ilustrasi relawan lebih mudah mengalami vicarius trauma (pexels.com/RDNE Stock project)
Meski pada dasarnya siapa pun bisa terkena dampaknya, ada kelompok orang tertentu yang lebih rentan terhadap masing-masing kondisi trauma ini. Secondary trauma sangat umum dirasakan oleh orang-orang terdekat korban, seperti keluarga, sahabat, atau pasangan yang mendengar detail kejadian traumatis. Namun, vicarious trauma punya "target pasar" yang jauh lebih spesifik, yaitu para pekerja kemanusiaan atau tenaga profesional di bidang sosial dan kesehatan.
Para psikolog, dokter, perawat, relawan bencana alam, hingga pekerja sosial adalah kelompok yang punya risiko paling tinggi untuk terkena vicarious trauma. Mereka secara konsisten dan terus-menerus terpapar penderitaan orang lain karena memang itu sudah menjadi bagian dari tanggung jawab pekerjaan harian mereka. Bayangkan saja, setiap hari mereka harus menampung tangisan dan ketakutan orang lain, wajar banget kalau lama-lama dinding mental mereka ikutan keropos kalau gak rajin "dibersihkan", kan?
Memahami perbedaan vicarious trauma dan secondary trauma adalah langkah awal yang keren untuk lebih peduli sama kesehatan mentalmu sendiri. Ingat ya, kamu gak akan bisa menyelamatkan semua orang kalau kamu sendiri sedang pelan-pelan tenggelam dalam kelelahan emosional. Jadi, tetaplah menjadi orang baik yang penuh empati, tapi jangan pernah lupa untuk memeluk dan menjaga dirimu sendiri karena kamu juga berharga!
https://tendacademy.ca/resources/defining-vicarious-trauma-and-secondary-traumatic-stress/
https://www.rasmussen.edu/degrees/human-services/blog/vicarious-trauma-vs-secondary-trauma/
https://www.arenahealth.com.au/blogs/understanding-the-differences-between-secondary-vicarious-and-direct-trauma