"Terlalu sering membandingkan diri secara negatif dapat membuat seseorang merasa dirinya gak cukup baik," Julie Radico, Psy.D., ABPP, psikolog klinis bersertifikat, dilansir Psychology Today.
Mengapa Kita Sering Membandingkan Pencapaian Diri dengan Orang Lain?

- Membandingkan pencapaian dengan orang lain dapat mengubah rasa bangga menjadi ragu dan membuat seseorang merasa tidak cukup baik, meski sebenarnya sedang berkembang.
- Media sosial sering menampilkan kabar baik dan pencapaian, sehingga orang membandingkan keseharian penuh tantangan dengan potongan hidup orang lain yang terlihat sempurna.
- Setiap orang memiliki waktu, kesempatan, dan proses berbeda; fokus pada perkembangan diri serta menghargai kemajuan kecil membantu menjadikan pencapaian orang lain sebagai inspirasi.
Malam itu, kamu sedang rebahan sambil scroll Instagram. Awalnya cuma ingin melihat unggahan teman, sampai akhirnya kamu menemukan kabar seseorang yang baru saja mendapat pekerjaan impian, teman lama yang melanjutkan kuliah ke luar negeri, atau kenalan yang sudah berhasil mencapai sesuatu yang selama ini kamu inginkan. Kamu ikut senang melihatnya, tetapi beberapa detik kemudian muncul pertanyaan dalam kepala, “Kok dia udah sampai sana, ya? Aku masih di sini-sini aja”.
Padahal, sebelumnya kamu merasa baik-baik saja dengan pencapaianmu sendiri. Namun melihat perjalanan orang lain terkadang membuat semuanya terasa berbeda. Hal yang tadinya patut disyukuri mendadak terlihat biasa saja. Kalau kamu pernah merasakan hal serupa, kamu gak sendirian.
Membandingkan diri dengan orang lain merupakan bagian dari cara manusia mengevaluasi dirinya. Namun, mengapa kebiasaan ini bisa membuat kita merasa tertinggal, bahkan ketika sebenarnya kita juga sedang berkembang?
1. Saat pencapaian orang lain menjadi tolok ukur diri sendiri

Ilustrasi perempuan (magnific.com/jcomp) Kamu baru saja menyelesaikan satu target yang cukup sulit. Rasanya lega karena akhirnya berhasil melewatinya. Namun ketika melihat teman sebaya sudah mencapai sesuatu yang lebih besar, rasa bangga itu perlahan berubah menjadi keraguan. Kamu mulai mempertanyakan apakah usahamu sudah cukup, apakah kamu bergerak terlalu lambat, atau apakah seharusnya kamu bisa mencapai lebih banyak dalam waktu yang sama.
Salah satu cara menghadapinya adalah mengalihkan perhatian pada perkembangan diri sendiri, termasuk melihat sejauh mana kita sudah bertumbuh dibandingkan dengan diri kita di masa lalu. Dengan begitu, keberhasilan orang lain gak harus menjadi alasan untuk meragukan pencapaian sendiri.
2. Media sosial membuat kita merasa tertinggal

Ilustrasi perempuan (magnific.com/jcomp) Pernah gak kamu membuka media sosial hanya selama lima menit, tetapi menutupnya dengan perasaan gak puas terhadap diri sendiri? Ada teman yang baru diterima kerja, seseorang yang mengunggah sertifikat baru, lalu orang lain yang terlihat menikmati hidup dengan pencapaian mengesankan. Tanpa sadar, kamu mulai menghitung hal-hal yang belum dimiliki, sementara kemajuan sendiri justru terlupakan. Rasanya seperti semua orang sedang bergerak maju, sedangkan kamu masih berusaha mencari arah.
"Perbandingan sosial gak selalu objektif karena didasarkan pada apa yang terlihat dan cerita yang kita bangun sendiri,"Dimitrios Tsatiris, M.D., psikiater bersertifikat dan dosen klinis psikiatri di Northeast Ohio Medical University, dilansir Psychology Today.
Kita melihat kabar baik yang mereka bagikan, tetapi gak selalu mengetahui kegagalan, tekanan, atau proses panjang di baliknya. Akibatnya, kita membandingkan kehidupan sehari-hari yang penuh tantangan dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna.
3. Belajar mengukur kemajuan dengan cara sendiri

Ilustrasi bekerja (magnific.com/pressfoto) Melihat orang lain mencapai sesuatu yang kita inginkan memang bisa memunculkan rasa iri atau tertinggal. Namun pencapaian mereka seharusnya bisa menjadi inspirasi, bukan alasan untuk meragukan kemampuan diri sendiri. Setiap orang punya waktu, kesempatan, dan proses yang berbeda, jadi gak adil kalau kita terus membandingkan perjalanan mereka dengan perjalanan kita.
Daripada sibuk melihat sejauh apa orang lain melangkah, cobalah fokus pada perkembangan diri sendiri. Hargai setiap kemajuan kecil dan ingat bahwa proses yang berjalan lambat bukan berarti kamu gagal.
Tanpa sadar, kita bisa terlalu sibuk melihat pencapaian orang lain sampai lupa bahwa diri sendiri juga sedang berproses. Gak apa-apa kalau langkahmu belum sejauh mereka, karena setiap orang punya perjalanan dan waktunya masing-masing. Yang terpenting, kamu tetap bergerak maju tanpa harus merasa tertinggal hanya karena orang lain sudah lebih dulu sampai.























