Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Alasan Menulis Jurnal Tetap Seru walau Gak Dibaca Orang Lain

4 min read
Alasan Menulis Jurnal Tetap Seru walau Gak Dibaca Orang Lain
ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/cottonbro studio)
  • Jurnal pribadi memberi ruang untuk menulis bebas tanpa takut dinilai, disalahpahami, atau harus menjaga kesan tertentu di hadapan orang lain.
  • Menulis membantu menampung unek-unek yang sulit disampaikan langsung, tanpa interupsi atau nasihat, sehingga pikiran yang penuh dapat terasa lebih tertata.
  • Catatan jurnal menyimpan momen sederhana dan merekam perubahan diri dari waktu ke waktu, tanpa tuntutan tulisan menarik, pembaca, komentar, atau tanda suka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak semua tulisan dibuat untuk dibagikan kepada orang lain. Ada yang sengaja disimpan di buku catatan, aplikasi, atau dokumen pribadi karena memang hanya ingin menjadi tempat untuk menuangkan isi pikiran. Bahkan, sebagian orang rutin menulis jurnal meski tahu tidak akan ada orang lain yang membaca setiap kalimatnya.

Menariknya, kegiatan ini tetap bisa terasa menyenangkan meskipun tidak menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan atau mendapat tanggapan dari siapa pun. Tidak ada tuntutan untuk menggunakan bahasa yang bagus, menyusun cerita secara rapi, atau membuat tulisan terlihat menarik. Lalu, apa alasan menulis jurnal tetap seru walau gak dibaca orang lain dan hanya untuk diri sendiri?

  1. 1. Bisa menulis apa pun tanpa takut dinilai orang lain

    ilustrasi menulis jurnal
    ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Ivan S)

    Saat menulis untuk dibaca orang lain, seseorang mungkin akan memikirkan banyak hal sebelum menuangkan isi pikirannya. Apakah kalimatnya terdengar aneh, apakah ceritanya terlalu berlebihan, atau apakah orang yang membaca akan salah paham? Pertimbangan seperti ini terkadang membuat seseorang justru kesulitan mengungkapkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

    Jurnal pribadi memberikan kebebasan yang berbeda. Kamu bisa menulis tentang rasa kesal kepada teman, kecewa karena pekerjaan, iri melihat pencapaian orang lain, atau hal kecil yang mungkin terdengar tidak penting. Tidak perlu menyaring setiap kalimat demi menjaga kesan tertentu karena tulisan tersebut memang tidak ditujukan untuk mendapatkan penilaian siapa pun.

  2. 2. Bisa mengeluarkan isi kepala yang sulit diceritakan secara langsung

    ilustrasi menulis jurnal
    ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Roberto Hund)

    Ada pengalaman yang sebenarnya ingin diceritakan, tetapi sulit menemukan orang yang tepat untuk mendengarkannya. Misalnya, kamu sedang kecewa dengan keluarga, merasa tertinggal dari teman sebaya, atau khawatir menghadapi sesuatu yang belum terjadi. Bukan berarti tidak punya teman untuk berbicara, tetapi terkadang seseorang hanya ingin mengungkapkan perasaannya tanpa harus menjelaskan semuanya dari awal.

    Menulis jurnal bisa menjadi cara untuk menampung pikiran-pikiran tersebut. Kamu tidak perlu khawatir akan dipotong pembicaraan, dibandingkan dengan pengalaman orang lain, atau langsung diberi nasihat ketika sebenarnya hanya ingin mengeluarkan unek-unek. Setelah menuliskannya, isi kepala yang tadinya terasa penuh bisa menjadi sedikit lebih tertata.

  3. 3. Menikmati hal-hal kecil yang mungkin terlupakan kalau tidak dicatat

    ilustrasi menulis jurnal
    ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

    Tidak semua hal menarik dalam hidup berupa kejadian yang serba mengesankan. Sarapan enak sebelum berangkat kerja, bertemu teman lama secara tidak sengaja, menemukan lagu yang cocok dengan suasana hati, atau menikmati hujan dari balik jendela juga bisa menjadi pengalaman yang ingin dikenang. Sayangnya, kejadian sederhana seperti ini sering terlupakan karena hari-hari terus berjalan.

    Dengan menulis jurnal, kamu bisa menyimpan potongan pengalaman tersebut menggunakan sudut pandang sendiri. Beberapa bulan kemudian, membaca catatan tentang hari biasa bisa terasa menyenangkan karena ada detail yang ternyata masih membekas. Bahkan, hal yang dahulu dianggap sepele mungkin justru menjadi bagian paling berkesan ketika dibaca kembali.

  4. 4. Bisa melihat perubahan diri dari waktu ke waktu

    ilustrasi menulis jurnal
    ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Karola G)

    Perasaan dan cara seseorang memandang kehidupan bisa berubah seiring berjalannya waktu. Masalah yang dulu terasa sangat berat mungkin sekarang sudah bisa dihadapi dengan lebih tenang. Begitu pula dengan keinginan, hubungan pertemanan, hingga hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari.

    Catatan lama dapat membantu kamu melihat perubahan tersebut secara lebih nyata. Misalnya, kamu menemukan tulisan tentang betapa gugupnya menghadapi pekerjaan pertama, lalu menyadari bahwa sekarang sudah lebih terbiasa menghadapi tanggung jawab serupa. Jurnal akhirnya bukan sekadar kumpulan cerita harian, melainkan rekaman perjalanan diri yang mungkin tidak terlalu terlihat ketika sedang menjalaninya.

  5. 5. Tidak perlu memikirkan apakah tulisan tersebut cukup menarik untuk dibagikan

    ilustrasi menulis jurnal
    ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/RDNE Stock project)

    Ketika menulis untuk media sosial atau platform lain, ada kecenderungan untuk mempertimbangkan apakah sebuah cerita layak dibagikan atau tidak. Seseorang mungkin mengurungkan niat menulis karena merasa pengalamannya terlalu biasa, kalimatnya kurang bagus, atau tidak ada hal menarik yang bisa ditawarkan kepada pembaca. Akibatnya, kegiatan menulis bisa terasa seperti pekerjaan tambahan yang harus menghasilkan sesuatu.

    Berbeda dengan jurnal pribadi, kamu tidak perlu membuat setiap tulisan punya pesan mendalam atau akhir cerita yang mengesankan. Bahkan, catatan seperti "hari ini capek banget, kerjaan numpuk dan pengin tidur seharian" tetap sah untuk kamu tulis. Tidak ada standar jumlah pembaca, komentar, atau tanda suka yang harus dikejar sehingga kamu bisa menikmati proses menulis tanpa memikirkan respons orang lain.

    Menulis jurnal tidak harus menghasilkan tulisan bagus, apalagi dibaca banyak orang agar terasa bermanfaat. Alasan menulis jurnal tetap seru walau gak dibaca orang lain adalah muncul kepuasan tersendiri ketika bisa menyimpan cerita, pikiran, dan perasaan dengan cara paling nyaman bagi diri sendiri. Jadi, kalau kamu suka menulis jurnal meski tidak pernah membagikannya, kegiatan itu tetap punya arti meskipun hanya kamu yang tahu isinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More