Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

⁠Kenapa Orang yang Jarang Update Medsos Terlihat Lebih Misterius?

4 min read
⁠Kenapa Orang yang Jarang Update Medsos Terlihat Lebih Misterius?
ilustrasi pria misterius (unsplash.com/sutrisno illahwi)
  • Orang yang jarang mengunggah kehidupan pribadi memberi lebih sedikit petunjuk tentang hobi, kebiasaan, dan aktivitasnya, sehingga orang lain lebih sulit mengenal atau menebak mereka.
  • Minimnya unggahan dapat mencerminkan pilihan menjaga privasi dan memisahkan kehidupan online dengan offline, bukan upaya sengaja membangun kesan misterius.
  • Informasi yang terbatas menciptakan celah antara hal yang diketahui dan ingin diketahui, sehingga rasa penasaran terhadap pemilik akun lebih mudah muncul.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Media sosial membuat kita terbiasa mengetahui bagian kecil dari kehidupan orang lain setiap hari. Mulai dari sarapan, outfit, tempat nongkrong, sampai hubungan percintaan bisa muncul di timeline tanpa diminta. Namun, ada juga orang yang hampir tidak pernah membagikan kehidupan pribadinya secara online. 

Ketika seseorang tidak banyak menunjukkan dirinya di media sosial, kita memiliki lebih sedikit petunjuk untuk memahami kehidupannya. Hal ini bisa membuat kita bertanya-tanya tentang apa yang mereka lakukan, pikirkan, atau sukai. Bisa jadi mereka memang lebih nyaman menjaga kehidupan pribadi atau hanya tidak merasa perlu membagikannya. Meski begitu, minimnya informasi tersebut justru dapat membuat rasa penasaran muncul.

  1. 1. Informasi tentang dirinya jadi terasa terbatas

    Ilustrasi posting kehidupan pribadi
    Ilustrasi posting kehidupan pribadi (pexels.com/cottonbro studio)

    Media sosial biasanya memberi kita banyak potongan informasi tentang seseorang. Dari unggahan mereka, kita bisa mengetahui hobi, teman dekat, tempat apa yang sering dikunjungi, bahkan kebiasaan sehari-hari. Ketika semua hal itu tidak terlihat, kita jadi punya lebih sedikit bahan untuk mengenal atau menebak kehidupan orang tersebut.

    Penelitian yang diterbitkan di Current Psychology membahas self-disclosure atau kecenderungan seseorang membagikan informasi tentang dirinya di media sosial, menemukan bahwa kekhawatiran terhadap privasi berkaitan dengan lebih sedikitnya informasi pribadi yang diungkapkan seseorang di media sosial. 

    Orang yang jarang update belum tentu sengaja ingin terlihat misterius. Bisa saja mereka memang lebih selektif dalam menentukan bagian hidup mana yang ingin dibagikan. Kesan misterius akhirnya muncul bukan karena mereka sedang membangun image tertentu, tetapi karena kita memang tidak punya banyak informasi tentang mereka.

  2. 2. Privasi membuat batas antara kehidupan online dan offline lebih jelas

    Ilustrasi privasi akun medsos
    Ilustrasi privasi akun medsos (pexels.com/Yan Krukau)

    Tidak semua orang menganggap media sosial sebagai tempat untuk membagikan kehidupan sehari-hari. Ada yang menggunakannya hanya untuk melihat konten, berkomunikasi dengan teman, atau mengikuti informasi tertentu saja. Bagi tipe orang seperti ini, kehidupan offline dan online memang sengaja dibuat punya batas.

    Dalam Psychology Today, profesor termuda di Wharton, Adam Grant, Ph.D., menjelaskan bahwa ada orang yang disebut segmentors, yaitu mereka yang lebih suka menjaga kehidupan pribadi dan kehidupan profesional tetap terpisah. Dalam penggunaan media sosial, kecenderungan ini bisa terlihat dari cara seseorang memilih akun, audiens, atau informasi yang ingin dibagikan. 

    Karena batas tersebut cukup jelas, kita akhirnya hanya melihat sebagian kecil dari diri mereka di media sosial. Kehidupan yang tidak muncul di timeline tetap berjalan seperti biasa, hanya saja tidak ikut dipertontonkan secara online. Dari sudut pandang orang lain, jarak ini bisa membuat mereka terasa lebih sulit ditebak.

  3. 3. Sedikit informasi memberi ruang untuk rasa penasaran

    Ilustrasi penasaran suatu hal
    Ilustrasi penasaran suatu hal (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Akun yang minim unggahan justru lebih mudah membuat orang penasaran. Ketika kita tidak mendapatkan gambaran lengkap tentang seseorang, masih ada bagian yang terasa belum diketahui. Otak manusia kemudian terdorong untuk mencari tahu bagian yang kosong tersebut.

    Dalam Psychology Today, Ilmuwan Senior di MacroCognition LLC, Gary Klein, Ph.D., menjelaskan bahwa “informasi yang hilang atau bahkan tidak dapat diakses” dapat menjadi salah satu pemicu rasa penasaran. Ia juga menjelaskan konsep information gap dari George Loewenstein, yaitu adanya jarak antara apa yang sudah kita ketahui dan apa yang ingin kita ketahui. 

    Hal ini bisa terjadi ketika kita melihat akun seseorang yang jarang update. Bukan berarti orang tersebut sengaja membuat dirinya sulit ditebak, tetapi unggahan yang minim membuat kita menyadari bahwa masih ada banyak hal tentang dirinya yang belum kita tahu. Dari celah kecil itulah rasa penasaran muncul.

    Jadi, orang yang jarang update media sosial belum tentu sedang berusaha terlihat misterius. Bisa jadi mereka memang lebih nyaman menjaga privasi, memilih berbagi secara terbatas, atau sekadar tidak menjadikan media sosial sebagai catatan harian.

    Namun, kebiasaan tersebut membuat orang lain memiliki lebih sedikit informasi tentang mereka. Ketika informasi yang tersedia sedikit, rasa penasaran pun lebih mudah muncul. Pada akhirnya, kesan misterius sering kali bukan sesuatu yang sengaja dibangun, tetapi muncul dari hal-hal yang tidak kita ketahui tentang seseorang.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More