Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Buku Bekas Punya Daya Tarik yang Tidak Dimiliki Buku Baru?

Benarkah Buku Bekas Punya Daya Tarik yang Tidak Dimiliki Buku Baru?
ilustrasi bookthrifiting (pexels.com/Stanislav Kondratiev)
  • Bookthrifting menawarkan kejutan karena rak yang terus berubah, memungkinkan pembaca menemukan judul tak terduga, termasuk buku lama yang masuk wishlist.

  • Buku bekas diburu bukan hanya karena murah, tetapi juga karena edisi lama memiliki sampul, kertas, ukuran, dan desain yang sudah tidak tersedia.

  • Harga terjangkau membuat pembaca lebih berani mencoba genre baru, sementara pencarian judul langka memberi sensasi tersendiri saat buku akhirnya ditemukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada kepuasan tersendiri saat menemukan buku bekas yang sudah lama dicari, apalagi kalau kondisinya masih bagus dan harganya jauh lebih murah. Pengalaman bookthrifting juga tidak pernah benar-benar bisa ditebak karena isi raknya berubah-ubah dan sering kali justru menemukan buku di luar daftar incaran.

Buku bekas pun punya hal-hal kecil yang membuatnya terasa berbeda dari buku baru yang baru keluar dari toko. Lantas, apa yang sebenarnya membuat orang betah berburu buku bekas?

  1. 1. Serunya justru saat tidak tahu akan menemukan apa

    ilustrasi coretan di buku
    ilustrasi coretan di buku (pexels.com/Yosef Futsum)

    Kalau membeli buku baru, biasanya kita sudah tahu mau membeli apa. Tinggal mencari judulnya, melihat harga, lalu membayar. Berburu buku bekas beda cerita karena satu rak bisa berisi macam-macam judul, termasuk buku yang bahkan tidak pernah terpikir untuk dicari. Di sinilah serunya bookthrifting.

    Awalnya mungkin datang dengan niat mencari satu novel, tetapi pulangnya malah membawa buku resep lama, kumpulan cerpen, novel terbitan tahun 1990-an, atau buku yang sampulnya menarik perhatian dari jauh. Rasanya seperti menemukan barang bagus secara tidak sengaja. Buat sebagian orang, bagian paling menyenangkan memang bukan saat membaca bukunya, melainkan ketika menemukan buku tersebut. Membongkar tumpukan, melihat satu per satu sampul, membuka halaman awal untuk mengecek tahun terbit, lalu tiba-tiba menemukan judul yang sudah lama masuk wishlist bisa memberikan kepuasan yang tidak didapat ketika belanja buku secara biasa.

  2. 2. Edisi lama bisa punya sampul yang lebih menarik

    ilustrasi buku self-help
    ilustrasi buku self-help (unsplash.com/Aleksander Vlad)

    Ada buku yang justru lebih dicari dalam kondisi bekas karena edisi lamanya punya sampul yang sudah tidak dipakai lagi. Penerbit bisa mengganti desain ketika mencetak ulang, sementara versi lama sudah tidak muncul di toko buku. Akhirnya, orang yang menyukai tampilan edisi tertentu harus berburu ke toko buku bekas atau lapak kolektor. Bukan cuma soal sampul, kertas dan bentuk bukunya pun bisa berbeda. Novel lama kadang punya ukuran yang lebih kecil, kertas yang agak kekuningan, atau desain halaman yang sekarang sudah jarang digunakan.

    Bagi pembaca yang suka mengoleksi buku, detail seperti ini justru menjadi daya tarik. Makanya, ada orang yang membeli buku bekas bukan karena harganya murah, tetapi memang sengaja mencari edisi tertentu. Bisa karena sampulnya lebih bagus, penerbitnya sudah tidak mencetak versi tersebut, atau buku itu mengingatkan pada masa ketika pertama kali membacanya. Buku baru mungkin lebih bersih, tetapi belum tentu punya tampilan yang dicari.

  3. 3. Harga lebih bersahabat untuk mencoba buku di luar selera

    ilustrasi uang
    ilustrasi uang (unsplash.com/naufal jajuli)

    Salah satu keuntungan bookthrifting yang paling terasa adalah harganya. Ketika sebuah buku dijual dengan harga lebih murah, kita jadi lebih berani mengambil judul yang sebenarnya belum yakin akan disukai. Kalau ternyata bagus, bisa menemukan bacaan baru; kalau ternyata tidak cocok, setidaknya tidak mengeluarkan uang sebanyak ketika membeli edisi baru. Misalnya, biasanya hanya membaca novel misteri, tetapi menemukan buku esai, biografi, atau kumpulan cerita pendek dengan harga belasan ribu rupiah.

    Ada kemungkinan kita melewatinya kalau harganya sama dengan buku baru. Namun, ketika harganya jauh lebih terjangkau, rasa penasaran bisa menang. Dari sinilah rak buku bekas sering menghasilkan bacaan yang tidak direncanakan. Kita tidak selalu pulang membawa buku yang sudah dicari sejak awal, tetapi justru membawa judul yang ditemukan secara kebetulan dan ternyata menarik setelah dibaca.

  4. 4. Ada sensasi mendapatkan buku yang sudah lama dicari

    ilustrasi buku bekas
    ilustrasi buku bekas (pexels.com/Denniz Futalan)

    Pencarian buku bekas bisa menjadi menarik ketika ada satu judul tertentu yang sudah lama ingin dimiliki. Buku tersebut mungkin sudah tidak dicetak, sulit ditemukan di toko biasa, atau hanya tersedia dalam edisi tertentu. Setiap kali melihat lapak buku bekas, mata otomatis mencari judul tersebut di antara ratusan buku lain.

    Begitu akhirnya ketemu, rasanya tentu berbeda dengan mengklik tombol beli pada toko daring. Ada proses mencari, membandingkan kondisi, melihat harga, lalu memutuskan apakah buku tersebut layak dibawa pulang. Kalau kondisinya bagus dan harganya sesuai, penemuannya terasa seperti keberuntungan kecil.

    Itulah salah satu alasan bookthrifting tetap menarik meskipun sekarang hampir semua buku bisa dicari melalui internet. Buku baru memberikan kemudahan karena kita bisa langsung mendapatkan judul yang diinginkan, sedangkan buku bekas menawarkan kemungkinan menemukan sesuatu yang bahkan tidak sedang dicari. Jadi, daya tarik buku bekas bukan semata-mata karena harganya lebih murah, melainkan karena setiap buku bisa datang dengan edisi, kondisi, dan cerita kecil yang berbeda.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More