Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Mengatasi Existential Dread saat Masa Depan Terasa Tak Pasti

5 Cara Mengatasi Existential Dread saat Masa Depan Terasa Tak Pasti
ilustrasi mengalami existential dread (pexels.com/Ron Lach)
  • Existential dread akibat ketidakpastian ekonomi dan politik dapat menguras mental hingga berisiko memicu burnout; pembaca dianjurkan mengambil kendali atas hal-hal yang masih bisa diatur.
  • Batasi doomscrolling dan alihkan perhatian dari berita negatif, lalu fokus pada rutinitas, peningkatan keterampilan, serta pengelolaan keuangan pribadi sebagai aksi nyata sehari-hari.
  • Akui kecemasan, cari ruang aman untuk bercerita atau bantuan profesional, temukan makna dalam hal sederhana, dan bangun koneksi sosial agar rasa terisolasi berkurang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah gak malam-malam lagi scrolling media sosial, tiba-tiba berita soal kondisi ekonomi atau politik negara bikin kamu melamun dan bertanya-tanya, "Masa depan aku bakal gimana, ya?" Perasaan cemas akan keberadaan dan arah hidup di tengah situasi yang gak pasti ini membuat banyak dari kamu mulai mengenal existential dread. Rasanya seperti terjebak di ruang hampa, bingung harus berbuat apa karena merasa segala usaha yang kamu lakukan sekarang seolah gak ada artinya di masa depan.

Kalau perasaan existential dread ini kamu biarkan terus menumpuk tanpa dikelola, mental kamu bakal makin terkuras dan berisiko memicu burnout berkepanjangan, lho. Ingat, kamu gak sendirian merasakan ini, dan penting untuk mengambil kendali atas apa yang masih bisa kamu kontrol demi menjaga kesehatan mentalmu.


  1. 1. Batasi asupan doomscrolling harian

    ilustrasi mendengarkan musik
    ilustrasi mendengarkan musik (pexels.com/Tirachard Kumtanom)

    Memantau perkembangan berita memang penting agar gak tertinggal informasi, tapi terus-menerus menelan berita buruk cuma bakal bikin kepala mau pecah, lho. Kebiasaan doomscrolling atau maraton membaca berita negatif tanpa henti secara memicu respons stres berlebihan pada otak. Itulah mengapa kamu perlu menetapkan batasan waktu yang jelas kapan harus berhenti membuka aplikasi media sosial. 

    Kalau jempolmu sudah gatal ingin buka aplikasi berita saat bangun tidur, langsung alihkan dengan mendengarkan musik favorit atau membuat secangkir kopi. Menjaga jarak sejenak dari dinamika negara bukan berarti kamu cuek atau apatis, melainkan bentuk pertolongan pertama buat diri sendiri. Guys, pikiran yang tenang bakal bikin kamu jauh lebih siap menghadapi kenyataan hidup, kok.


  2. 2. Fokus pada lingkaran kendali diri

    ilustrasi cara mengatur keuangan harian secara sederhana
    ilustrasi cara mengatur keuangan harian secara sederhana (pexels.com/Ahsanjaya)

    Saat situasi negara terasa makin gak pasti, cobalah untuk membedakan mana hal yang bisa kamu kendalikan dan mana yang di luar kuasamu. Kebijakan publik, kondisi inflasi, atau kelakuan pejabat jelas bukan hal yang bisa kamu ubah seorang diri dalam semalam. Menguras energi untuk memikirkan hal-hal di luar kendali cuma akan menambah beban mental yang gak perlu. Sebaliknya, alokasikan energimu untuk hal-hal kecil yang masih berada penuh di bawah kendalimu.

    Kamu dapat memulai fokus pada rutinitas harian, pengembangan keterampilan baru, atau sekadar mengatur keuangan pribadi dengan lebih bijak. Contohnya, dibanding pusing memikirkan tarif hidup yang makin mahal, fokuslah pada bagaimana cara menambah skill biar daya tawar kerjamu naik. Fokus pada aksi nyata yang skalanya kecil jauh lebih menenangkan daripada meratapi keadaan nasional, lho.


  3. 3. Temukan makna baru dalam keseharian

    ilustrasi menyiram tanaman di pagi hari
    ilustrasi menyiram tanaman di pagi hari (pexels.com/Kevin Malik)

    Existential dread kerap muncul karena kamu kehilangan makna atau rasa memiliki tujuan di tengah kekacauan sekitar. Kamu gak harus menetapkan target besar yang megah seperti "mengubah dunia" untuk merasa hidupmu berarti. Makna hidup bisa datang dari hal-hal sederhana yang ada di sekitarmu setiap hari. Cobalah untuk hadir secara utuh di setiap momen yang sedang kamu jalani tanpa terlalu jauh mencemaskan esok hari, ya.

    Sentuhan kecil seperti menyiram tanaman, memberi makan kucing liar, atau ngobrol seru bareng teman lama bisa jadi penyambung asa yang sangat kuat, lho. Saat kamu belajar menikmati kopi pagi atau gelak tawa bersama kawan, pikiranmu bakal tersadar bahwa hidup masih layak dinikmati. Jadi, jangan biarkan ketakutan akan masa depan mencuri kebahagiaan kecil yang ada di depan matamu sekarang, ya.


  4. 4. Validasi emosi dan cari ruang aman

    ilustrasi menulis jurnal harian
    ilustrasi menulis jurnal harian (pexels.com/Katya Wolf)

    Menyembunyikan rasa takut atau berpura-pura semuanya baik-baik saja cuma akan membuat beban di dada semakin terasa berat. Mengakui bahwa kamu sedang cemas, takut, atau lelah menjadi langkah awal yang sangat krusial untuk pemulihan diri. Jangan pernah merasa bersalah atau menganggap dirimu lemah hanya karena merasa cemas melihat kondisi sekitar. Emosi negatif jadi respons yang sangat manusiawi saat kamu dihadapkan pada ketidakpastian yang makin nyata.

    Alangkah baiknya cari ruang aman tempat kamu bisa menumpahkan segala keluh kesah tanpa takut dihakimi oleh orang lain. Kamu dapat bercerita ke sahabat dekat yang suportif, menulis jurnal harian, atau berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog jika emosimu mulai mengganggu aktivitas. Membagi beban pikiran ke orang yang tepat bakal bikin pundakmu terasa jauh lebih ringan, lho.


  5. 5. Bangun koneksi sosial yang solid

    ilustrasi bergabung dalam komunitas pecinta kucing
    ilustrasi bergabung dalam komunitas pecinta kucing (pexels.com/Sami Abdullah)

    Manusia adalah makhluk sosial yang butuh rasa saling terhubung, terutama di masa-masa sulit yang penuh ketidakpastian. Terisolasi dan mengurung diri hanya akan membuat bisikan existential dread di dalam kepalamu terdengar semakin nyaring. Bergabung dengan komunitas yang memiliki minat sama atau sekadar berkumpul dengan orang-orang terdekat bisa memberikan rasa aman. 

    Kamu juga bisa mulai terlibat dalam aksi sosial kecil-kecilan di sekitarmu untuk membantu sesama yang membutuhkan, kok. Membantu orang lain terbukti secara ilmiah bisa meningkatkan hormon kebahagiaan dan memberikan rasa kepemilikan yang kuat. Saat kamu bahu-membahu dengan orang lain, perasaan tak berdaya itu perlahan akan terkikis berganti menjadi rasa solidaritas. Bersama-sama, langkah menapaki masa depan yang kabur ini bakal terasa jauh lebih ringan dan menguatkan.

    Guys, proses mengenal existential dread mengajarkan kamu untuk tetap bertahan dan menemukan pijakan di tengah ketidakpastian yang melanda. Ingatlah bahwa gak apa-apa untuk merasa takut, asal kamu gak membiarkan ketakutan itu menghentikan langkahmu untuk terus hidup. Tetap jaga kesehatan mentalmu, saling merawat satu sama lain, dan percayalah bahwa selalu ada harapan baik ke depannya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More