ilustrasi membaca berita buruk (pexels.com/Ron Lach)
Pada kenyataannya, dunia memang tidak selalu memberikan kabar baik. Konflik, bencana, kriminalitas, dan berbagai persoalan sosial akan tetap menjadi bagian dari kehidupan. Karena itu, menghindari seluruh berita buruk mungkin bukan jawaban.
Namun, membiarkan diri terus-menerus terpapar kabar negatif juga bukan satu-satunya cara untuk menjadi orang yang peduli terhadap keadaan sekitar. Kita bisa tetap mengikuti berita sambil menetapkan batas. Sebab, menjadi orang yang terinformasi tidak sama dengan menjadi orang yang terus-menerus terpapar informasi.
Memahami bahwa berita buruk terus datang adalah bagian dari memahami dunia. Namun, mengetahui kapan harus berhenti membaca juga merupakan bagian dari menjaga diri. Jadi, kalau ada berita buruk, apakah kamu menerimanya atau mengabaikannya?
Referensi
Hwang J, Borah P, Shah D, Brauer M. The Relationship among COVID-19 Information Seeking, News Media Use, and Emotional Distress at the Onset of the Pandemic. Int J Environ Res Public Health 2021. Diakses September 2026.
Nguyen A, Glück A, Jackson D. The up-down-up pandemic news experience: A mixed-method approach to its negative and positive effects on psychological wellbeing. Journalism (Lond) 2022. Diakses September 2026.
McLaughlin B, Gotlieb MR, Mills DJ. Caught in a Dangerous World: Problematic News Consumption and Its Relationship to Mental and Physical Ill-Being. Health Commun 2023. Diakses September 2026.
Overview and key findings of the 2026 Digital News Report. Reuters Institute. Diakses September 2026.
Walking the notification tightrope: How to engage audiences while avoiding overload. Reuters Institute. Diakses September 2026.