Belakangan, istilah “acting your wage” makin sering muncul di obrolan soal kerja, terutama di kalangan gen Z dan pekerja muda. Sederhananya, konsep ini mengajak orang untuk bekerja sesuai porsi tanggung jawab dan gaji yang diterima, bukan terus-terusan mengambil pekerjaan tambahan demi dianggap loyal atau “anak rajin” di kantor.
Istilah ini terasa dekat karena banyak orang pernah ada di posisi kerjaan nambah, chat masuk di luar jam kantor, diminta pegang tugas orang lain, tapi kompensasi dan jabatan tetap sama. Di tengah obrolan soal burnout dan work-life balance, acting your wage akhirnya terasa seperti cara baru untuk bilang, “aku tetap profesional, tapi waktuku juga punya batas”. Jadi, kenapa konsep ini ramai banget dibicarakan?
