Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bentuk Microaggression yang Sering Tidak Disadari
Ilustrasi memberikan reaksi (pexels.com/Artem Podrez)
  • Microaggression adalah ucapan atau tindakan yang tanpa sadar menyampaikan prasangka atau stereotip, membuat orang lain merasa diremehkan meski pelakunya tidak bermaksud buruk.
  • Lima bentuk umum microaggression meliputi pujian bersifat stereotip, meremehkan pengalaman orang lain, membuat asumsi berdasarkan latar belakang, mengabaikan pendapat, dan bertanya hal pribadi berlebihan.
  • Meningkatkan kesadaran terhadap microaggression membantu membangun komunikasi yang lebih empatik, menghargai perbedaan, serta menciptakan lingkungan sosial yang inklusif dan saling menghormati.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cara kita berbicara dan bersikap dapat memengaruhi perasaan orang lain, bahkan ketika gak ada niat untuk menyakiti. Dalam kehidupan sehari-hari, ada ucapan atau perilaku yang tampak sepele, tetapi dapat membuat seseorang merasa diremehkan, dikucilkan, atau kurang dihargai. Karena sering terjadi dalam percakapan biasa, bentuk perilaku seperti ini kerap luput dari perhatian.

Microaggression merupakan ucapan, tindakan, atau sikap yang secara tidak langsung menyampaikan prasangka, stereotip, atau perlakuan yang merendahkan terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Perilaku ini sering dilakukan tanpa disadari sehingga pelakunya menganggapnya sebagai candaan, pujian, atau komentar biasa. Meski begitu, dampaknya tetap dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman atau kurang dihormati.

Menjadi lebih peka terhadap microaggression bukan berarti harus takut berbicara. Sebaliknya, kesadaran ini membantu kita membangun komunikasi yang lebih menghargai pengalaman dan perasaan orang lain. Berikut lima bentuk microaggression yang sering terjadi tanpa disadari.

1. Memberikan pujian yang sebenarnya mengandung stereotip

Ilustrasi beri apresiasi orang lain (freepik.com/freepik)

Pujian biasanya diberikan untuk menunjukkan apresiasi kepada orang lain. Namun, dalam beberapa situasi, pujian juga dapat mengandung asumsi atau stereotip yang tanpa disadari membuat penerimanya merasa kurang nyaman. Hal ini terjadi ketika pujian lebih menekankan pada ekspektasi terhadap kelompok tertentu daripada pencapaian orang tersebut.

Misalnya, mengatakan seseorang "pintar untuk usianya" atau "kemampuanmu ternyata di luar dugaan." Kalimat seperti ini dapat memberi kesan bahwa sejak awal kamu memiliki ekspektasi yang rendah terhadap kemampuan mereka. Akibatnya, pujian yang dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi justru bisa terasa merendahkan.

Daripada mengaitkan pujian dengan stereotip tertentu, cobalah fokus pada pencapaian, usaha, atau kualitas yang memang ingin diapresiasi. Dengan begitu, pujian akan terasa lebih tulus, spesifik, dan membuat orang lain merasa benar-benar dihargai.

2. Menganggap pengalaman orang lain berlebihan

Ilustrasi memberikan reaksi (magnific.com/freepik)

Saat seseorang menceritakan pengalaman yang membuatnya tidak nyaman, respons seperti "kamu terlalu sensitif" atau "itu cuma bercanda" dapat membuat perasaannya terasa diabaikan. Meski mungkin diucapkan tanpa maksud buruk, tanggapan seperti ini bisa membuat lawan bicara merasa pengalaman mereka gak dianggap penting.

Setiap orang memiliki pengalaman, latar belakang, dan batas kenyamanan yang berbeda. Karena itu, reaksi yang muncul terhadap suatu situasi pun bisa berbeda-beda. Menganggap respons seseorang berlebihan dapat membuat mereka enggan menyampaikan perasaan atau pengalaman serupa di kemudian hari.

Daripada langsung menilai reaksinya, cobalah mendengarkan dengan empati dan memahami sudut pandang mereka terlebih dahulu. Sikap seperti ini membantu membangun komunikasi yang lebih terbuka sekaligus menunjukkan bahwa kamu menghargai pengalaman dan perasaan orang lain.

3. Membuat asumsi berdasarkan latar belakang seseorang

Ilustrasi mengobrol (pexels.com/ Alexander Suhorucov)

Asumsi yang muncul karena asal daerah, pekerjaan, penampilan, usia, atau latar belakang lain sering kali terdengar sepele. Padahal, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang merasa dinilai berdasarkan stereotip, bukan sebagai individu dengan pengalaman dan karakter yang unik.

Misalnya, menganggap seseorang pasti memiliki kemampuan, sifat, atau kebiasaan tertentu hanya karena berasal dari kelompok tertentu. Meski terdengar sebagai komentar biasa, anggapan seperti ini belum tentu sesuai dengan kenyataan dan dapat membuat lawan bicara merasa kurang dihargai.

Daripada membangun kesimpulan berdasarkan asumsi, cobalah mengenal seseorang melalui interaksi langsung. Dengan bersikap lebih terbuka dan menghindari stereotip, kamu dapat membangun komunikasi yang lebih adil, saling menghormati, dan membuat setiap orang merasa diterima.

4. Mengabaikan pendapat seseorang dalam diskusi

Ilustrasi diskusi (freepik.com/ tirachardz)

Microaggression gak selalu muncul dalam bentuk ucapan. Dalam beberapa situasi, perilaku sehari-hari juga dapat membuat seseorang merasa kurang dihargai. Misalnya, kebiasaan memotong pembicaraan, mengabaikan ide seseorang, atau baru menganggap sebuah pendapat penting setelah diulang oleh orang lain.

Perilaku seperti ini dapat membuat seseorang merasa kontribusinya kurang dihargai, meski dilakukan tanpa disengaja. Jika terus terjadi, mereka mungkin menjadi enggan menyampaikan pendapat atau berpartisipasi dalam diskusi karena merasa suaranya gak didengar.

Memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menyampaikan pendapat hingga selesai dan mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan langkah sederhana untuk membangun komunikasi yang lebih inklusif. Kebiasaan ini juga membantu menciptakan lingkungan yang membuat setiap orang merasa dihargai dan lebih nyaman untuk berkontribusi.

5. Mengajukan pertanyaan pribadi yang berlebihan

Ilustrasi mengobrol dengan teman kantor (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Rasa ingin tahu merupakan hal yang wajar dalam sebuah percakapan. Namun, ada kalanya pertanyaan yang diajukan justru membuat orang lain merasa tidak nyaman jika disampaikan tanpa mempertimbangkan situasi atau batasan pribadi mereka. Misalnya, terus mendesak seseorang untuk menjelaskan kondisi pribadinya, pilihan hidupnya, atau pengalaman yang sebenarnya tidak ingin dibahas. Pertanyaan seperti ini dapat membuat lawan bicara merasa privasinya kurang dihormati, meski niat awalnya hanya ingin mengetahui lebih banyak.

Kalau ragu apakah sebuah pertanyaan pantas diajukan, cobalah mempertimbangkan kedekatan hubungan dan memperhatikan respons lawan bicara. Jika mereka terlihat enggan menjawab, menghormati batasan tersebut merupakan pilihan yang lebih baik. Microaggression sering terjadi karena kurangnya kesadaran, bukan karena niat untuk menyakiti. Meski begitu, dampaknya tetap bisa dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Karena itu, penting untuk lebih memperhatikan cara berbicara dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Membangun komunikasi yang saling menghargai dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan dengan empati, menghindari asumsi, serta menghormati pengalaman dan batasan setiap orang. Semakin peka terhadap perilaku yang berpotensi menyakiti orang lain, semakin mudah pula kamu menciptakan hubungan yang sehat, terbuka, dan penuh rasa hormat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article