Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tantangan Mengasuh Anak Ekstrovert, Harus Bijak dan Energik

4 min read
5 Tantangan Mengasuh Anak Ekstrovert, Harus Bijak dan Energik
ilustrasi dua anak perempuan (pexels.com/Breno Cardoso)
  • Anak ekstrovert membutuhkan pengawasan ekstra karena cenderung lupa waktu saat bermain, sehingga jadwal tidur, mandi, dan kondisi fisiknya dapat terganggu.
  • Semangat belajar anak ekstrovert dapat menurun saat sendirian; mereka lebih mudah fokus dalam belajar kelompok, tetapi kebutuhan ini tidak selalu mudah dipenuhi.
  • Orangtua perlu membimbing anak ekstrovert memahami respons orang lain, waspada pada orang asing, serta menghargai batas interaksi teman yang introvert.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Anak introver sering disorot bahkan dikhawatirkan karena sifatnya yang lebih suka menyendiri. Ia merasa kurang nyaman terus berada di tengah teman sebaya. Dia lebih memilih duduk saja sebagai pengamat ketika kawan-kawannya seru bermain bersama. Anak introver juga seakan-akan selalu punya keasyikan sendiri di rumah. Seperti aktivitas membaca, membuat keterampilan, dan sebagainya. Ia dikhawatirkan mengalami kesulitan bergaul yang serius.

Namun, ternyata anak ekstrovert juga memberikan tantangan tersendiri bagi orangtua. Anak berkarakter ini tetap membutuhkan pendampingan khusus. Bahkan kerap kali pengawasan serta pendisiplinannya harus ekstra dibandingkan dengan anak intorver. Di balik mudahnya mereka bersosialisasi, terdapat berbagai tantangan mengasuh anak ekstrovert berikut ini.

  1. 1. Tak kenal waktu ingin terus bermain dengan teman-teman

    bermain bersama
    ilustrasi bermain bersama (pexels.com/Nasirun Khan)

    Anak ekstrovert sangat senang bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Apalagi anak di usia ini juga gemar bermain. Maka, jika anak ekstrover telah bermain bersama teman-temannya, ia bisa lupa waktu.

    Baik dia sudah bersekolah atau belum, sukar sekali bagi orangtua menahan keinginan anak untuk bermain bareng kawan-kawan. Anak ekstrover yang belum bersekolah bisa dari pagi sampai sore, bahkan malam, bermain dengan anak tetangga. Anak yang telah bersekolah begitu pulang langsung ingin bermain di luar rumah.

    Tak peduli hari sedang panas atau justru mulai gerimis, tetap anak mau terus bermain dengan anak-anak di sekitar. Jam tidur siang dan mandi sore menjadi berantakan. Anak yang secara fisik sebenarnya sudah lelah pun menjadi lebih rewel pada malam harinya.

  2. 2. Semangat belajar dan konsentrasi rendah jika tidak belajar kelompok

    belajar kelompok
    ilustrasi belajar kelompok (pexels.com/Gustavo Fring)

    Anak ekstrover bukannya kurang pintar. Namun, ia memperoleh energi terbesar dari lingkungan di sekitarnya, termasuk orang-orang yang berinteraksi dengannya. Sementara energi anak introver berasal dari dalam diri.

    Rangsangan berlebihan dari luar justru mudah membuatnya kelelahan. Bagi anak introvert, bermain saja lebih enak sendirian atau hanya bersama satu saudara, apalagi belajar. Namun, anak ekstrovert punya kebutuhan yang lebih tinggi untuk belajar kelompok.

    Kalau dia belajar sendirian di rumah atau cuma ditemani orangtua, semangat dan konsentrasinya rendah. Ia cepat bosan, merasa materi yang dipelajari lebih sulit dari yang sesungguhnya, dan mudah terdistraksi oleh hal-hal kecil sekalipun. Padahal, belum tentu ada teman sekolah yang rumahnya dekat dan mau sering diajak belajar bareng.

  3. 3. Anak kecewa saat keramahannya direspons dengan kurang baik

    dua anak laki-laki
    ilustrasi dua anak laki-laki (pexels.com/Subash Rai)

    Anak ekstrovert sudah otomatis menunjukkan keramahannya kepada setiap orang yang ditemui. Siapa pun disapa dan diajak ngobrol. Bukan hanya sesama anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Masalahnya, tidak semua orang juga ekstrover.

    Bahkan ada orang dewasa yang kurang suka berinteraksi dengan anak-anak. Apalagi ketika situasinya kurang pas. Misalnya, satpam kompleks yang sedang sibuk membersihkan lingkungan.

    Jika ia didekati dan diajak bicara terus oleh anak, pekerjaannya menjadi terhambat. Anak yang hanya bermaksud bersikap ramah dapat kecewa ketika ucapannya tidak ditanggapi. Atau, orang membalas dengan perkataan yang ketus. Orangtua harus ekstra dalam memberikan pemahaman kepada anak tentang hal ini.

  4. 4. Sulit mengajarinya lebih waspada terhadap orang asing

    kakak menasihati adik
    ilustrasi kakak menasihati adik (pexels.com/Darell Dave Rodriguez)

    Anak introver jauh lebih gampang diajari untuk berhati-hati pada orang asing. Bahkan tanpa orangtua perlu terus mengingatkan, dia sudah secara otomatis kurang tertarik berinteraksi dengan orang tak dikenal. Sama teman sendiri saja, interaksinya terbatas.

    Apalagi pada orang dewasa yang asing bagi anak introver. Sudah pasti dia lebih waspada. Akan tetapi, tidak demikian dengan anak ekstrover. Dalam benaknya, semua orang adalah teman dan harus diperlakukan dengan keakraban.

    Akibatnya, ia bisa lebih mudah didekati oleh orang dewasa yang bermaksud kurang baik. Misalnya, cukup dengan anak diajak ngobrol sebentar, kemudian dibawa ke suatu tempat. Orangtua mesti terus mengingatkan anak agar mewaspadai orang asing sekalipun dia terlihat baik.

  5. 5. Juga cara bergaul dengan teman introvert

    dua anak
    ilustrasi dua anak (pexels.com/Nasirun Khan)

    Tentu bukan hanya anak ekstrovert yang perlu belajar cara bergaul dengan teman introvert secara tepat. Anak introver juga mesti melakukannya karena di setiap lingkungan pasti dia akan bertemu orang yang lain darinya. Namun, ada perbedaan yang cukup besar di sini.

    Anak introver memang agak canggung ketika berinteraksi dengan teman ekstrover. Akan tetapi, keberadaan anak introver sering kali tidak terasa sebagai gangguan bagi kawan ekstrover. Sifatnya yang agak pendiam serta menarik diri hanya terasa antara ada dan tiada bagi teman-temannya.

    Sementara itu, anak ekstrovert yang belum diajari cara bergaul dengan tepat dapat terasa sebagai pengusik ketenangan temannya yang introvert. Bagi anak ekstrover, mereka cuma bertemu sebentar dan berinteraksi sedikit. Buat anak introver, ukuran sedikit itu sudah terlalu banyak serta menguras energinya.

    Setiap karakter anak memberikan tantangan tersendiri bagi orangtua. Meski begitu, tantangan mengasuh anak ekstrovert jangan sampai membuat orangtua terlena dan merasa lebih aman daripada anak introver yang sering dicap sulit bergaul dan kurang percaya diri. Keduanya tetap membutuhkan perhatian dan bimbingan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More