Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sejarah Bukan Cuma Hafalan, Begini Herald Menulis Buku Srivijaya
Book Launch dan Book Signing buku Srivijaya yang digelar di Periplus Setiabudi One, Jakarta, pada Kamis (24/9/2026). Dari kiri: Owner dari Periplus, Judo Suwidji, Nabila Dwiputri, Inisiator dari LiteraTOUR, Herald Van Der Linde, penulis buku Srivijaya (IDN Times/Maura Thirza)
  • Penulis Herald Van Der Linde menyusun buku tentang Sriwijaya dengan menjadikan prasasti, kondisi geografis, serta masukan arkeolog, sejarawan, dan masyarakat lokal sebagai fondasi narasi.
  • Ia memakai konteks sejarah untuk mengisi celah sumber, tetapi membedakan kemungkinan yang masuk akal dari fakta yang benar-benar diketahui, serta membatasi imajinasi tanpa dasar.
  • Menurut Herald, sejarah dapat dibaca sebagai kisah manusia yang relevan, termasuk pertanyaan tentang konflik dan kecenderungan manusia mengulangi kesalahan masa lalu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Membaca sejarah tidak selalu harus terasa seperti menghafalkan nama-nama raja, tahun, ataupun rangkaian peristiwa. Dalam acara Book Launch dan Book Signing buku Srivijaya yang digelar di Periplus Setiabudi One, Jakarta, pada Kamis (24/9/2026), penulis Herald Van Der Linde atau dikenal dengan panggilan Mas Heru, membagikan prosesnya menulis buku tentang Sriwijaya, kerajaan maritim yang hingga kini masih memiliki banyak bagian sejarah yang belum diketahui secara pasti.

Keterbatasan sumber membuat Herald tidak bisa begitu saja mengisi kekosongan sejarah dengan imajinasi. Ia menggunakan prasasti, kondisi geografis, serta informasi dari arkeolog, sejarawan, dan masyarakat lokal untuk membangun narasi yang tetap masuk akal. Dengan cara tersebut, kisah Sriwijaya bisa dibaca sebagai cerita yang mudah diikuti tanpa mengabaikan fakta sejarah yang ada.

1. Fakta menjadi titik awal cerita

Nabila Dwiputri, Inisiator dari LiteraTOUR sekaligus moderator acara Book Lauch 'Srivijaya' dengan Penulis buku 'Srivijaya', Herald Van Der Linder berdiskusi soal bagaimana mengembangkan narasi dari fakta sejarah (IDN Times/Maura Thirza)

Ketika sumber sejarah tidak memberikan gambaran lengkap, penulis memang memiliki ruang untuk membangun narasi. Namun, bagi Herald, fakta tetap menjadi dasar sebelum cerita dikembangkan. Ia mencontohkan kisah tentang kedatangan orang dari Palembang ke Jambi yang tercatat dalam prasasti. Informasi tersebut menjadi fakta yang kemudian ia coba pahami dengan melihat kondisi wilayah pada masa itu.

“So, sebenarnya banyak fakta yang ada, yang kita bisa gunakan untuk bikin ceritanya. Nah, setelah itu, kita harus membayangkan bagaimana. Kita bicara dengan arkeolog, sejarawan, dengan orang lokal, sering kita dapat informasi banyak. Dan kita bisa menggunakan itu untuk bikin cerita,” ujar Herald.

2. Konteks membantu mengisi bagian yang kosong

Herald Van Der Linde, penulis buku Srivijaya, menjelaskan tentang proses kepenulisan dari buku Srivijaya (IDN Times/Maura Thirza)

Informasi yang diperoleh tentang sejarah tersebut kemudian digunakan Herald untuk membangun kemungkinan mengenai strategi perjalanan pasukan. Ia tidak menyebutnya sebagai fakta baru, melainkan sebuah cerita yang menurutnya masuk akal berdasarkan kondisi yang ada. Fakta yang ditemukan dipadukan dengan informasi tambahan dari orang-orang yang memahami konteks sejarah dan lokasi.

“So, banyak yang saya tulis ada fakta di belakangnya. Walaupun kadang-kadang kecil, misalnya orang bilang, itu ada di buku Majapahit, dia makan rawon. Itu ditulis bahwa rawon dulu dimasak oleh Majapahit di salah satu prasasti-prasasti Kakawin, ya,” ungkap dia.

3. Imajinasi tetap digunakan, tetapi ada batas

Herald Van Der Linde, penulis buku 'Srivijaya', tetap menggunakan imajinasi dalam kepenulisan bukunya, tetapi tetap ada batas (IDN Times/Maura Thirza)

Setelah memiliki fakta dan konteks, imajinasi digunakan untuk membangun detail cerita yang tidak tercatat secara langsung. Namun, Herald tetap membedakan antara sesuatu yang mungkin terjadi dan sesuatu yang benar-benar diketahui.

“Tapi, kadang-kadang ya, kalau saya bilang, misalnya satu raja, dia jalan keluar, eh lagi hujan, di tahun 670 saya tidak tahu itu hujan. Akan tetapi, pasti ada hujan dulu. So, boleh dianggap juga ya, ada juga hal-hal dari imajinasi saya sendiri,” jelas Herald.

Batas tersebut menjadi penting ketika sebuah detail tidak memiliki dasar. Herald bahkan menyebut keinginan memasukkan unsur sihir, tetapi memilih tidak menggunakannya karena tidak ada fakta yang mendukung.

4. Sejarah juga membawa pertanyaan yang masih relevan

Buku 'Srivijaya' karya Herald Van Der Linde (IDN Times/Maura Thirza)

Bagi Herald, sejarah bukan hanya tentang mengetahui apa yang terjadi di masa lalu. Ia juga dapat menunjukkan pertanyaan manusia yang ternyata masih muncul hingga sekarang. Ia mencontohkan kisah Pramodhawardhani, Rakai Pikatan, dan Balaputra yang berkaitan dengan konflik pada masa itu. Salah satu bagian yang menarik perhatiannya adalah pesan dalam Prasasti Plaosan mengenai pentingnya mengingat Buddha dan sejarah.

“Dan ada satu inskripsi, itu kalau gak salah inskripsi Plaosan. Di paling belakangnya, saya merasa itu ditulis oleh Pramodhawardhani. Dia tiba-tiba menyelesaikan ceritanya dengan, ‘Kita harus ingat Buddha karena kita semua, orang selalu melupakan sejarah’,” jelasnya.

Menurut Herald, manusia mungkin sudah mempertanyakan alasan di balik konflik sejak berabad-abad lalu. Namun, tetap saja yang terjadi manusia mengulangi kesalahan serupa.

Dari pembahasan tersebut, sejarah Sriwijaya tidak hanya menjadi kumpulan fakta yang harus dihafalkan. Ada proses membaca sumber, memahami konteks, dan menggunakan imajinasi dengan batas yang jelas. Karenanya, pembaca bisa mengikuti kisah masa lalu sebagai cerita manusia, sekaligus tetap membedakan mana yang diketahui dan mana yang masih berupa kemungkinan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article