"Soft parenting ibarat gentle parenting yang diperkuat berkali-kali lipat, di mana fokus pada empati bisa berubah menjadi sikap yang terlalu permisif sehingga batasan menjadi tidak jelas dan disiplin mulai dikesampingkan," jelas Vega.
Soft Parenting dan Gentle Parenting Gak Sama, Ini Perbedaan Utamanya!

- Soft parenting menekankan empati dan kenyamanan emosional anak, tetapi dapat membuat batasan serta disiplin kurang tegas jika diterapkan secara permisif.
- Praktiknya cenderung menghindari kata “tidak”, memenuhi permintaan anak demi mencegah konflik, dan melonggarkan aturan maupun rutinitas keluarga.
- Gentle parenting memadukan empati dengan aturan, konsekuensi, dan bimbingan konsisten; unsur soft parenting seperti validasi emosi dapat diterapkan tanpa mengabaikan batasan sehat.
Belakangan ini, semakin banyak gaya pengasuhan yang diperkenalkan kepada orangtua. Setelah gentle parenting ramai diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir, kini muncul istilah soft parenting yang mulai menarik perhatian di media sosial dan berbagai forum parenting.
Sekilas soft parenting dan gentle parenting memang tampak serupa, karena sama-sama mengutamakan empati dalam pengasuhan. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar, terutama dalam penerapan batasan dan disiplin pada anak. Lantas, apa yang membedakan keduanya? Simak penjelasannya berikut ini.
1. Soft parenting lebih mengutamakan empati dan kenyamanan emosional anak

Soft parenting berangkat dari prinsip gentle parenting, seperti empati dan validasi emosi anak. Namun, pendekatan ini lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan emosional anak sehingga batasan dan disiplin dapat menjadi kurang tegas. Dikutip dari Parents, Ana Vega, pakar mindful parenting dan interpersonal mindfulness, menyebut soft parenting sebagai versi gentle parenting yang lebih menekankan empati.
Dalam upaya menciptakan suasana yang damai, orangtua yang menerapkan soft parenting cenderung jarang menghukum anak dan lebih sering memenuhi keinginannya. Padahal, terlalu mengutamakan kenyamanan emosional anak juga berisiko membuat mereka kesulitan belajar mengelola diri dan memahami batasan yang sehat.
2. Orangtua yang menerapkan soft parenting cenderung menghindari kata "tidak"

Ada beberapa perilaku yang umum ditemukan dalam soft parenting. Orangtua cenderung lebih sering menanyakan apa yang ingin dilakukan anak dibanding langsung memberikan arahan. Mereka juga lebih jarang mengatakan "tidak" untuk menghindari pertengkaran atau tantrum.
Selain itu, soft parenting mendorong orangtua untuk selalu berempati terhadap perasaan anak, bahkan ketika perilakunya sudah melewati batas. Akibatnya, perasaan anak sering kali lebih diprioritaskan sehingga aturan dan rutinitas dalam keluarga menjadi lebih longgar. Beberapa contoh penerapan soft parenting, antara lain:
- Menanyakan kepada anak apa yang ingin ia lakukan, alih-alih memberitahunya aktivitas yang harus dilakukan berikutnya.
- Jarang mengatakan "tidak" dan lebih sering memenuhi permintaan anak untuk menghindari konflik atau tantrum.
- Berempati kepada anak dalam semua situasi, termasuk ketika perilakunya sudah tidak tepat.
- Mengutamakan perasaan anak dibanding mempertahankan batasan yang sehat.
- Mengurangi penerapan struktur dan rutinitas demi mengikuti keinginan anak.
3. Perbedaan terbesar dengan gentle parenting terletak pada batasan yang diterapkan

Menurut Carolina Estevez, Psy.D., seorang psikolog klinis, dikutip dari Parents, baik soft parenting maupun gentle parenting sama-sama menekankan hubungan emosional dan rasa hormat terhadap anak. Namun, perbedaan utamanya terletak pada cara orangtua menerapkan batasan.
"Meskipun soft parenting dan gentle parenting sama-sama menekankan hubungan emosional dan rasa hormat, perbedaan utamanya terletak pada cara menetapkan batasan," jelas Dr. Carolina Estevez.
Gentle parenting menggabungkan empati dengan aturan yang jelas, penguatan perilaku positif, serta bimbingan yang konsisten agar anak belajar berperilaku sesuai dengan nilai yang dianut keluarganya. Sementara itu, soft parenting lebih berfokus pada keinginan dan emosi anak sehingga terkadang mengorbankan konsistensi aturan yang telah dibuat.
Dikutip dari laman yang sama, Asha Dore, ahli patologi wicara dan bahasa, menjelaskan bahwa gentle parenting membantu anak memahami kesulitannya tanpa rasa malu atau takut dihukum. Sebaliknya, soft parenting lebih mengutamakan negosiasi dan pemenuhan kebutuhan emosional anak dibanding menetapkan batasan yang tegas.
4. Soft parenting bisa dipadukan dengan gentle parenting

Tidak semua prinsip soft parenting perlu dihindari. Beberapa pendekatannya justru dapat dipadukan dengan gentle parenting, seperti memvalidasi emosi anak, menjadikan kesalahan sebagai momen belajar, serta menerapkan rutinitas yang konsisten dalam keseharian.
Orangtua juga dapat memberi ruang bagi anak untuk mengambil keputusan sederhana sambil tetap menerapkan batasan dan konsekuensi yang sesuai dengan usianya. Selain itu, menjadi teladan dalam mengelola emosi penting dilakukan karena anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari cara orangtuanya menghadapi berbagai situasi.
Tidak ada gaya pengasuhan yang sempurna untuk setiap keluarga. Memadukan empati dalam soft parenting dengan batasan yang konsisten ala gentle parenting dapat membantu anak tumbuh dengan rasa aman, mandiri, dan bertanggung jawab.





















