Membaca buku sering dianggap sebagai salah satu cara untuk memperluas wawasan, melatih daya kritis, dan memahami berbagai sudut pandang. Namun, munculnya jasa joki baca buku menghadirkan pertanyaan baru tentang bagaimana aktivitas membaca dipahami dan dijalankan saat ini. Melalui jasa tersebut, seseorang dapat meminta orang lain membaca buku tertentu, biasanya untuk memperoleh ringkasan, catatan, atau pemahaman mengenai isinya tanpa harus menuntaskan bacaan sendiri.
Fenomena ini tidak serta-merta membuktikan bahwa budaya literasi sedang mengalami krisis. Ada berbagai alasan yang melatarbelakangi penggunaannya, mulai dari keterbatasan waktu hingga kebutuhan memperoleh informasi secara praktis. Meski begitu, keberadaan joki baca buku tetap menarik untuk dikaji, terutama ketika proses membaca semakin dipandang sebagai target produktivitas atau simbol intelektualitas. Lantas, dalam kondisi seperti apa fenomena ini dapat mencerminkan persoalan dalam budaya literasi? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!
