ilustrasi standar sukses (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda, termasuk dalam urusan pendidikan, karier, hubungan, dan pencapaian finansial. Ada orang yang sudah memiliki rumah pada usia 27 tahun, sedangkan orang lain pada usia yang sama masih berusaha melunasi utang, membantu kebutuhan keluarganya atau bahkan meninggal. Kondisi tersebut gak otomatis menunjukkan bahwa orang yang belum memiliki aset termasuk orang yang gagal menjalani hidup. Banyak faktor yang memengaruhi kecepatan seseorang mencapai target, mulai dari latar belakang keluarga, kesempatan kerja, tanggungan, hingga situasi ekonomi yang sedang dihadapi.
Komentar nyinyir seperti, “Kerja udah bertahun-tahun, masa belum punya mobil?” terbilang mengaburkan fakta bahwa penghasilan seseorang gak sepenuhnya mereka gunakan full untuk memenuhi keinginannya sendiri. Sebagian orang harus membayar cicilan, membiayai orangtua, menanggung kebutuhan saudara, atau menyisihkan uang untuk dana darurat. Pencapaian finansial pun gak selalu terlihat dalam bentuk motor, mobil, rumah, atau emas, karena tabungan dan kemampuan menjaga kondisi keuangan tetap sehat juga merupakan hal yang bernilai. Daripada terus menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur, lebih baik biarkan setiap orang menentukan target hidup mereka sesuai kemampuan dan prioritasnya.