Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Hedonic Adaptation? Alasan Kenapa Rasa Bahagia Cepat Memudar
ilustrasi perempuan membaca buku di rest corner (pexels.com/karolinagrabowska)
  • Hedonic adaptation adalah kecenderungan manusia kembali ke tingkat kebahagiaan semula setelah peristiwa besar, membuat rasa senang dari pencapaian atau barang baru cepat memudar.
  • Otak beradaptasi agar emosi tetap stabil, namun hal ini juga menyebabkan kebahagiaan tidak bertahan lama karena sesuatu yang awalnya istimewa menjadi terasa biasa.
  • Adaptasi hedonis bisa menimbulkan ketidakpuasan terus-menerus, sehingga penting melatih rasa syukur, mindfulness, dan fokus pada makna hidup agar kebahagiaan lebih tahan lama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah merasa sangat bahagia setelah membeli barang impian, mendapat promosi, atau mencapai target tertentu? Namun tak lama kemudian, rasa senang itu perlahan memudar dan semuanya kembali terasa biasa. Jika pernah mengalaminya, kamu gak sendirian.

Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai hedonic adaptation atau adaptasi hedonis. Sederhananya, otak manusia cenderung terbiasa dengan berbagai perubahan, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Lalu, apa itu sebenarnya hedonic adaptation dan mengapa hal ini bisa terjadi? Yuk, simak penjelasannya!

1. Apa itu hedonic adaptation?

ilustrasi menggunakan handphone (pexels.com/georgedolgikh)

Hedonic adaptation adalah kecenderungan seseorang untuk kembali ke tingkat kebahagiaan seperti semula setelah mengalami peristiwa besar dalam hidup. Istilah ini juga sering disebut sebagai hedonic treadmill karena manusia seolah terus berlari mengejar kebahagiaan, tetapi akhirnya kembali lagi ke titik awal.

Misalnya, saat membeli ponsel baru. Di hari pertama, kamu mungkin merasa sangat senang dan terus menggunakannya. Namun beberapa minggu kemudian, ponsel itu terasa biasa saja karena sudah menjadi bagian dari rutinitas. Hal yang sama juga bisa terjadi setelah mendapat promosi, membeli rumah, hingga memulai hubungan baru.

2. Kenapa otak kita cepat terbiasa dengan hal-hal yang menyenangkan?

ilustrasi perempuan tersenyum (pexels.com/olly)

Otak dirancang untuk beradaptasi dengan lingkungan. Kemampuan ini sebenarnya penting agar kita tidak terus-menerus larut dalam emosi yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Dikutip dari Psych Central, menurut psikolog Dr. Natalie Bernstein, proses adaptasi ini justru membantu seseorang kembali stabil setelah mengalami pengalaman yang berat.

"Proses ini dapat berfungsi sebagai mekanisme perlindungan terhadap kecemasan dan depresi karena proses adaptasi membantu kita kembali ke kondisi emosional yang biasanya kita rasakan," jelas Dr. Bernstein.

Di sisi lain, kemampuan beradaptasi ini juga membuat rasa bahagia akibat pencapaian atau barang baru tidak bertahan selamanya. Begitu sesuatu menjadi "normal", otak berhenti menganggapnya sebagai hal yang istimewa.

3. Hedonic adaptation juga punya sisi negatif

ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)

Meski terdengar wajar, hedonic adaptation bisa membuat seseorang terus merasa kurang puas sehingga terdorong membeli barang baru, mencari pengalaman yang lebih seru, atau mengejar pencapaian berikutnya. Menurut Travis McNulty, direktur klinis sekaligus pendiri McNulty Counseling and Wellness, dikutip dari Psych Central, kebiasaan ini dapat menjadi masalah jika terus berlanjut.

"Keinginan untuk terus mengejar sesuatu yang lebih dapat memperparah perasaan hampa dan akhirnya memicu berbagai masalah kesehatan mental," jelas McNulty.

Bukan berarti kamu gak boleh mengejar impian atau menikmati hasil kerja keras. Namun jika kebahagiaan selalu bergantung pada hal berikutnya yang harus dicapai, rasa puas akan sulit benar-benar dirasakan.

4. Contoh hedonic adaptation dalam kehidupan sehari-hari

ilustrasi perempuan sedang melakukan perjanan ke luar negeri (pexels.com/gustavofring)

Fenomena ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Selain membeli barang baru, hedonic adaptation juga bisa terjadi dalam berbagai situasi, seperti:

  • Mendapat promosi atau kenaikan gaji yang awalnya terasa sangat membahagiakan, tetapi lama-kelamaan menjadi hal biasa.

  • Memulai hubungan baru yang penuh rasa berbunga-bunga, lalu perlahan berubah menjadi rutinitas.

  • Memenangkan hadiah atau memperoleh pencapaian besar yang euforianya hanya bertahan sementara.

  • Bahkan, saat kehilangan pekerjaan atau orang tercinta. Awalnya rasa sedih sangat mendalam, tetapi seiring waktu, banyak orang perlahan mampu kembali menjalani hidup dan menemukan keseimbangan emosinya.

5. Bagaimana agar rasa bahagia bisa bertahan lebih lama?

ilustrasi journaling (pexels.com/olly)

Meski tidak bisa menghentikan hedonic adaptation, kamu bisa mengurangi dampaknya dengan lebih sering bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Tetapkan pula tujuan hidup yang bermakna, karena kepuasan yang lahir dari proses biasanya bertahan lebih lama daripada kesenangan sesaat.

Selain itu, cobalah menikmati setiap momen dengan penuh kesadaran (mindfulness) dan seimbangkan rutinitas dengan pengalaman baru. Ingat juga bahwa perasaan negatif akan perlahan mereda seiring waktu, sehingga kamu tidak perlu terus-menerus mengejar kebahagiaan berikutnya.

Memahami hedonic adaptation bisa membantu kita menyadari bahwa rasa bahagia memang akan datang dan pergi. Jadi daripada terus mengejar hal baru, cobalah lebih menghargai momen dan proses yang sedang kamu jalani.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article