Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Kamu Terjebak Performative Reading di Media Sosial
ilustrasi membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)
  • Performative reading terjadi ketika aktivitas membaca di media sosial lebih ditujukan membangun citra dan mencari pengakuan daripada memahami isi buku.

  • Tandanya meliputi memilih buku demi terlihat intelektual, mengejar jumlah bacaan, memamerkan koleksi, serta membagikan kutipan tanpa memahami konteksnya.

  • Fenomena ini juga terlihat saat seseorang merendahkan selera bacaan orang lain, padahal literasi mencakup pemahaman kritis, konteks, dan keterbukaan perspektif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membaca buku sering dikaitkan dengan kebiasaan positif yang dapat memperluas wawasan, mempertajam pemikiran kritis, dan membantu seseorang memahami berbagai perspektif. Di media sosial, aktivitas membaca bahkan menjadi bagian dari identitas diri yang ditampilkan melalui ulasan buku, target bacaan tahunan, hingga koleksi buku yang dipamerkan. Fenomena ini tidak selalu bermasalah karena berbagi pengalaman membaca juga bisa menginspirasi orang lain.

Namun, ada kalanya aktivitas membaca lebih berorientasi pada citra yang ingin dibangun daripada pengalaman memahami isi buku itu sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai performative reading, yakni kecenderungan menampilkan aktivitas membaca demi memperoleh pengakuan atau membentuk kesan tertentu. Lantas, perilaku seperti apa yang bisa mencerminkan fenomena ini?

1. Membaca buku demi terlihat intelektual

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Nam Phong Bùi)

Salah satu bentuk performative reading adalah memilih bacaan karena ingin dipandang cerdas dan berwawasan luas. Buku filsafat, sastra klasik, atau teori sosial, misalnya, bisa menjadi bagian dari upaya membangun citra intelektual. Pilihan tersebut tentu tidak keliru karena setiap orang berhak menikmati genre bacaan yang disukai. Persoalannya muncul ketika nilai sebuah buku hanya diukur dari kesan prestisius yang melekat padanya, bukan dari ketertarikan terhadap gagasan yang dibahas.

Dalam situasi ini, membaca berisiko berubah menjadi sarana untuk memperoleh pengakuan sosial. Seseorang mungkin merasa perlu menunjukkan bahwa dirinya membaca karya yang dianggap serius agar dipandang lebih berpengetahuan daripada orang lain. Padahal, kualitas literasi tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kesulitan buku yang dibaca. Kemampuan memahami isi, mempertanyakan argumen, dan menghubungkan gagasan dengan kehidupan sehari-hari juga merupakan bagian penting dari proses membaca.

2. Mengejar target bacaan demi angka dan pengakuan

ilustrasi seorang perempuan membaca buku (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Menetapkan target membaca tahunan dapat membantu seseorang membangun kebiasaan membaca secara konsisten. Namun, target tersebut berpotensi menjadi bagian dari performative reading ketika jumlah buku yang berhasil diselesaikan lebih penting daripada pemahaman terhadap isinya. Misalnya, seseorang merasa harus menamatkan puluhan buku dalam setahun agar bisa memamerkan pencapaiannya di media sosial, meskipun ia tidak benar-benar menikmati proses membaca tersebut.

Ketika angka menjadi tolok ukur utama, membaca dapat terasa seperti perlombaan yang harus dimenangkan. Buku yang tebal atau membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami mungkin dianggap sebagai hambatan karena memperlambat pencapaian target. Padahal, tidak semua buku perlu dibaca dengan kecepatan yang sama. Ada bacaan yang bisa diselesaikan dalam beberapa jam, tetapi ada pula yang membutuhkan perenungan berulang. Jumlah buku memang bisa mencatat produktivitas, tetapi tidak otomatis menggambarkan kedalaman pemahaman seseorang.

3. Memamerkan koleksi buku sebagai simbol status

ilustrasi memilih buku di rak (pexels.com/cottonbro studio)

Mengunggah foto rak buku yang tertata rapi atau buku terbaru yang sedang dibaca merupakan hal lumrah di media sosial. Aktivitas tersebut bahkan bisa menjadi cara untuk berbagi rekomendasi dan menemukan teman dengan minat serupa. Akan tetapi, kebiasaan ini dapat mencerminkan performative reading ketika koleksi buku lebih berfungsi sebagai aksesori untuk membangun citra tertentu daripada sumber pengetahuan yang benar-benar ingin dijelajahi.

Fenomena ini berkaitan dengan cara benda-benda tertentu digunakan untuk menunjukkan identitas dan status sosial. Koleksi buku yang didominasi karya klasik atau bacaan akademis, misalnya, dapat memberikan kesan bahwa pemiliknya memiliki wawasan luas. Padahal, kepemilikan buku tidak selalu sejalan dengan kebiasaan membaca atau pemahaman terhadap isinya. Rak yang penuh buku bukan masalah, tetapi menjadikannya satu-satunya bukti kecerdasan dapat mempersempit makna literasi menjadi sekadar penampilan.

4. Mengutip buku tanpa memahami konteksnya

ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Mengutip kalimat dari buku dapat membantu menyebarkan gagasan yang menarik dan mengundang diskusi. Namun, praktik ini bisa menjadi bentuk performative reading ketika kutipan hanya digunakan agar seseorang terlihat bijaksana atau intelektual, tanpa memahami konteks yang melatarbelakanginya. Kalimat yang terdengar mendalam sering kali lebih mudah menarik perhatian dibandingkan penjelasan panjang mengenai argumen penulis, sehingga kutipan tertentu berisiko diperlakukan sebagai hiasan untuk membangun citra diri.

Masalahnya bukan terletak pada kebiasaan membagikan kutipan, melainkan pada kecenderungan mengabaikan makna demi kesan yang dihasilkan. Sebuah kalimat yang diambil dari konteks tertentu bahkan bisa ditafsirkan secara keliru ketika digunakan untuk mendukung pendapat pribadi. Literasi yang baik tidak berhenti pada kemampuan menemukan dan mengingat kalimat menarik. Pembaca juga perlu mempertimbangkan maksud penulis, konteks pembahasan, serta relevansi gagasan tersebut sebelum menggunakannya untuk menjelaskan suatu persoalan.

5. Merendahkan selera bacaan orang lain

ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/Uriel Lu)

Bentuk performative reading lainnya adalah menggunakan selera bacaan sebagai dasar untuk menilai kualitas intelektual orang lain. Seseorang mungkin menganggap pembaca sastra klasik lebih berwawasan daripada pembaca novel populer, atau memandang buku pengembangan diri sebagai bacaan yang kurang bermutu dibandingkan karya filsafat. Pandangan semacam ini menciptakan hierarki bacaan yang seolah-olah menentukan siapa yang layak disebut sebagai pembaca serius dan siapa yang tidak.

Padahal, setiap genre memiliki karakteristik, tujuan, dan pembaca yang berbeda. Novel populer dapat membantu seseorang membangun kebiasaan membaca, sementara bacaan ringan sekalipun bisa membuka perspektif baru jika dibaca secara kritis. Sebaliknya, membaca karya yang dianggap berbobot tidak otomatis membuat seseorang lebih bijaksana atau terbuka terhadap perbedaan pendapat. Ketika pengetahuan digunakan untuk merendahkan orang lain, aktivitas membaca justru kehilangan kesempatan untuk memperluas pemahaman dan membangun dialog yang bermakna.

Performative reading mengingatkan kita bahwa literasi bukan sekadar tentang buku yang dibaca, jumlah halaman yang diselesaikan, atau kesan intelektual yang ditampilkan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita memahami, mempertanyakan, dan mengolah gagasan dari bacaan tersebut tanpa menjadikannya alat untuk merasa lebih unggul daripada orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article