Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Pelajaran yang Bisa Dipetik Orangtua Milenial dari Anak Gen Alpha

5 Pelajaran yang Bisa Dipetik Orangtua Milenial dari Anak Gen Alpha
ilustrasi ibu dan anak panen tomat (pexels.com/yankrukov)
Share Article

Setiap generasi tumbuh dengan nilai dan cara pandangnya masing-masing. Jika selama ini orangtua dianggap sebagai pihak yang mengajarkan banyak hal kepada anak, Generasi Alpha justru menunjukkan bahwa proses belajar bisa berjalan dua arah.

Di balik berbagai karakteristiknya, Generasi Alpha menyimpan banyak pelajaran berharga bagi orangtua milenial. Mulai dari cara memahami emosi hingga lebih terbuka terhadap perbedaan, berikut beberapa hal yang bisa dipetik dari mereka.

1. Tidak ada yang salah dengan mengungkapkan perasaan

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/pixabay)
Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/pixabay)

Generasi Alpha tumbuh di masa ketika kesehatan mental dibicarakan secara lebih terbuka. Mereka tidak ragu mengatakan bahwa dirinya sedang cemas, lelah secara emosional, atau membutuhkan waktu untuk beristirahat. Kemampuan mengenali emosi tersebut menjadi pelajaran berharga bagi banyak orangtua milenial.

Tidak semua perasaan anak harus segera dicarikan solusinya. Terkadang, yang mereka butuhkan hanyalah didengarkan dan dipahami. Generasi Alpha mengajarkan bahwa setiap emosi layak dihargai dan menjadi kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan anak.

"Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, Generasi Alpha tumbuh di masa ketika berbagai isu global sangat mudah terlihat, beragam sudut pandang terus disuarakan, dan teknologi digital memungkinkan mereka menyampaikan pendapat sejak usia dini," jelas Catherine Nobile, PsyD, pendiri dan Direktur Nobile Psychology, dikutip dari Parents.

2. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan

ilustrasi ibu dan anak panen tomat (pexels.com/yankrukov)
ilustrasi ibu dan anak panen tomat (pexels.com/yankrukov)

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi Alpha tumbuh dengan pemahaman bahwa meminta bantuan merupakan hal yang wajar. Mereka lebih terbuka terhadap terapi dan berbagai bentuk dukungan kesehatan mental lainnya. Bagi mereka, merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.

Hal ini menjadi pengingat bahwa orangtua juga perlu berbelas kasih kepada dirinya sendiri. Tidak semua masalah harus dipikul sendirian dan tidak semua kesulitan harus diselesaikan tanpa bantuan orang lain. Sesekali beristirahat dan meminta pertolongan justru merupakan bentuk merawat diri yang sehat.

3. Kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari hal-hal sederhana

ilustrasi ibu dan anak memeriksa buah
ilustrasi ibu dan anak memeriksa buah (pexels.com/pavel-danilyuk)

Generasi Alpha tumbuh dengan kesadaran yang tinggi terhadap isu lingkungan. Mereka akrab dengan konsep gaya hidup berkelanjutan, mengurangi sampah plastik, hingga pentingnya menjaga bumi untuk masa depan. Tidak sedikit pula yang mulai menerapkan kebiasaan ramah lingkungan sejak usia dini.

Ketika anak mengingatkan untuk membawa tas belanja sendiri atau mematikan lampu yang tidak digunakan, hal tersebut patut diapresiasi. Kepedulian mereka menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. Dari Generasi Alpha, orangtua dapat belajar untuk lebih bijak dalam menjalani gaya hidup sehari-hari.

4. Tidak semua norma lama harus dipertahankan

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/gustavofring)
Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/gustavofring)

Generasi Alpha cenderung lebih berani mengajukan pertanyaan dan mempertanyakan hal-hal yang menurut mereka tidak tepat. Sikap tersebut terkadang dianggap sebagai bentuk pembangkangan, padahal merupakan bagian dari kemampuan berpikir kritis yang sedang berkembang. Mereka ingin memahami alasan di balik sebuah aturan, bukan sekadar menerimanya begitu saja.

Cara pandang ini mengajarkan orangtua untuk lebih terbuka terhadap perubahan. Tidak semua hal yang dianggap normal pada masa lalu masih relevan untuk dipertahankan saat ini. Memberikan ruang bagi anak untuk berpendapat juga dapat membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bertanggung jawab.

"Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi Alpha lebih mungkin mempertanyakan otoritas daripada sekadar menerimanya begitu saja," ujar Catherine Nobile.

5. Menerima perbedaan dengan pikiran yang lebih terbuka

ilustrasi ibu dan anak menghabiskan waktu bersama (pexels.com/nicolabarts)
ilustrasi ibu dan anak menghabiskan waktu bersama (pexels.com/nicolabarts)

Generasi Alpha tumbuh di lingkungan yang lebih beragam dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka terbiasa melihat berbagai latar belakang, minat, dan cara seseorang mengekspresikan dirinya. Hal ini membuat mereka cenderung lebih mudah menerima perbedaan.

Dari Generasi Alpha, orangtua milenial dapat belajar untuk lebih terbuka dan berempati terhadap orang lain. Sikap menerima tanpa menghakimi menjadi bekal penting untuk membangun hubungan yang lebih hangat dan saling memahami, baik dengan anak maupun orang-orang di sekitar.

"Mereka tumbuh di tengah masyarakat yang lebih beragam sehingga lebih terbuka terhadap orang-orang yang berbeda dari diri mereka sendiri," ujar Deborah Carr, PhD, Profesor Sosiologi sekaligus Direktur Center of Innovation in Social Science di Boston University, dikutip dari Parents.

Generasi Alpha membuktikan bahwa proses belajar antara orangtua dan anak bisa berjalan dua arah. Dari mereka, orangtua milenial dapat belajar untuk lebih empatik, terbuka terhadap perubahan, dan menghargai perbedaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More