5 Cara Bangun Self-Respect Tanpa Bebani Diri Sendiri, Segera Terapkan!

- Komitmen untuk menyelesaikan tiap self-promises yang kamu buat
- Track tiap komitmen yang kamu buat dengan dirimu
- Praktikkan self-compassion ketika kamu gagal
Selain self-love, kamu juga harus punya rasa hormat dan respek ke diri sendiri. Bohong bila seseorang mengatakan ia cinta dirinya, tapi diam saja saat boundary yang ia punya dilanggar orang. Kalau kamu saja gak respek dengan dirimu, bagaimana kamu berekspetasi orang lain akan menghargaimu?
Kelihatannya simpel, tapi bila terus dibiarkan, kondisi ini bisa memicu banyak relasi toksik. Kamu akan kesulitan untuk mengomunikasikan kebutuhan, keinginan, termasuk batasanmu dalam relasi.
Sebelum terlambat, yuk mulai bangun kebiasaan menghormati diri sendiri. Ini bsia kamu lakukan pelan-pelan, tanpa harus membebani diri sendiri.
1. Komitmen untuk menyelesaikan tiap self-promises yang kamu buat

Self-promises atau janji yang kamu buat dengan dirimu bisa melatihmu untuk menjadi pribadi yang taat, disiplin, dan komitmen ke diri sendiri. Gak ada yang lihat memang, tapi coba jadikan integritas sebagai dasar penting dalam hidupmu. Dengan demikian, kamu akan lebih memfilter tiap ucapan maupun perlakuan orang padamu.
Misal, kamu sudah menetapkan untuk family time sore ini. Lalu, ada teman yang tiba-tiba mengajak hangout. Gak apa-apa, lho, untuk berkata “tidak” dan berdiri teguh mempertahankan prinsip serta keinginanmu. Secara gak langsung, kamu sudah menghormati keputusanmu sendiri.
2. Track tiap komitmen yang kamu buat dengan dirimu

Ada kalanya kita gagal mempertahankan komitmen dengan diri sendiri. Alih-alih menghakimi diri macam-macam, coba deh tuangkan perasaanmu dalam sebuah jurnal. Jadikan jurnal tersebut sebagai tracker atau alat pelacak komitmen yang kamu buat dengan dirimu.
Kamu jadi bisa mengukur seberapa kuat disiplinmu selama ini, kemudian menjadikan itu dasar evaluasi dan refleksi diri. Gak ada yang bisa langsung hebat dalam semalam, termasuk dalam mempraktikkan rasa respek ke diri sendiri. Tiap kita butuh untuk tumbuh dalam proses dan disiplin.
3. Praktikkan self-compassion ketika kamu gagal

Gagal bisa berarti banyak hal: gagal mendapat yang kamu mau, gagal memenuhi ekspetasi diri sendiri, gagal dalam ujian, atau gagal dalam hal lain. Apa pun itu, caramu menghadapi kegagalan dapat berpengaruh pada caramu memandang diri sendiri.
Orang yang sulit memaafkan dirinya saat gagal, cenderung sulit menerapkan self-respect. Kamu menaruh ekspetasi besar dengan tidak mengizinkan diri sendiri untuk gagal. Sama saja kamu tidak menghargai perjalanan dan prosesmu.
4. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Salah satu alasan banyak orang kehilangan self-respect karena ia sering membandingkan diri dengan orang lain. Kamu menganggap orang lain lebih baik dan bertalenta dibanding dirimu. Sama saja kamu gak cukup menghargai kelebihan yang kamu miliki.
Tiap orang punya prosesnya sendiri-sendiri. Dengan membandingkan, kamu sedang merendahkan dirimu dari orang-orang sekitarmu. Ini yang akhir memicu perasaan rendah diri, gak berharga, dan sulit untuk percaya diri.
5. Jadikan self-respect sebagai kebiasaan, bukan tujuan akhir

Layaknya perlu latihan untuk membangun massa otot, kamu gak bisa langsung semerta-merta jadi berani dan bisa membela diri. Membangun self-respect pun adalah sebuah proses yang harus terus dilatih.
Dengan menerapkan komitmen kecil tapi berulang, kamu sedang memperluas kapasitasmu untuk bersikap asertif dan berani. Lambat laun, kamu pun akan terbiasa bergaul dengan orang lain tanpa harus merendahkan diri sendiri.
Membangun rasa respect ke diri sendiri bukan berarti bersikap galak, seenaknya sendiri, atau egois. Ini soal belajar untuk menegakkan prinsip ke orang lain, dan tahu kapan harus merespons dengan asertif.



















