Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Membawa Tumbler Benar-Benar Berdampak pada Lingkungan?

Apakah Membawa Tumbler Benar-Benar Berdampak pada Lingkungan?
ilustrasi tumbler (pexels.com/bach hanzo)
  • Membawa tumbler dapat mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai jika digunakan berulang kali.

  • Dampak lingkungan tumbler bergantung pada bahan, proses produksi, frekuensi penggunaan, dan cara mencucinya.

  • Menggunakan tumbler selama bertahun-tahun dan tidak sering menggantinya dapat memperbesar manfaat lingkungannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sekarang, membawa tumbler atau botol minum yang bisa digunakan kembali sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Selain praktis karena tidak perlu membeli air minum kemasan setiap kali haus, membawa tumbler juga sering dianggap sebagai salah satu langkah sederhana untuk mengurangi sampah plastik. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya apakah membawa tumbler benar-benar berdampak pada lingkungan? Jawabannya, ya.

Meski demikian, tumbler baru memberikan manfaat lingkungan yang signifikan jika digunakan berulang kali dan dalam jangka panjang. Pasalnya, membuat satu botol minum reusable juga membutuhkan energi dan bahan baku yang lebih besar dibandingkan satu botol plastik sekali pakai. Lantas, berapa kali sebenarnya tumbler harus digunakan agar manfaatnya mulai terasa?

  1. 1. Dampaknya bergantung pada seberapa sering tumbler digunakan

    ilustrasi botol minum
    ilustrasi botol minum (unsplash.com/Rydale Clothing)

    Botol minum reusable yang terbuat dari stainless steel, kaca, aluminium, maupun plastik tahan lama membutuhkan lebih banyak energi dan material dalam proses produksi dibandingkan satu botol plastik PET sekali pakai. Artinya, penggunaan tumbler tidak otomatis membuat jejak lingkungan menjadi lebih kecil sejak hari pertama. Namun, perhitungannya berubah ketika tumbler digunakan berkali-kali. Jika satu tumbler dipakai setiap hari selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dampak dari proses produksinya akan terbagi ke dalam ratusan kali penggunaan.

    Sebaliknya, kebiasaan membeli air minum dalam kemasan membuat dampak lingkungan terus bertambah karena setiap botol membutuhkan energi untuk diproduksi dan didistribusikan. Setelah digunakan, botol tersebut juga perlu dikelola agar tidak berakhir menjadi sampah yang mencemari lingkungan. Karena itu, semakin sering tumbler digunakan dan diisi ulang, semakin besar pula manfaatnya bagi lingkungan.

  2. 2. Berapa kali tumbler harus dipakai agar lebih ramah lingkungan

    ilustrasi botol minum
    ilustrasi botol minum (unsplash.com/Bluewater Sweden)

    Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua jenis tumbler. Titik ketika penggunaan tumbler mulai lebih baik dibandingkan botol sekali pakai atau yang biasa disebut break-even point dipengaruhi oleh bahan, proses produksi, cara mencuci, hingga jenis botol sekali pakai yang dibandingkan. Sebagai gambaran, botol reusable berbahan plastik dapat mulai mengimbangi dampak botol PET sekali pakai setelah sekitar 10–30 kali penggunaan.

    Botol stainless steel tanpa insulasi dapat mencapai titik impas karbon setelah digunakan sekitar 10–30 kali. Sementara itu, tumbler stainless steel dengan lapisan insulasi ganda membutuhkan lebih banyak penggunaan untuk mencapai titik tersebut. Hal ini karena proses produksinya membutuhkan lebih banyak energi dan material sehingga jejak lingkungannya sejak awal juga lebih besar. Untuk aluminium, jumlah penggunaannya bisa jauh lebih tinggi. Diperkirakan bahwa botol aluminium perlu digunakan hingga ratusan kali agar manfaatnya dapat mengimbangi dampak produksinya.

  3. 3. Tumbler bisa mengurangi sampah plastik

    ilustrasi tumbler
    ilustrasi tumbler (unsplash.com/Battlecreek Coffee Roasters)

    Manfaat membawa tumbler bukan hanya soal emisi karbon. Penggunaan botol minum reusable juga dapat membantu mengurangi jumlah sampah plastik yang dihasilkan. Bayangkan jika seseorang membeli dua botol air minum kemasan setiap hari. Dalam 1 tahun, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 700 botol. Sebagian memang dapat didaur ulang, tetapi tidak semua botol bekas berhasil masuk ke sistem daur ulang. Ketika seseorang mengganti kebiasaan tersebut dengan membawa tumbler, jumlah botol sekali pakai yang dibutuhkan dapat berkurang secara signifikan.

  4. 4. Jenis bahan tumbler juga berpengaruh

    ilustrasi botol stainless steel
    ilustrasi botol stainless steel (unsplash.com/Bluewater Sweden)

    Tidak semua tumbler memiliki dampak lingkungan yang sama. Bahan pembuatnya juga perlu dipertimbangkan. Stainless steel dikenal karena daya tahannya yang tinggi sehingga dapat digunakan selama bertahun-tahun. Namun, tumbler stainless steel dengan teknologi insulasi biasanya membutuhkan lebih banyak material dan energi untuk diproduksi.

    Kaca juga dapat menjadi pilihan yang baik, terutama jika digunakan dalam sistem isi ulang atau pengembalian botol. Kekurangannya, kaca lebih berat dan memiliki risiko pecah yang lebih tinggi. Sementara itu, plastik reusable, seperti PP atau Tritan, umumnya memiliki jejak produksi yang lebih rendah dibandingkan beberapa material lainnya. Namun, daya tahan dan proses pengelolaan material tersebut setelah tidak digunakan lagi tetap perlu diperhatikan. Ada pula aluminium yang bisa menjadi pilihan menarik apabila tingkat daur ulangnya tinggi. Meski begitu, proses produksinya dapat memiliki dampak sumber daya yang cukup besar sehingga penggunaan berulang kali tetap menjadi kunci.

  5. 5. Cara membuat penggunaan tumbler lebih berdampak

    ilustrasi tumbler
    ilustrasi tumbler (pexels.com/bach hanzo)

    Kalau ingin kebiasaan membawa tumbler benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan, beberapa hal sederhana yang bisa kamu lakukan:

    • Pertama, gunakan tumbler sesering mungkin. Pastikan tumbler selalu ada di dalam tas dan dibawa ke mana pun.
    • Kedua, pilih air minum dari sumber yang aman, seperti air yang memang layak diminum. Dengan begitu, kamu juga mengurangi kebutuhan terhadap air minum dalam kemasan.
    • Ketiga, jangan terlalu sering mengganti tumbler. Tumbler yang digunakan selama bertahun-tahun umumnya memberikan manfaat lebih besar dibandingkan terus membeli model baru hanya karena desainnya sedang tren.
    • Terakhir, perhatikan cara mencucinya. Mencuci tumbler bersama peralatan makan lain dan menggunakan air dengan suhu yang wajar dapat membantu mengurangi dampak lingkungan dari proses pencucian.

    Jadi, membawa tumbler memang bukan solusi tunggal untuk mengatasi masalah lingkungan. Proses produksinya tetap membutuhkan energi dan bahan baku. Namun, ketika digunakan secara konsisten, kebiasaan sederhana ini dapat mengurangi kebutuhan terhadap botol plastik sekali pakai sekaligus menekan akumulasi sampah dan emisi karbon.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More