Hidup layak bukanlah seberapa banyak uang yang dimiliki, melainkan sejauh mana seseorang mampu memenuhi kebutuhan dasar tanpa perlu mengorbankan hal penting lain. Realitanya, harga berbagai kebutuhan masih menjadi beban bagi segelintir masyarakat. Mulai dari pembalut sebagai bagian dari sanitasi, hingga buku untuk memenuhi pengetahuan. Ketika kebutuhan sulit dijangkau karena beragam keterbatasan, apakah setiap orang benar-benar memiliki kesempatan untuk hidup layak?
Ketika seseorang harus memilih antara membeli buku atau memenuhi kebutuhan rumah tangga, maupun menghemat demi bisa beli pembalut, maka persoalan ini belum sepenuhnya menemukan jalan keluar. Lebih jauh, kondisi ini memperlihatkan bagaimana keterbatasan ekonomi dapat membatasi hak seseorang untuk belajar, menjaga kesehatan, dan menjalani kehidupan dengan bermartabat