Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Memuliakan yang Tak Terlihat, Kisah Haru Nenah di Sekolah Rakyat

Memuliakan yang Tak Terlihat, Kisah Haru Nenah di Sekolah Rakyat
Nenah (13) siswi disabilitas SRMP 10 Bogor. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Kisah Nenah, siswi 13 tahun dengan disabilitas intelektual di Sekolah Rakyat 10 Bogor, menunjukkan perjuangan luar biasa belajar mandiri dari hal-hal dasar hingga mengenal huruf.
  • Sekolah Rakyat memberi pendampingan intensif bagi Nenah dan ratusan siswa disabilitas lain, menegaskan pentingnya pendidikan inklusif serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
  • Pemerintah dan lembaga seperti KND menyoroti perlunya asesmen spesifik serta pendekatan personal agar Sekolah Rakyat benar-benar menjadi ruang aman dan ramah bagi semua anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Bagi banyak anak usia 13 tahun, sekolah adalah tempat belajar. Namun bagi Nenah, sekolah adalah tempat untuk hidup dan meraih mimpi dibalik keterbatasannya.

Di Sekolah Rakyat 10 Bogor (SRMP 10 Bogor), gadis berkerudung putih itu tidak memulai hari dengan menghafal pelajaran. Ia memulai dari hal yang jauh lebih mendasar: belajar mandi sendiri, belajar menggunakan toilet, dan belajar memahami batas antara miliknya dan milik orang lain.

Hal-hal kecil yang sering dianggap sepele itu, bagi Nenah yang merupakan penyandang disabilitas mental adalah kemenangan. Di sinilah, Sekolah Rakyat menjelma menjadi sesuatu yang lebih dari sekolah rumah kedua bagi Nenah.

Saat IDN Times menyambangi ruangan Kepala Sekolah pada Jumat (12/6/2026), sayup terdengar nyanyian dari mulut kecil Nenah.

“Kaulah ibuku, cinta kasihku, terima kasihku tak kan terganti...Terima kasihku takkan pernah terhenti..." ucapnya yang diakhiri senyuman manis.

Di samping kanan kiri Nenah, mata Kepala Sekolah Fitri Puspitasari dan Wali Kelas Nenah sekaligus guru kelas, Nurlaila, tampak berkaca-kaca dan bertepuk tangan.

1. Secara fisik terlihat sebagai anak remaja, tapi secara mental masih balita

Guru Nenah di kelas VII, Nurlaila (jilbab biru) berbincang dengan Nenah di SRMP 10 Bogor.
Guru Nenah di kelas VII, Nurlaila (jilbab biru) berbincang dengan Nenah di SRMP 10 Bogor. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Saat murid lain berlomba memahami rumus dan bacaan, sisi lain Nenah masih berjuang menaklukkan satu paragraf. Namun di Sekolah Rakyat, satu paragraf baginya merupakan perjuangan Nenah selama satu tahun.

Fitri menceritakan, Sekolah Rakyat 10 Bogor sebenarnya nyaris memulai tahun ajaran tanpa Nenah. Fitri mengatakan, pada 14 Juli 2025, hari pertama sekolah, kuota 100 murid yang ditargetkan belum terpenuhi. Dari seluruh calon siswa, hanya 97 yang melakukan daftar ulang. Pihak sekolah pun kembali mencari tiga murid tambahan untuk melengkapi kuota.

"Ketika 14 Juli itu hari pertama sekolah di SR, harusnya 100 murid kami, tapi yang daftar ulang cuma 97. Akhirnya dicari lah murid baru, dilengkapi. Nah, dia itu datang kurang lebih seminggu setelah 14 Juli. Seminggu diantar ada tiga orang, yang satu laki-laki, dua perempuan," ucap Fitri.

Fitri mengatakan, memang sekilas kedatangan Nenah tampak seperti upaya memenuhi satu kursi yang masih kosong. Namun tak ada yang menyangka, murid terakhir yang datang itu justru menjadi salah satu anak dengan kebutuhan pendampingan paling besar.

Saat itu, kondisi Nenah belum sepenuhnya terinformasikan kepada pihak sekolah. Ia datang dengan ijazah sekolah dasar seperti murid lainnya. Secara fisik pun, gadis berusia 13 tahun itu tampak seperti remaja seusianya.

"Yang satu orang ini (Nenah) disabilitas intelektual. Awalnya tidak terinfokan ke kami karena melihat pendamping PKH dan orang tuanya ke sini. Memang saya waktu itu nggak ketemu, karena pas lagi masih banyak tamu, pejabat-pejabat yang datang. Jadi yang menerima pegawai sentra sama wali asuh yang disini, sama guru," katanya.

Hari-hari pertama Nenah di SRMP 10 Bogor menjadi momen ketika para guru mulai menyadari bahwa gadis 13 tahun itu membutuhkan pendampingan yang jauh berbeda dari murid lain. Saat itu muncul tanda yang membuat guru terkejut.

"Hari kedua atau ketiga dia disini, ada sebuah case yang dia tuh pup sembarangan gitu ya. Kita tuh tegur gini, kenapa nggak di kloset pupnya, tapi itu pegang pupnya pakai tangan, dipegang, dibuang ke kloset gitu. Kita kan kaget, oh ada yang salah nih," ungkap Fitri.

Nenah belum memahami kebiasaan dasar yang bagi kebanyakan orang terasa otomatis, termasuk soal kebersihan diri dan penggunaan toilet. Dari situ, sekolah kemudian meminta asesmen psikolog. Hasilnya mengejutkan. Secara fisik, Nenah berusia 13 tahun. Namun usia mentalnya baru sekitar 4 tahun 4 bulan.

"Kami kemudian case conference apa yang harus kami lakukan gitu kan. Katanya harus dikasih pendampingan individu, belajarnya, iya dia belum bisa baca ya, terus akhirnya kami cobalah dampingi secara individu," katanya.

2. Nenah disabilitas mental yang alami kekerasan dalam rumah berdinding triplek

Sekolah Rakyat 10 Bogor (SRMP 10 Bogor).
Sekolah Rakyat 10 Bogor (SRMP 10 Bogor). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Sejak saat itu, Sekolah Rakyat mulai memberikan pendampingan intensif bagi Nenah. Ia menjalani berbagai treatment, termasuk terapi okupasi untuk melatih activity daily living (ADL) atau kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Dari hal-hal mendasar seperti merawat diri, menggunakan toilet dengan benar, hingga memahami kebiasaan sederhana seperti menyiram toilet setelah buang air, semua diajarkan setahap demi setahap.

Perkembangan Nenah mulai terlihat, meski prosesnya masih panjang. Ia menunjukkan peningkatan, tetapi masih kerap mengalami kesulitan, termasuk kebiasaan mengompol.

Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri di asrama putri yang dihuni 20 hingga 24 anak dalam satu barak. Kebiasaan mengompol dan ledakan emosi Nenah sesekali mengganggu kenyamanan murid lain. Atas saran psikolog, sekolah kemudian mengambil langkah khusus dengan menempatkan Nenah di kamar terpisah yang sebelumnya digunakan wali asuh.

"Dia kita pisahin ya kamarnya. Tapi ternyata dia senang, malah happy. Kata psikolog, selama ini kan dia nggak punya kepemilikan atas dia. Terus, sebagai saran juga kayak sabun-sabunan, itu dia beda dengan temannya. Kita belikan khusus yang buat anak-anak yang warnanya ngejreng-ngejreng. Karena supaya jiwa anak-anaknya terpenuhi," katanya.

Kondisi Nenah tak bisa dilepaskan dari latar keluarganya. Sejak bayi, ia tumbuh dalam himpitan kemiskinan ekstrem. Menurut Fitri, Nenah bahkan sudah mengalami kurang gizi sejak usia delapan bulan.

Ayah Nenah bekerja serabutan dengan penghasilan sekitar Rp600 ribu per bulan untuk menghidupi tiga anak. Nenah adalah anak kedua. Kakaknya tumbuh tanpa hambatan perkembangan yang berarti karena lebih banyak diasuh sang nenek, sementara adik Nenah disebut memiliki kondisi yang mirip dengannya.

Situasi di rumah semakin berat karena ibu Nenah juga diduga memiliki disabilitas intelektual. Hal itu membuat komunikasi sering tidak berjalan nyambung dan pengasuhan sehari-hari menjadi sangat terbatas. Tidak hanya itu, Nenah kerap mengalami kekerasan dalam keluarga dan lingkungan.

"Kita datang ke keluarganya. Ternyata ibunya sama kayak anak ini. Selain itu, rumahnya dari triplek dengan ukuran 9 meter persegi, berdiri di tanah orang lain, jadi nggak bisa dibetulin. Mereka tidak punya kamar mandi, jadi 9 meter persegi semua serba di situ. Jadi kalau mandi nyebur ke sungai," katanya.

3. Kesabaran guru dan teman sekelas Nenah

Nenah (kanan) sata bersama dengan teman satu kelas di SRMP 10 Bogor,Jumat (12/6/2026)/ IDN Times Dini
Nenah (kanan) saat bersama dengan teman satu kelas di SRMP 10 Bogor,Jumat (12/6/2026)/ IDN Times Dini

Sementara Wali Kelas sekaligus Guru Nenah di kelas VII, Nurlaila, mengakui teman sekelas Nenah merasa iri dengan perlakuan khusus yang diberikan sekolah, namun lambat laun mereka menyadari dan menerima Nenah meski berbeda.

"Kalau bully tidak, temannya bahkan membantu Nenah di kelas, sebaliknya kadang Nenah yang bully karena kadang emosi meledak-ledak, tapi sejauh ini teman-temanya memahami dan menerima Nenah," katanya.

Laila dan Nenah kemudian mengajak IDN Times melihat ruang kelas saat jam istirahat. Sejumlah siswa menyapa ramah, termasuk sahabat Nenah di kelas, Arsya (13). Dengan sabar, Arsya membantu Nenah mengambil alat tulis, mendampingi saat menulis, bahkan membantunya mengeja huruf demi huruf.

Sambil mengamati Nenah menulis, Laila mengakui proses mendampingi Nenah jauh berbeda dibanding murid lainnya. Saat pertama masuk Sekolah Rakyat, Nenah bahkan belum mengenal huruf sama sekali. Mengenalkan alfabet dari awal pun bukan perkara mudah karena Nenah kerap lupa, bahkan setelah berulang kali diajarkan

Karena itu, mendampingi Nenah menuntut kesabaran ekstra. Menurut Laila, arahan sederhana pun harus diulang berkali-kali, mulai dari belajar membaca hingga mengingatkan Nenah untuk tidak jahil atau mengganggu teman-temannya.

"Jadi memang membutuhkan kesabaran mendampingi Nenah belajar, dulu enggak kenal huruf, kadang suka lupa juga. Selain itu harus sering kasih tahu jangan bandel, jangan jahil terus sama temannya," ucap Laila.

4. Sebanyak 143 siswa penyandang disabilitas belajar di Sekolah Rakyat

Potret siswa difabel di Sekolah Rakyat (IDN Times/Mardya Shakti)
Infografik siswa difabel di Sekolah Rakyat (IDN Times/Mardya Shakti)

Nenah bukan satu-satunya anak berkebutuhan khusus di Sekolah Rakyat. Berdasarkan identifikasi awal Kementerian Sosial yang disampaikan dalam forum Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), terdapat 143 siswa penyandang disabilitas di Sekolah Rakyat secara nasional, terdiri dari 6 siswa tingkat SD, 66 siswa SMP, dan 71 siswa SMA. Mayoritas merupakan anak dengan disabilitas intelektual yang membutuhkan pendekatan pembelajaran dan pendampingan khusus.

Kerentanan mereka juga tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidup sebelum masuk sekolah. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 Kemen PPPA mencatat 83,85 persen anak penyandang disabilitas pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Titi Eko Rahayu menegaskan, penguatan perlindungan anak penyandang disabilitas semakin mendesak diterapkan di Sekolah Rakyat

Titi menegaskan, keberhasilan Sekolah Rakyat tak cukup diukur dari akses pendidikan, tetapi juga kemampuan sekolah memberi perlindungan dan pendampingan bagi anak disabilitas intelektual.

"Anak penyandang disabilitas sangat rentan menjadi korban kekerasan, diskriminasi, penelantaran, dan tidak hanya itu, anak penyandang disabilitas juga memiliki keterbatasan akses layanan pendidikan dan pendampingan," ucapnya.

5. Sekolah Rakyat melihat potensi anak sekecil apapun

Sekolah Rakyat 10 Bogor (SRMP 10 Bogor).
Sekolah Rakyat 10 Bogor (SRMP 10 Bogor). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Sementara Komisi Nasional Disabilitas (KND) menyoroti belum adanya asesmen disabilitas yang spesifik dalam pelaksanaan awal program Sekolah Rakyat. Kondisi ini menjadi tantangan untuk memastikan layanan pendidikan yang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus, terutama mereka yang memiliki hambatan nonfisik seperti slow learner, ADHD, hingga disabilitas mental.

Komisioner KND, Jonna Aman Damanik mengatakan, dari hasil pemantauan hingga April 2026, KND menemukan adanya siswa yang terindikasi memiliki disabilitas, baik yang tampak secara fisik maupun yang tidak terlihat secara kasatmata.

“Kami temukan di setiap titik penyelenggaraan Sekolah Rakyat ada anak-anak yang terindikasi sebagai penyandang disabilitas, baik yang kasat mata maupun tidak kasat mata,” ujarnya saat dihubungi IDN Times.

Menurutnya, sejumlah kondisi seperti slow learner, ADHD, dan hambatan mental kerap luput dari identifikasi awal karena tidak terlihat secara langsung. Karena itu, KND mendorong adanya pendekatan yang lebih personal dalam penanganan siswa.

Jonna menegaskan, Sekolah Rakyat seharusnya tidak hanya menilai anak berdasarkan hambatan yang dimiliki, melainkan juga potensi mereka.

“Satu prinsip dari Sekolah Rakyat adalah multi-entry, multi-exit. Artinya, tidak hanya melihat hambatan anak, tetapi sekecil apa pun potensi yang dimiliki harus tetap dilihat,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, KND menyusun peta jalan penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang inklusif dan ramah disabilitas.

“Kami membuat evaluasi yang akan kami diseminasikan untuk sebuah road map penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang inklusif dan ramah disabilitas,” katanya.

6. Sekolah Rakyat dirancang sebagai ruang belajar yang inklusif bagi seluruh siswa

Infografik Sekolah Rakyat (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
Infografik Sekolah Rakyat (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan, Sekolah Rakyat dirancang sebagai ruang belajar yang inklusif bagi seluruh siswa, termasuk anak penyandang disabilitas. Menurutnya, tidak boleh ada pembedaan perlakuan dalam proses pembelajaran.

Ia mengatakan, siswa penyandang disabilitas tetap belajar bersama siswa lainnya dalam ekosistem yang sama agar tumbuh rasa saling memahami dan menghargai perbedaan. Pendekatan inklusif ini dinilai penting agar anak-anak tidak merasa terisolasi dari lingkungan sosialnya.

“Dan di sini gabung. Jadi satu, inklusif, tidak dibeda-bedakan, tetap diberi pembelajaran secara bersama-sama,” tegas Gus Ipul.

Mensos juga menekankan, Sekolah Rakyat harus menjadi ruang yang aman dari segala bentuk kekerasan, termasuk perundungan terhadap anak berkebutuhan khusus.

“Tidak boleh ada intoleransi, tidak boleh ada kekerasan fisik dan seksual. Dan juga tidak boleh ada perundungan atau bullying,” tambahnya.

7. Sekolah Rakyat laboratorium edukasi

IMG-20250809-WA0005.jpg
Menteri Sosial Syaifullah Yusuf, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat M Nuh di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SMRA) 10 Jakarta Selatan (IDN Times/Aryodamar)

Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, Muhammad Nuh, menilai anak-anak di Sekolah Rakyat tidak bisa diukur dengan standar pendidikan tunggal seperti sekolah konvensional. Menurutnya, keberhasilan pendidikan harus dilihat dari perubahan yang dialami setiap siswa sejak pertama kali masuk.

“Pendekatannya adalah pendekatan delta atau pendekatan perubahan. Perubahannya semakin positif, ada. Berapa pun perubahannya, itu kita hargai bagi para guru maupun para kepala sekolah,” kata Nuh kepada IDN Times.

Nuh menjelaskan, setiap anak memiliki kekhususan atau talenta yang berbeda, sehingga tidak bisa dinilai dengan parameter yang sama.

“Artinya, ada anak-anak yang memang talentanya itu untuk terbang. Tapi ada anak-anak yang talentanya itu untuk angkut. Sehingga nggak bisa menggunakan single standard itu, nggak bisa,” ucapnya.

Dalam aspek inklusivitas, ia menegaskan, setiap anak termasuk anak berkebutuhan khusus, berhak mendapatkan akses pendidikan.

“Saya sangat setuju. Siapa pun anak Indonesia yang waktunya sekolah, ya sekolah. Negara yang harus menyiapkan sekolahnya,” ujarnya.

Menurut Nuh, tantangan terbesar Sekolah Rakyat adalah mengelola keberagaman ekstrem dari para siswanya.

“Sekolah Rakyat ini bukan sekadar sekolah biasa, tapi laboratorium edukasi yang luar biasa,” katanya.

Sementara di penghujung kunjungan IDN Times, suara Nenah kembali terdengar pelan dari sudut ruangan.

“Kaulah ibuku, cinta kasihku…”

Lagu itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Nenah, nyanyian itu seperti penanda perjalanan panjangnya. Di tempat yang dulu hanya menyisakan keterbatasan, ia kini menemukan ruang aman untuk belajar, tumbuh, dan merasa dicintai.

Sekolah Rakyat, bagi Nenah, bukan sekadar tempat belajar. Untuk pertama kalinya, itu adalah rumah.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah

Related Articles

See More