Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Mendampingi Pasangan dengan ADHD agar Hubungan Sehat

5 min read
5 Cara Mendampingi Pasangan dengan ADHD agar Hubungan Sehat
Ilustrasi pasangan ADHD (pexels.com/SHVETS production)
  • ADHD pada orang dewasa dapat memengaruhi fokus, ingatan, pengaturan waktu, penyelesaian tugas, dan impulsivitas, sehingga perilaku pasangan tidak selalu berarti tidak peduli.
  • Pasangan dianjurkan membangun komunikasi spesifik tanpa menyudutkan, mendengarkan perspektif masing-masing, serta memakai kalender, alarm, rutinitas, dan pembagian tugas yang jelas.
  • Konflik perlu dibahas dengan tenang dan fokus pada solusi; dukungan tetap disertai batasan, tanggung jawab pasangan, serta bantuan profesional bila diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjalani hubungan dengan seseorang yang memiliki Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder atau ADHD dapat menghadirkan dinamika yang berbeda. Pada orang dewasa, ADHD dapat terlihat dalam bentuk mudah terdistraksi, sering lupa, kesulitan mengatur waktu, sulit menyelesaikan tugas, hingga bertindak impulsif. Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan “kurang fokus”, melainkan berkaitan dengan cara kerja otak yang dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Dalam hubungan romantis, beberapa gejala tersebut terkadang mudah disalahartikan. Pasangan mungkin merasa tidak diperhatikan ketika seseorang dengan ADHD lupa terhadap janji atau tampak kehilangan fokus saat berbicara. Sebaliknya, orang dengan ADHD juga dapat merasa terus disalahkan karena kesulitan yang sebenarnya sedang mereka coba kelola. Agar hubungan tetap sehat, diperlukan pemahaman, komunikasi, dan kerja sama dari kedua pihak. Berikut lima cara mendampingi pasangan yang memiliki ADHD.

  1. 1. Pelajari dan pahami kondisi ADHD

    Ilustrasi mencoba memahami pasangan
    Ilustrasi mencoba memahami pasangan (pexels.com/Antoni Shkraba)

    Langkah pertama adalah memahami bahwa perilaku pasangan tidak selalu muncul karena ia malas, ceroboh, atau tidak peduli. Orang dewasa dengan ADHD dapat mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatian, mengingat sesuatu, mengatur waktu, memulai atau menyelesaikan pekerjaan, serta mengendalikan impuls. Karena itu, pasangan yang lupa membeli barang titipan atau melewatkan sebuah jadwal belum tentu melakukannya karena tidak menghargaimu.

    Mempelajari ADHD juga membantu kamu membedakan antara karakter seseorang dan gejala yang sedang dialaminya. Namun, memahami ADHD bukan berarti semua perilaku harus dimaklumi. Pasangan tetap perlu bertanggung jawab atas tindakannya dan mencari cara untuk mengelola kesulitan yang memengaruhi hubungan. Pemahaman sebaiknya menjadi dasar untuk mencari solusi bersama, bukan alasan agar salah satu pihak terus mengalah.

  2. 2. Bangun komunikasi yang jelas dan terbuka

    Ilustrasi membangun komunikasi pasangan
    Ilustrasi membangun komunikasi pasangan (pexels.com/cottonbro studio)

    Komunikasi menjadi sangat penting ketika menjalani hubungan dengan pasangan yang memiliki ADHD. Hindari langsung menggunakan kalimat yang menyudutkan seperti, “Kamu memang tidak pernah mendengarkan,” atau, “Kamu selalu lupa.” Cobalah menjelaskan situasi secara lebih spesifik, misalnya, “Aku merasa sedih ketika sedang bercerita tetapi kamu melihat ponsel. Bisa kita simpan ponsel sebentar selama ngobrol?” Cara seperti ini membantu pasangan mengetahui perilaku apa yang menjadi masalah dan apa yang kamu butuhkan.

    Selain menyampaikan perasaan, berikan ruang agar pasangan juga menjelaskan sudut pandangnya. Kesalahpahaman dalam hubungan yang melibatkan ADHD dapat terjadi ketika perilaku seperti lupa, terdistraksi, atau tidak menyelesaikan komitmen dianggap sebagai tanda bahwa seseorang tidak peduli. Mendengarkan tanpa langsung bersikap defensif dapat membantu kedua pihak memahami masalah dengan lebih baik dan mencegah konflik berkembang menjadi saling menyalahkan.

  3. 3. Buat sistem dan rutinitas bersama

    Ilustrasi rutinitas bersama
    Ilustrasi rutinitas bersama (pexels.com/Annushka Ahuja)

    Daripada terus mengingatkan pasangan secara verbal, akan lebih efektif jika kalian berdua membuat sistem yang membantu mengelola aktivitas sehari-hari. Kalender digital bersama, alarm, daftar pekerjaan, catatan di ponsel, atau jadwal kegiatan rumah dapat digunakan untuk mengurangi risiko lupa. Pembagian pekerjaan juga sebaiknya dibuat spesifik. Daripada mengatakan, “Tolong lebih banyak membantu di rumah,” tentukan siapa yang bertanggung jawab mencuci pakaian, membeli kebutuhan rumah, membayar tagihan, atau membersihkan ruangan tertentu.

    Sistem seperti ini sebaiknya dibangun bersama, bukan dibuat oleh satu orang untuk mengontrol pasangannya. Tujuannya adalah mengurangi pola hubungan di mana satu pihak terus mengingatkan sementara pihak lainnya terus merasa diperintah. Strategi berupa rutinitas, jadwal, serta pembagian tanggung jawab yang jelas dapat membantu pasangan menghadapi sejumlah tantangan fungsi eksekutif yang berkaitan dengan ADHD.

  4. 4. Hadapi konflik dengan tenang dan hindari saling menyalahkan

    Ilustrasi diskusi pasangan
    Ilustrasi diskusi pasangan (pexels.com/Gustavo Fring)

    Konflik tentu dapat terjadi dalam hubungan apa pun, termasuk ketika salah satu pasangan memiliki ADHD. Ketika masalah muncul, usahakan membahas satu persoalan pada satu waktu. Jangan menjadikan satu kesalahan sebagai kesempatan untuk mengungkit seluruh masalah sebelumnya. Jika lupa terhadap suatu janji menjadi persoalan, misalnya, fokuslah mencari penyebab dan strategi agar kejadian tersebut tidak berulang, bukan mengubah pembicaraan menjadi penilaian terhadap kepribadian pasangan.

    Jika emosi mulai meningkat, tidak ada salahnya menghentikan percakapan sementara dan melanjutkannya setelah kedua pihak lebih tenang. Tantangan fungsi eksekutif dan pengaturan emosi dapat menambah kompleksitas konflik pada sebagian hubungan yang terdampak ADHD. Karena itu, mengenali kapan diskusi sudah tidak produktif dapat membantu pasangan menghindari perkataan atau tindakan yang kemudian disesali. Jangan lupa untuk benar-benar kembali membicarakan persoalan tersebut setelah situasi mereda, sehingga jeda tidak berubah menjadi kebiasaan menghindari masalah.

  5. 5. Berikan dukungan tanpa mengambil alih tanggung jawabnya

    Ilustrasi mendukung pasangan
    Ilustrasi mendukung pasangan (pexels.com/Kampus Production)

    Mendukung pasangan bukan berarti kamu harus mengurus seluruh kehidupan mereka. Kamu dapat membantu dengan memberikan dorongan, mendengarkan ketika pasangan mengalami kesulitan, atau ikut mencari strategi yang cocok untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Jika pasangan membutuhkan bantuan profesional, kamu juga dapat mendukung keputusannya untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. CDC menyarankan seseorang yang khawatir mengenai kemungkinan ADHD untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan agar mendapatkan penilaian yang sesuai.

    Pada saat yang sama, hindari mengambil posisi sebagai orang tua, pengawas, atau terapis bagi pasangan. Terus-menerus memeriksa pekerjaan, mengingatkan setiap kewajiban, dan menyelesaikan seluruh masalah pasangan dapat membuatmu kelelahan sekaligus menciptakan hubungan yang tidak seimbang. Jika ADHD sudah menimbulkan konflik yang terus berulang, bantuan profesional, termasuk terapi pasangan bila sesuai, dapat dipertimbangkan untuk membantu memperbaiki pola komunikasi dan memahami dampak ADHD terhadap hubungan.

    Mendampingi pasangan yang memiliki ADHD membutuhkan kesabaran, tetapi bukan berarti kebutuhanmu harus selalu ditempatkan di urutan terakhir. Kamu tetap boleh memiliki batasan, meminta pasangan memenuhi tanggung jawabnya, serta menyampaikan ketika sebuah perilaku membuatmu merasa lelah atau tidak dihargai. ADHD dapat membantu menjelaskan mengapa perilaku tertentu terjadi, tetapi bukan berarti semua perilaku yang menyakiti pasangan harus diterima.

    Hubungan yang sehat membutuhkan usaha dari kedua belah pihak. Pasangan dengan ADHD dapat belajar menemukan strategi untuk mengelola kesulitannya, sedangkan pasangannya dapat memberikan dukungan tanpa mengambil alih seluruh tanggung jawab tersebut. Ketika keduanya mampu memahami perbedaan, berkomunikasi secara terbuka, dan melihat masalah sebagai sesuatu yang perlu diselesaikan bersama, ADHD tidak harus menjadi penghalang untuk membangun hubungan yang hangat dan saling mendukung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More