Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kamu Mulai Jenuh Online Terus? Ini Alasan Hobi Analog Naik Daun

Kamu Mulai Jenuh Online Terus? Ini Alasan Hobi Analog Naik Daun
ilustrasi alasan Gen Z balik ke hobi analog (pexels.com/Breno Cardoso)
Intinya Sih
  • Banyak anak muda mengalami digital burnout akibat terlalu lama menatap layar, sehingga hobi analog jadi pelarian untuk menenangkan pikiran dan mengistirahatkan diri dari dunia maya.
  • Hobi analog memberi kepuasan nyata lewat interaksi dengan benda fisik serta proses lambat yang mengajarkan kesabaran dan mindfulness di tengah budaya serba instan.
  • Tren ini juga mencerminkan keinginan Gen Z untuk hidup lebih autentik, bebas dari tekanan FOMO, distraksi notifikasi, dan budaya konsumtif digital yang melelahkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Setiap hari mata kamu dipaksa menatap layar, mulai dari urusan tugas, kerjaan, sampai hiburan yang gak ada habisnya di TikTok atau Instagram. Fenomena digital burnout ini nyata adanya, dan banyak dari kamu yang mulai merasa kalau hidup cuma sekadar ada di dunia maya. Akhirnya, tren hobi analog kembali naik daun karena banyak yang butuh pelarian dari bisingnya internet.

Kalau kamu terus-terusan membiarkan diri terjebak dalam siklus doomscrolling, kesehatan mental kamu bisa beneran terancam, lho. Sejalan dengan “Mental Awareness Month”, gak ada salahnya kamu kembali membangun koneksi yang lebih baik dengan realitas dengan hobi analog. Yuk, cari tahu kenapa sekarang banyak teman sebaya kamu yang malah asyik main kamera tustel atau rajin menulis di buku harian!

1. Jenuh karena seharian menatap layar

ilustrasi bermain board game bersama teman (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi bermain board game bersama teman (pexels.com/cottonbro studio)

Menatap layar selama belasan jam sehari itu beneran bikin otak terasa "mendidih" dan mata perih. Kamu butuh jeda yang benar-benar nyata, di mana gak ada cahaya biru (blue light) yang menginterupsi pandangan. Hobi analog dinilai sebagai penolong untuk memberikan istirahat total bagi sistem saraf yang sudah kelelahan. Dengan beralih ke aktivitas fisik, otak kamu akhirnya bisa bernapas lega dari gempuran informasi digital.

Gak heran kalau sekarang banyak yang memilih untuk merajut atau main board game bareng teman-teman di akhir pekan. Bayangkan saja, kamu gak perlu khawatir baterai habis atau sinyal jelek saat lagi asyik-asyiknya berkarya. Ini bukan soal kuno atau ketinggalan zaman, tapi soal self-preservation biar mata gak mudah lelah.

2. Mencari kepuasan dari benda fisik

ilustrasi kamera saku jadul
ilustrasi kamera saku jadul (pexels.com/Dimas Utomo)

Di dunia yang serba digital, semua hal terasa sangat abstrak karena tersimpan di dalam cloud atau memori HP. Ada kepuasan tersendiri yang gak bisa digantikan saat tangan kamu menyentuh tekstur kertas atau memutar piringan hitam, kok. Memiliki benda fisik hasil jerih payah sendiri memberikan validasi kalau eksistensi kamu itu nyata, bukan cuma sekadar akun di medsos. Hal ini membuatmu merasa lebih membumi dan punya kontrol penuh atas apa yang kamu lakukan.

Contohnya, memotret pakai kamera analog itu sensasinya beda jauh dengan memakai kamera HP yang tinggal jepret seribu kali. Kamu harus memikirkan komposisi, cahaya, dan sabar menunggu hasil cuci cetaknya keluar dari lab. Begitu fotonya jadi dan bisa kamu pegang, rasanya seperti memegang potongan memori yang sangat berharga. Gak apa-apa keluar uang sedikit lebih banyak buat beli roll film, yang penting hati puas dan ada bukti fisiknya, kan. 


3. Belajar sabar lewat proses yang lambat

ilustrasi merawat tanaman
ilustrasi merawat tanaman (pexels.com/Gustavo Fring)

Hidup di zaman yang menuntut segalanya serba instan, mulai dari makanan sampai respon chat yang harus cepat, bikin kamu jadi kurang sabar. Padahal, terus-terusan diburu waktu itu bikin tingkat stres melonjak drastis dan kita jadi gampang emosian. Hobi analog memaksa kamu untuk melambat, menikmati setiap proses, dan menghargai yang namanya waktu. Slow living lewat aktivitas manual ternyata menjadi terapi yang sangat ampuh untuk menenangkan pikiran yang kalut, lho.

Mulailah merawat tanaman hias di teras atau kamar, kamu pasti bakal belajar kalau pertumbuhan itu gak bisa dipaksa. Kamu gak bisa klik "speed faster" biar daunnya cepat tumbuh atau bunganya mendadak mekar besok pagi. Proses menyiram, memberi pupuk, dan menunggu itulah yang sebenarnya bikin kita belajar tentang ketabahan. Bonusnya, kamu jadi pribadi yang lebih tenang dan gak gampang tantrum kalau koneksi internet lagi lemot.


4. Estetika 'imperfect' yang justru terasa jujur

ilustrasi menulis diary
ilustrasi menulis diary (pexels.com/Katya Wolf)

Filter di media sosial kerap membuat standar kecantikan dan kehidupan jadi terlalu sempurna sampai terasa palsu. Gen Z sekarang lebih suka sesuatu yang punya karakter, meskipun ada sedikit kesalahan atau kekurangan di sana-sini. Tekstur grain pada foto analog atau tulisan tangan yang agak miring justru memberikan kesan personal yang sangat dalam. Hal-hal yang "cacat" secara visual ini malah dianggap sebagai seni yang jujur dan apa adanya.

Kejujuran dalam ketidaksempurnaan ini bikin kamu merasa lebih diterima sebagai manusia biasa yang emang tempatnya salah. Kamu gak perlu edit sana-sini pakai AI hanya untuk terlihat keren di mata orang lain. Cukup dengan jadi diri sendiri lewat karya-karya manual yang autentik, kamu sudah menunjukkan karaktermu yang sebenarnya, kok. 


5. Butuh jeda dari gempuran notifikasi

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
ilustrasi membaca buku (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Sering gak sih lagi fokus mengerjakan sesuatu, eh, tiba-tiba ada notifikasi masuk dan fokus kamu langsung buyar seketika? Distraksi digital itu musuh utama produktivitas dan kedamaian pikiran di masa sekarang. Dengan melakukan aktivitas analog, kamu secara otomatis melakukan digital detox tanpa perlu usaha yang terlalu keras. 

Saat kamu lagi asyik membaca buku fisik, gak bakal ada pop-up iklan atau chat dari grup kantor yang ganggu di tengah halaman. Kamu bisa benar-benar masuk ke dalam cerita dan imajinasi tanpa interupsi dunia luar. Ini jadi momen privasi yang mewah di tengah dunia yang seolah-olah menuntut kita untuk selalu standby 24 jam, kan?


6. Mengurangi rasa cemas akibat FOMO

ilustrasi bermain gitar (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi bermain gitar (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Media sosial sering memicu rasa Fear of Missing Out (FOMO) yang bikin kamu selalu merasa kurang dibanding orang lain. Kamu jadi sering membandingkan proses "di balik layar" dengan "panggung depan" orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa. Hobi analog membantumu untuk fokus pada diri sendiri dan apa yang ada di depan mata saat ini juga. Fokusnya bukan lagi soal berapa banyak likes yang bakal didapat, tapi soal seberapa bahagia kamu menjalaninya.

Ketika kamu asyik bermain alat musik atau menyusun puzzle, perhatianmu bakal teralihkan dari kehidupan orang lain di Instagram. Kamu jadi lebih bersyukur dengan pencapaian-pencapaian kecil yang kamu raih secara mandiri. Perasaan tenang ini bakal bikin level kecemasanmu turun dan kamu jadi gak gampang iri sama pencapaian orang lain.

7. Bentuk protes terhadap budaya serba instan

ilustrasi belanja barang vintage
ilustrasi belanja barang vintage (pexels.com/Neslihan Ercan)

Banyak Gen Z yang mulai sadar kalau konsumerisme digital yang berlebihan itu melelahkan dan merusak lingkungan. Memilih hobi analog seperti menjahit baju sendiri atau belanja barang vintage jadi bentuk protes kecil terhadap budaya buang-pakai. Ada nilai keberlanjutan dan penghargaan terhadap barang-barang lama yang masih berfungsi dengan baik. 

Memperbaiki barang yang rusak daripada langsung beli yang baru itu rasanya keren dan sangat eco-friendly. Kamu jadi punya hubungan emosional dengan benda-benda di sekitarmu karena kamu tahu cara merawatnya. Selain hemat di kantong, gaya hidup seperti ini juga bikin kamu jadi pribadi yang kreatif dalam memanfaatkan apa yang ada, kan. 

Menekuni aktivitas manual di tengah gempuran teknologi bukan berarti kamu anti-kemajuan, melainkan cara cerdas untuk menjaga keseimbangan hidup, kok. Dengan kembali ke hobi analog, kamu memberikan ruang bagi jiwa untuk beristirahat dan kembali terhubung dengan diri sendiri secara lebih autentik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More