Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perjuangan Orangtua Cari Nafkah, Tak akan Pulang sebelum Bawa Uang

Perjuangan Orangtua Cari Nafkah, Tak akan Pulang sebelum Bawa Uang
ilustrasi seorang ayah (pexels.com/Kurt Za)
Intinya Sih
  • Tanggung jawab orangtua terhadap anak tetap melekat, sehingga mereka berusaha keras memastikan kebutuhan hidup dan pendidikan keluarga terpenuhi.
  • Demi penghasilan, orangtua rela mengambil pekerjaan halal apa pun, menahan lelah, bahkan tetap bekerja saat sakit atau kondisi badan tidak bugar.
  • Banyak orangtua mengutamakan kebutuhan anak dan keluarga, hingga uang hasil kerja, makanan, serta kebutuhan pribadi mereka sendiri sering kali dikorbankan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Menjadi orangtua adalah fase dalam hidup yang tidak memungkinkan seseorang berjalan mundur. Pernikahan bisa berakhir. Ketika perkawinan kandas, seorang pria tak lagi memiliki kewajiban apa pun pada mantan istrinya.

Demikian pula kewajiban seorang perempuan pada mantan suaminya otomatis gugur. Namun, tanggung jawab orangtua terhadap anak terus melekat sepanjang masa. Maka dari itu, kebanyakan orangtua berusaha melakukan segala cara guna memastikan anak-anak hidup layak.

Mereka rela bekerja sangat keras demi memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Perjuangan orangtua cari nafkah barangkali baru dipahami dengan baik oleh anak setelah mereka juga menjadi orangtua. Bisakah kamu merasakan berada di posisi orangtua seperti di bawah ini?

1. Gak malu melakukan pekerjaan apa pun

memperbaiki sepatu
ilustrasi memperbaiki sepatu (pexels.com/Thái Trường Giang)

Kamu yang belum menjadi orangtua barangkali cukup sering pilih-pilih pekerjaan. Bukan hanya soal gaji atau passion yang menjadi pertimbangan. Apabila pekerjaan kurang prestisius, dirimu pun malas.

Apalagi bila pekerjaannya cenderung diremehkan orang. Kamu belum melakukan dan baru membayangkannya saja sudah merasa malu. Akan tetapi, orangtua tak lagi menuruti rasa malu. Apa pun pekerjaannya, asal halal dan kasih pemasukan diambil saja.

Bahkan meski sebagian dari mereka pernah berjaya. Ketika roda kehidupan berputar dan mereka mesti mulai lagi dari nol, bekerja apa pun bukan masalah. Satu-satunya persoalan adalah kalau sampai mereka sama sekali tak bekerja. Padahal, ada anak-anak yang wajib dihidupi dan disekolahkan.

2. Capek, tapi belum pulang kalau belum dapat duit

pedagang
ilustrasi pedagang (pexels.com/hartono subagio)

Utamanya untuk mereka yang bekerja serabutan atau berdagang. Orangtua harus memastikan membawa pulang uang yang cukup setiap harinya. Pasalnya, kebutuhan keluarga juga berjalan dari hari ke hari.

Secapek apa pun orangtua, jika belum memperoleh cukup uang, biasanya gak pulang-pulang. Setiap rupiah benar-benar diusahakan dengan seluruh tenaga. Orang yang berdagang, misalnya, kadang menghadapi situasi super sepi.

Akan tetapi, ingatan akan anak-anak di rumah menahan orangtua untuk tetap menunggu pembeli datang. Kalau soal capek, tentu mereka juga merasakannya. Mereka ingin secepatnya pulang ke rumah. Namun, itu tidak dilakukan karena sama dengan menyerah memperjuangkan nasib anak-anak.

3. Lagi sakit, tapi coba tidak dirasakan

membawa hasil panen
ilustrasi membawa hasil panen (pexels.com/UZZAL Photography)

Orangtua tentu tak selamanya sehat. Makin keras kerjanya, makin mereka juga mudah sakit atau gak enak badan. Akan tetapi, demi anak, segala rasa tidak nyaman itu diabaikan.

Di mata anak, orangtua sepertinya selalu sehat. Padahal, sebenarnya orangtua juga bisa meriang, sakit lambung, dan sebagainya. Kondisi begini yang terus berulang dari hari ke hari kerap membuat orangtua lama-lama seperti gak pernah benar-benar bugar.

Rasa lelah terus menghantam badan. Tidur di rumah pun tidak mengembalikan kebugarannya. Orangtua hanya berpura-pura selalu kuat di depan anak. Jika orangtua belum benar-benar tumbang, mereka akan tetap bekerja seperti biasa.

4. Jadi mesin uang buat keluarga, tapi jarang pegang uang

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Jusup Budiono)

Bekerja tentu menghasilkan uang. Namun, uangnya dengan segera dipakai buat berbagai kebutuhan. Kadang juga hasil kerjanya langsung diserahkan kepada pasangan untuk diatur agar mencukupi semua kebutuhan.

Sementara untuk dirinya sendiri nyaris gak ada. Seorang ayah, misalnya, memberikan seluruh pendapatannya kepada istri. Lantaran penghasilannya tidak seberapa, sang ayah gak punya cukup uang buat dirinya sendiri.

Dompetnya nyaris kosong. Kalaupun ia membawa uang cuma pas buat beli bahan bakar untuk pergi dan pulang kerja. Kadang juga uang sakunya benar-benar habis dan dia perlu bernegosiasi dengan pasangan buat minta tambahan ongkos transportasi.

Ia menjadi jalan nafkah untuk keluarganya. Seperti sungai tempat air selalu mengalir melewatinya tanpa sempat tertahan. Dia ikhlas bahkan bahagia dengan perannya tersebut yang berlaku nyaris sepanjang umurnya.

5. Makan di luar seadanya biar lebih banyak uang dibawa pulang

berdagang
ilustrasi berdagang (pexels.com/Michael Zhafrin)

Orangtua bekerja keras untuk mencari uang. Seharusnya pantas buat mereka lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi selama di luar rumah. Pun makanan itu bakal amat memengaruhi kesehatannya.

Biar orangtua bisa terus bekerja dengan baik, seharusnya mengonsumsi makanan penuh gizi. Namun, sering kali orangtua merasa sayang mengeluarkan uang lebih banyak hanya untuk membeli makanan buat diri sendiri. Alasannya, mending uangnya untuk anak.

Toh, orangtua tidak lagi dalam masa pertumbuhan. Padahal, mereka tetap butuh nutrisi yang cukup agar kesehatan terjaga. Orangtua makan enak di luar hanya bila dalam situasi tertentu seperti dapat jatah konsumsi atau saat jalan-jalan bersama keluarga. Selebihnya kerap kali cuma asal kenyang.

Memang telah menjadi tugas orangtua untuk giat bekerja demi masa depan anak. Namun, kamu sebagai anak yang diperjuangkan juga wajib bersikap pengertian dan menghormati kerja keras orangtua. Perjuangan orangtua cari nafkah patut kamu pahami, jangan sampai kamu malah bersikap semaunya dan meremehkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More