ilustrasi konten kreator (pexels.com/Kampus Production)
Untuk mengurangi kecenderungan tersebut, seseorang dapat mulai membangun kesadaran diri (self-awareness) dengan mengenali perasaan dan kebutuhan yang sebenarnya ingin dipenuhi melalui perilaku berisiko. Selain itu, kemampuan regulasi emosi perlu diperkuat, salah satunya dengan belajar menoleransi ketidaknyamanan tanpa harus mencari pelampiasan melalui tindakan yang membahayakan diri sendiri.
Penting pula untuk mencari sumber kepuasan yang lebih sehat. Pencapaian kecil dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, dapat memberikan rasa bahagia dan kepuasan tanpa harus menempatkan diri dalam situasi berbahaya. Seseorang juga perlu memahami bahwa tindakan berisiko bukanlah identitas yang melekat pada dirinya. Dengan membangun identitas diri yang lebih positif dan mengubah cara pandang terhadap tantangan, seseorang dapat belajar memenuhi kebutuhannya melalui cara yang lebih aman.
Menurut Masterpiece Psychology, kecenderungan mengambil risiko dapat menjadi sinyal bahwa seseorang membutuhkan koneksi sosial, istirahat, pemulihan emosional, atau rasa aman secara psikologis. Oleh karena itu, dukungan dari orang-orang terdekat maupun tenaga profesional dapat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan, terutama jika perilaku tersebut berkaitan dengan persoalan emosional yang belum terselesaikan.
Jika kesulitan mengendalikan perilaku berisiko terus berulang, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental dapat membantu seseorang memahami akar masalah dan menemukan strategi penanganan yang lebih tepat.