Artie Ahmad, penulis buk Nyai Sadikem. (dok.Artie Ahmad)
Nyai Sadikem bukanlah buku pertama Artie. Sebelumnya, ia aktif menulis karya fiksi yang mengangkat isu perempuan dan menyoroti persoalan sosial yang dihadapi dari generasi ke generasi. Sejak novel Sunyi di Dada Sumirah terbit pada tahun 2018, Artie mengaku kian intens mengangkat problematika, sudut pandang, dan keresahan perempuan.
"Karena saya pikir isu-isu mengenai perempuan itu bukan hanya sekadar relate, tetapi ada sesuatu yang seolah-olah ini rantai yang terus terjalin. Nah, di Nyai Sadikem pun, kemudian saya membawakan spirit tentang merawat kehidupan yang sebenarnya. Spirit bertahan, bagaimana si tokoh ini struggling, si tokoh yang sebenarnya menginginkan mati, tetapi kemudian dia menolak. Bukan menolak mati, tetapi dia kemudian lebih memilih bertahan untuk tetap hidup. Spirit untuk merawat kehidupan, kemudian spirit untuk bertahan dan merawat," ujarnya.
Artie mengaku novel-novelnya yang lain seperti Persekutuan Perempuan-Perempuan Lajang juga menghadirkan pesan untuk merawat dan saling berbagi kehidupan. Semangat yang sama turut dihadirkan dalam Nyai Sadikem. Melalui tokoh utamanya, Artie ingin menyampaikan bahwa perempuan memiliki daya dan kekuatan untuk bertahan, bangkit, hingga semangat tetap menjalani kehidupan dengan tegar di tengah berbagai tantangan.
Artie menyampaikan pesan yang hendak disuarakan dalam karya terbarunya, "Menjadi seorang perempuan bisa hidup dengan berdikari, kemudian bisa memiliki kesempatan-kesempatan yang dianggap sudah nyaris mati. Yaitu dia, saya memiliki semacam pemikiran bahwa apa yang kita posisikan sebagai perempuan adalah ya perempuan itu bisa apa saja."
Meski berlatar masa lampau, konflik sosial yang diangkat dalam novel Nyai Sadikem tetap relevan dengan kondisi saat ini. Melalui kisahnya, Artie memotret berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga hingga kekerasan yang terus berulang dalam kehidupan sosial.
Lewat narasi yang menyoroti tokoh dengan latar profesi yang berkaitan dengan seksualitas, Artie juga ingin membangun kesadaran bahwa perempuan yang berada dalam situasi tersebut, tidak selalu hidup dalam kemerdekaan atau kebahagiaan. Sebaliknya, mereka kerap mengalami keterkungkungan dan kehilangan kebebasan atas hidupnya.
"Saya melihat bahwa perempuan ini sangat dekat dengan stigma. Secara lingkungan saya, secara umum atau secara global, kita tuh perempuan, saya lihat masih begitu lekat dengan stigma-stigma yang ada. Misalnya permasalahan bagaimana kemudian perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap, perempuan hanya memiliki sekadar porsi minor di dalam banyak hal. Semacam itu," ujarnya.
Menurut Artie, perempuan memiliki perspektif yang berbeda ketika menulis pengalaman tentang dirinya sendiri atau sesama perempuan. Sebab, perempuan dianggap lebih memahami dinamika yang terjadi secara langsung. Karena itu, narasi tentang tokoh perempuan yang ditulis oleh perempuan sering kali menghadirkan sudut pandang yang lebih dekat dengan realitas pengalaman mereka.
"Nah, untuk kemerdekaan perempuan, tentang keleluasaan bagaimana perempuan lepas dari stigma, itu memang saya rasa tetap harus dibicarakan. Harus tetap dibicarakan, harus dituliskan untuk masyarakat luas. Entah itu dengan, oleh penulis perempuan ataupun penulis laki-laki," Artie membagikan pandangannya terkait mengapa perempuan menulis tentang perempuan.