Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Belanja Berlebihan saat Grocery Shopping menurut Psikolog

5 Alasan Belanja Berlebihan saat Grocery Shopping menurut Psikolog
Ilustrasi grocery shopping (pexels.com/Rulo Davila)

Banyak dari kita yang pastinya punya kebiasaan membeli barang berlebih saat grocery shopping. Misalnya, mengambil beberapa camilan yang terlihat sangat menggoda, atau mungkin tanpa sengaja membeli sebotol saus lagi.

Jika ini terdengar familiar, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian! Membeli barang berlebihan di supermarket adalah hal yang umum, bahkan jika kamu datang dengan daftar belanjaan. Ada juga banyak alasan mengapa hal itu terjadi. Inilah jawabannya menurut psikolog!

1. Berbelanja saat lapar

Ilustrasi grocery shopping
Ilustrasi grocery shopping (pexels.com/Greta Hoffman)

Menurut Jackie Shiels, PsyD, psikolog di Kaiser Permanente, berbelanja saat lapar adalah salah satu alasan utama kita membeli barang secara berlebihan.

“Ketika kita berbelanja dengan perut kosong, otak kita fokus pada kepuasan instan. Kita mungkin mengabaikan daftar belanja dan membeli makanan secara impulsif,” tambahnya mengutip dari laman Real Simple.

Melalui sumber yang sama, Kiki Jacobson, LCMHCA, terapis dan pendidik kesehatan mental berlisensi di Nour Counseling & Consulting, PLLC, setuju, mencatat bahwa rasa lapar menguras sumber daya kognitif yang dibutuhkan untuk pengaturan diri. Akibatnya, semua makanan tiba-tiba menjadi lebih menarik.

2. Sering merasa kurang (scarcity mindset)

Ilustrasi grocery shopping
Ilustrasi grocery shopping (pexels.com/Helena Lopes)

Setelah banyaknya rak kosong, misalnya selama pandemi, banyak dari kamu mungkin sering merasa 'kurang' atau disebut dengan scarcity mindset, tanpa menyadarinya.

Hal yang sama berlaku jika kamu pernah mengalami kekurangan pangan di masa lalu, yang mungkin mengaktifkan konsep "beli persediaan selagi bisa".

"Secara psikologis, ini didorong oleh penghindaran kerugian, [karena] otak kita dirancang untuk mencegah kekurangan di masa depan, bahkan ketika persediaan stabil," jelas Shiels.

Scarcity mindset mungkin juga memiliki komponen generasi. Jika kamu memiliki orangtua atau kakek-nenek yang pernah mengalami kesulitan makanan di masa lampau, kesulitan ekonomi, atau sejarah budaya yang penuh dengan kekurangan, mereka mungkin secara tidak sengaja mewariskan pesan bahwa memiliki makanan berlebih sama dengan aman.

3. Teralihkan karena diskon

Ilustrasi grocery shopping
Ilustrasi grocery shopping (pexels.com/Ninthgrid)

Alasan belanja berlebihan saat grocery shopping berikutnya mungkin yang paling sering, yaitu teralihkan karena banyak diskon!

“Ketika kita melihat harga diskon di samping harga asli yang lebih tinggi, otak kita akan terpaku pada angka yang lebih tinggi. Diskon ini terasa seperti kemenangan, jadi kita membenarkan pembelian lebih banyak untuk 'memaksimalkan penawaran'," kata Kieva Hranchuk, PhD, BCBA-D, RBA, seorang behavioral scientist dan pendiri Buyer Behavior Inc, mengutip laman Real Simple.

Memang, penjualan seperti itu dapat bermanfaat ketika membeli persediaan bahan pokok yang akan digunakan, tetapi ada baiknya untuk berpikir dengan bijak sebelum membeli.

4. Kamu sedang mendapatkan lonjakan dopamin

Ilustrasi grocery shopping
Ilustrasi grocery shopping (pexels.com/RF._.studio _)

Menurut Hranchuk, membeli makanan mengaktifkan sedikit imbalan dopamin karena kita mengantisipasi kenikmatan memakannya nanti. Hal ini terutama berlaku ketika kamu sudah lapar. Sayangnya, hal ini dapat mengesampingkan pertimbangan jangka panjang seperti anggaran atau pemborosan makanan.

Adapun minum kopi bisa jadi penyebab dari lonjakan dopamin itu, lho! Seperti yang dicatat Jacobson, penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Marketing menemukan bahwa mengonsumsi minuman berkafein sebelum berbelanja menyebabkan pengeluaran impulsif yang lebih tinggi, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi minuman tanpa kafein.

"Kafein adalah stimulan yang meningkatkan energi, kewaspadaan, dan dopamin, yang dapat membuat kamu merasa lebih berorientasi pada imbalan. Keadaan yang meningkat itu sering meningkatkan impulsivitas, membuat pembelian spontan terasa lebih menarik,” jelas Jacobson.

5. Kamu merasa stres atau cemas

Ilustrasi grocery shopping
Ilustrasi grocery shopping (pexels.com/Gustavo Fring)

Jika kamu merasa stres, lelah, kewalahan, atau sedih, menambahkan barang-barang ekstra ke keranjang belanja akan terasa menyenangkan karena otak mendapatkan peningkatan dopamin.

Apabila kondisi mental terasa kacau, menyediakan keranjang belanja penuh untuk diri sendiri dapat mewakili prediktabilitas, kendali, dan kepastian ketika segala sesuatu tampak tidak stabil.

“Otak senang menciptakan kepastian dan prediktabilitas karena itu adalah salah satu cara otak dirancang untuk menjagamu tetap aman,” jelas Jacobson.

Sementara itu, menurut Anna Lembke, seorang psikiater di Universitas Stanford di California, fenomenologi belanja berlebih saat grocery shopping juga mengikuti pola kecanduan klasik.

“Orang melakukannya pada awalnya untuk bersenang-senang atau untuk memecahkan masalah, mulai dari mengatasi kecemasan atau depresi hingga kesepian atau kebosanan," ujarnya mengutip dari laman Scientific American.

Nah, itulah berbagai alasan mengapa kita suka belanja berlebihan saat grocery shopping. Maka dari itu, disarankan untuk makan terlebih dahulu, periksa kulkas, hingga catat barang belanja sebelum melakukan grocery shopping. So, semoga penjelasannya menjawab pertanyaanmu, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us