatkan uang.

    Perbedaan status ekonomi bukan alasan untuk membatasi pertemanan. Kita memang tidak harus memiliki kemampuan finansial yang sama untuk bisa saling memahami. Meski begitu, dibutuhkan pemahaman etika pertemanan beda status ekonomi serta kesadaran untuk tidak merendahkan, memaksakan kehendak, atau menjadikan uang sebagai alat untuk mengukur harga diri seseorang. Sebab, pertemanan yang sehat bukan tentang siapa yang paling kaya, melainkan bagaimana setiap orang bisa merasa diterima dan dihargai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More