ilustrasi antikritik (pexels.com/Polina Zimmerman)
Perbedaan antara antikritik dan tone deaf lebih mudah terlihat ketika keduanya mendapat penjelasan bahwa sikap mereka bermasalah. Orang yang antikritik cenderung berfokus pada pembelaan diri, sedangkan orang yang tone deaf mungkin awalnya bingung karena tidak menyadari mengapa perkataan atau tindakannya dianggap tidak pantas. Perbedaan ini tidak selalu mutlak, tetapi bisa menjadi petunjuk untuk memahami persoalan yang sedang terjadi.
Bayangkan seseorang melontarkan candaan tentang penampilan temannya, lalu temannya mengatakan bahwa candaan itu membuatnya tersinggung. Orang yang tone deaf mungkin menjawab, “Aku enggak tahu kalau kamu merasa begitu,” kemudian mulai memahami mengapa ucapannya menyakitkan. Sebaliknya, respons antikritik bisa berupa, “Kamu terlalu sensitif,” atau “Aku cuma bercanda, kenapa dibesar-besarkan?” Walau begitu, respons seseorang belum tentu menunjukkan apakah ia termasuk orang yang antikritik atau hanya kurang peka. Perhatikan bagaimana ia bersikap setelah mengetahui bahwa ucapannya menyakiti orang lain. Apakah ia mencoba memahami perasaan temannya, atau justru terus menyalahkan temannya karena dianggap terlalu sensitif?
Kedua sikap ini sama-sama bisa menimbulkan masalah dalam hubungan, tetapi ada bedanya orang yang antikritik dengan tone deaf. Orang antikritik cenderung kesulitan menerima masukan, sedangkan orang tone deaf kurang peka dalam membaca situasi atau memahami dampak perilakunya. Keduanya pun bisa muncul bersamaan pada orang yang sama, sehingga rasanya sulit untuk dibedakan.
Referensi
"An Off-Key Life: What Does Being Tone Deaf Mean?" Jacob Burton. Diakses pada Oktober 2026.
"What Is Anti-Criticism?" Poetry Foundation. Diakses pada Oktober 2026.